Gaung Republik Kopi Bondowoso, di Antara Tape Manis & Jejak Artefak

0
109
Biji kopi Arabika dari Bondowoso merambah ke mancanegara. Ikon Republik Kopi Bodowoso kini melekat ke seantero dunia.

Nusantara.News, Bondowoso – Beberapa dekade lalu, menyebut nama Kabupaten Bondowoso bagi orang di luar Jawa Timur, masih terdengar asing dan dianggap sebagai kawasan antah berantah. Mungkin, hanya tragedi Gerbong Maut di masa perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan jadi satu-satunya jejak resmi melalui buku sejarah. Di luar itu, legitnya tape manis jadi ikon daerah.

Peta wilayah Bondowoso

Namun akhir-akhir ini, geliat kemajuan pembangunan mulai menyentuh satu-satunya kota di kawasan sub kultur pendalungan yang tidak memiliki garis pantai ini. Selain menyuguhkan tape manis, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso juga bergairah memunculkan potensi kekayaan kandungan alamnya.

Terakhir, Bupati Amin Said Husni bahkan menggaungkan “Republik Kopi” hingga jauh ke Rusia. Mantan anggota Fraksi-PKB di DPR RI tersebut, ketika menghadiri pembukaan Pacific International Forum Expo (PITE) 2017 dan jadi pembicara dalam Far Eastern Rusia-Indonesia Forum (FERIF), 19-21 Mei 2017, menyuguhkan potensi agribisnis unggulan Bondowoso.  Salah satunya kopi Arabika jenis Jawa Ijen Raung.

llustrasi: istimewa

“Kami berharap ada bisnis yang saling menguntungkan dari kerjasama yang terjalin. Apalagi varietas kopi Arabika ini sudah diekspor ke sejumlah negara. Masyarakat Bondowoso pasti ikut merasakan dampaknya, terutama dari peningkatan kesejahteraan. Apalagi semua pelaku perkopian di Bondowoso rata-rata petani yang hampir seluruh produksinya untuk diekspor,” terangnya ketika melakukan petik kopi bersama 22 orang delegasi Specialiy Coffee Association Europe (SCAE) di Desa Sukorejo, Sumber Wringin, Sabtu (15/7/2017).

Bupati yang diusung koalisi 8 partai (PKB, PPP, PKS, PAN, Gerindra, Golkar, Demokrat dan aliansi partai nonparlemen) pada Pilkada 2013 tersebut, memang punya pekerjaan rumah sebelum menanggalkan amanah yang diberikan 764.200 warganya (BPS 2016). Sebab, kepemimpinan Amin Said selama 2 periode dinilai banyak pihak cukup efektif mengurangi angka kemiskinan.

Namun patut diingat, bahwa Bondowoso masih punya potensi lain yang butuh tangan dingin untuk menyulapnya jadi kelebihan. Sebab, di banding 3 kabupaten yang mengepung wilayah geografisnya, Bondowoso tidak dilalui infrastruktur utama. Letaknya yang menjorok jauh ke dalam, membuat luput dari akses Tol Trans Jawa maupun Jalur Lintas Selatan (JLS).

Kondisi ini jelas sangat tidak menguntungkan dilihat dari sisi investasi. Namun kekurangan itu tidak seharusnya jadi penyebab stake holder Bondowoso berpangku tangan. Apalagi di daerah yang selalu memperingati hari jadi bertepatan dengan tanggal sakral Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni setiap 17 Agustus ini, angka kemiskinan cukup tinggi.

Tiga Sektor Penggerak Ekonomi

Data terbaru, menyebutkan ada 15 persen atau sekitar 114.630 warganya masih dibelit kemiskinan. Di bandingkan kondisi tiga daerah yang berbatasan langsung dengan Bondowoso, Yakni Jember di selatan-barat, Banyuwangi di timur mungkin hanya Situbondo di sisi utara yang nyaris menghadapi permasalahan serupa. Pendidikan merupakan salah satu faktor pemicu yang dominan. Sebab, 52,39 persen warganya hanya tamatan SD.

Tak heran, korelasi ini mencetak angka pengangguran cukup tinggi. Yakni sekitar 40,12 persen dari total usia produktif. Rendahnya pendidikan juga berimbas pada serapan tenaga kerja. Pekerja sektor informal masih mendominasi di Bondowoso. Hanya 7.84 persen warga yang masuk usia produktif bekerja di sektor formal.

“Karena itu, fokus saya pada 2017 adalah pengembangan ekonomi kerakyatan dan tentu akselerasi untuk keluar dari ketertinggalan di 2018 mendatang. Targetnya, bisa turunkan angka kemiskinan ke angka 13 persen dari posisi saat ini di kisaran 14 persen,” katanya.

Tiga sektor pengembangan sudah dicanangkan melalui program terpadu. Yakni pertanian, perkebunan dan pariwisata sebagai penggerak perekonomian utama Bondowoso. “Tentu kita akan kerja sama dengan semua sektor untuk mengembangkan tiga sektor ini, sehingga terasa dampaknya kepada masyarakat,” ujarnya.

Pembangunan irigasi-pedesaan di Bondowoso menggunakan dana desa. Foto: kemenkeu.

Data BPS, 90 persen lebih lahan di Bondowoso masih dimanfaatkan untuk sektor pertanian. Hal ini menjadikan Kabupaten Bondowoso menuai predikat sebagai lumbung pangan nasional karena produksi berasnya yang selalu surplus sepanjang tahun. Bahkan sejak 2008, sudah mulai dikembangkan pertanian organik. Namun baru tahun ini, beras organik bisa di ekspor.

Jangan Sampai Bahan Baku Ikon Diimpor

Lalu bagaimana dengan nasib tape manis yang sejak lama jadi ikon Bondowoso? Tentu sangat disayangkan jika kuliner eksotik ini terkubur dalam cerita karena bahan bakunya, singkong mulai menghilang dari pasaran. Sebab, secara psikologis petani atau pemilik lahan singkong yang sebelumnya mengandalkan hasil panennya, memilih ganti komoditas melihat keuntungan lebih di depan mata dari jenis lain. Semisal kopi atau holtikultura lainnya.

Tape Bakar Khas Bondowoso.

Jangan sampai nasib tape manis Bondowoso mengikuti jejak garam rakyat. Hanya karena dalih diguncang anomali musim, garam lokal perlahan menghilang dan diikuti dengan lonjakan harga yang tak sempat terpikirkan sebelumnya. Padahal jika dirunut, menghilangnya garam lokal juga imbas dari perubahan peruntukan lahan dan dipersulit masuk ranah industri yang lebih akrab dengan produk impor.

Indikasi ini harus segera dipikirkan Pemkab Bondowoso. Sebab, singkong yang melimpah ruah bisa lenyap karena kesalahan memprediksi. Padahal, sumbangan singkong Bondowoso cukup signifikan membawa Jawa Timur di peringkat kedua produk nasional di bawah Lampung, dengan kapasitas produksi mencapai 3,161 juta ton pada 2016.

Ketua Asosiasi Perajin Tape dan Petani Singkong Kabupaten Bondowoso, Mulyadi sempat mengeluhkan anjloknya harga di pasaran beberapa waktu lalu. Selain dipengaruhi lesunya pemasaran tape (dari 2 ton menjadi 800 kg), juga akibat tidak bisa diserap dalam produk olahan lain akibat minimnya kemampuan. “Triwulan pertama 2017, harga singkong di pasaran hanya sebesar Rp130 per kilonya. Ini tentu tak sebanding dengan ongkos produksi sehingga banyak petani yang memilih tidak memanen bulan-bulan ini,” bebernya.

Tape Bondowoso terkenal manis. Dengan warna dan teksturnya seperti ini, ada yang mengadakan “ini tape jenis canggih”.

Setidaknya, di Bondowoso ada sekitar 200 hektar lahan kering yang ditanami singkong. Per hektarnya, ongkos yang dikeluarkan petani mencapai Rp3,5 juta untuk satu kali masa panen. “Anjloknya harga sudah terjadi 2 tahun terakhir. Kita tidak punya pilihan selain menanam singkong, apalagi produsen tape kan beli singkong ke kita, kalau kita tidak tanam singkong, mereka pasti kebingungan mau beli singkong,” imbuhnya.

Kebingungan itu bisa jadi celah singkong impor masuk ke Bondowoso. Hal ini yang harusnya dihindari agar ketahanan pangan lokal tidak terganggu. Cukuplah mahalnya cabai, garam dan beberapa produk lain yang dulu sempat melimpah dan murah, menjadi pelajaran berharga pemerintah. Setidaknya, gairah UMKM tape manis Bondowoso tetap terjaga mutu dan kuantitasnya.

Seperti yang diharapkan Adi Krisna, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bondowoso. “Pemerintah harus hadir untuk membantu petani singkong agar terampil dalam mengolah makanan berbahan dasar singkong, sehingga ketika harga singkong terpuruk, petani bisa mengalihkan pada jenis produksi lainnya,” paparnya.

Pemerintah daerah yang harus berperan aktif untuk mengatasi anjloknya harga singkong, tidak hanya Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, namun juga Dinas Pertanian harus ikut terlibat di dalamnya. “Ini tidak hanya ‘gawe’nya Diskoperindag, tetapi juga dinas pertanian yang harus mulai mencarikan bibit unggul agar singkong petani tahan terhadap cuaca,” pungkasnya.

Menyimpan Warisan Dunia

GOA BUTO SEGEMBER, Jejak Peradaban Hindu dI Bondowoso.

Selain pertanian, Bondowoso ternyata juga menyimpan potensi pariwisata yang sangat aduhai. Bentang alam pegunungan yang mengelilingi, menyajikan aneka bentuk wisata alam yang tak cukup dijelajahi dalam waktu singkat. Namun bukan itu yang jadi sorotan. Di Bondowoso terdapat sejumlah situs megalitik, tepatnya 12 situs yang berisi jejak artefak peninggalan zaman purba serupa stonehenge di Inggris.

Beberapa yang kasat mata bisa dilihat berbentuk dolmen, punden berundak, menhir, sarkofagus, kubur batu, batu kenong, pelinggih dan stunchambers (batu ruang). Selain itu masih juga ada Goa Buto, Ekopak, Abris Saus Roche dan Area Batu yang menunggu untuk dijadikan wisata edukasi. Artefak ini menjadi bukti bahwa Bondowoso di masa lalu sudah menjadi hunian manusia prasejarah.

Hingga kini, teori awal Bondowoso berdasarkan literatur sejarah tulis memang baru terungkap sedikit. Bahkan bisa disebut menjadi salah satu daerah yang terakhir dibuka untuk pemukiman. Yakni pada 1789 Masehi ketika penguasa Besuki, Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo memerintahkan putra angkatnya Mas Astrotruno membuka hutan di tenggara yang kelak jadi cikal pusat Bondowoso lama.

Hal ini yang menjadi dasar suku Madura menjadi mayoritas di Bondowoso diikuti Jawa dan etnis lainnya yang menyusul belakangan. Namun melihat jejak kuno yang terungkap saat ini, bisa jadi Bondowoso merupakan salah satu kawasan pemukiman nenek moyang suku Jawa. Teori ini disampaikan Dr Sukatman pakar folklore (tradisi lisan) dari universitas Jember.

Di Bondowoso banyak sekali situs purbakala. Jika ada peninggalan benda purbakala, berarti wilayah Bondowoso sudah eksis sejak zaman sebelum Masehi. Sarkofagus yang ada bisa jadi merupakan bentuk gorong-gorong sistem drainase purba. Ini yang merujuk bahwa masyarakat Bondowoso di zaman purba merupakan bangsa yang akrab dengan sungai,” sebutnya.

Terlepas dari kebenaran itu, misteri ini harusnya jadi tantangan bagi generasi muda Bondowoso. Paling tidak, kendati secara akademik mereka mayoritas hanya menempuh pendidikan sekolah dasar, namun jika didukung pemahaman lebih akan akar sejarah dapat menjadi nilai plus. Termasuk kemungkinan menjadi guide untuk wisatawan lokal maupun asing.

Kunjungan wisatawan ini ujung-ujungnya dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Tren peningkatan bahkan sudah terjadi sejak 2014. Terutama wisatawan mancanegara yang meningkat cukup drastis sebesar 73,81 persen. Pengaruh ini yang bisa jadi  harapan di tengah kondisi perekonomian global serta keinginan untuk sejahtera kendati pemerintah pusat terkesan masih menganggap sebelah mata Bondowoso.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here