Gawat, Kesenjangan Sosial di Indonesia Semakin Parah

0
1949
Ksenjangan sosial di Indonesia sudah pada tahap yang sangat mencemaskan

Nusantara.news, Jakarta – Pemerintah membanggakan turunnya angka kesenjangan sosial dari Gini Ratio 0,4028 pada Maret 2015 menjadi 0,397 pada Maret 2016.

Artinya, kalau sebelumnya kategori kesenjangan sosial yang diwariskan pemerintahan SBY mencapai 0,414 pada Maret 2014, dalam kategori sedang, maka dalam 2 tahun pemerintahan Jokowi kembali dalam kategori rendah.

gini

Namun Faisal Basri mengkritisi pencapaian itu.

“Tahukah saudara, indeks  gini hanya mengukur pengeluaran dari masing-masing orang. Kalau soal pengeluaran, saya sama Pak Chaerul Tanjung kan beda-beda tipis. Beliau makan tiga kali sehari, saya juga,” ungkap Faisal Basri dalam diskusi 17 Tahun Indemo 43 tahun Peristiwa Malari, di Balai Kartini, Minggu (15/01/2017.

Dalam catatannya di blog miliknya, penurunan Gini Ratio itu, mengutip data BPS, dipengaruhi oleh kenaikan upah buruh tani dan buruh harian, kenaikan jumlah pekerja bebas di sektor pertanian dan non pertanian, serta kenaikan pengeluaran pemerintah khususnya infrastruktur padat karya, bantuan sosial dan perbaikan pendapatan pegawai negeri sipil golongan bawah.

“Dua faktor pertama sangat rentan, sewaktu-waktu mudah turun kembali karena kelompok buruh harian tidak memiliki kepastian pendapatan,” terang Faisal.

Kedua, meskipun gini ratio di perdesaan relatif jauh lebih rendah dari perkotaan (0,327 versus 0,410), penurunan gini ratio di perdesaan relatif lebih lambat dibandingkan penurunan di perkotaan. Kenyataan ini memperkokoh konstatasi rentannya faktor pertama.

Ketiga, lanjut Faisal, gini ratio di Indonesia dihitung berdasarkan data konsumsi per kapita, sehingga tidak mencerminkan ketimpangan pendapatan dan ketimpangan kekayaan.

Sekaya-kayanya seseorang tentu memiliki keterbatasan untuk menikmati hidup dari kekayaannya yang melimpah: makan tiga kali sehari, tidak bisa menimati lebih dari satu mobil dan rumah pada waktu yang sama, dan keterbatasan waktu untuk pesiar ke seantero dunia. “Berbeda dengan pendapatan dan kekayaan yang bisa ditumpuk sampai tujuh turunan,” sindir Faisal.

Keempat, tren jangka panjang dengan menggunakan data tahunan (rerata Maret dan September sejak 2011) menunjukkan peningkatan ketimpangan yang cukup tajam.

Maka, meskipun secara indeks membaik, tapi Faisal sepakat dengan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa penurunan Gini Ratio belum terlalu memuaskan. Selain itu, bila diukur sejak awal reformasi trend ketimpangannya justru semakin memburuk.

gini1964-2016

Belum lagi bila ukurannya konsentrasi kekayaan versi Bank Dunia justru menunjukkan kondisi ketimpangan yang amat parah. Indonesia menduduki peringkat ketiga terparah setelah Rusia dan Thailand. Satu persen rumah tangga Indonesia menguasai 50,3 persen kekayaan nasional.

Semakin parah jika melihat penguasaan 10 persen terkaya yang menguasai 77 persen kekayaan nasional. Jadi 90 persen penduduk sisanya hanya menikmati tidak sampai seperempat kekayaan nasional.

inequality

Lebih ironis lagi, sekitar dua pertiga kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa. Crony-capitalism index Indonesia menduduki peringkat ketujuh.

Pantas saja para saudagar kian banyak yang menyemut ke dalam kekuasaan dan menguasai pucuk pimpinan partai politik. Karena dengan begitu kenikmatan berbisnisnya terlindungi. Sektor-sektor kroni pada umumnya bersandar pada fasilitas dan konsesi dari penguasa. Banyak dari mereka tidak siap bersaing secara sehat.

crony

Oleh karenanya Faisal Basri mengajak semua komponen bangsa menyikapi trend kesenjangan sosial yang semakin menggila ini. Kepemimpinan yang kuat dan tahu persoalan sudah harus segera menjadi solusi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here