Gawat, Penderita Campak di Eropa Kembali Melonjak

0
87
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Setelah tahun 2016 berhasil menekan jumlah penderita Campak, tahun 2017 lalu kasus campak kembali melonjak di benua biru, Eropa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) mencatat tahun 2017 penderita campak di seluruh Eropa mencapai 20 ribu jiwa – atau meningkat hampir 4 kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 5.273. Tercatat pula 35 balita meninggal dunia akibat campak.

Tercatat 15 negara di Eropa terserang wabah itu – tertinggi Rumania dan disusul Italia dan Ukraina. Jerman dan Inggris yang terhitung negara makmur juga termasuk tinggi jumlah penderitanya. Sejumlah masyarakat dari negara-negara yang terinfeksi campak diduga menghindar dari vaksinasi karena percaya adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme. Padahal WHO sejak 20 tahun lalu menyatakan tidak ada kaitan itu.

Pentingnya Imunisasi

Penyakit campak disebabkan oleh virus Paramikso yang menular dari percikan air ludah penderita campak – lewat hidung, mulut maupun tenggorokan. Campak juga acap disebut rubeola atau measles. Di beberapa daerah di Indonesia sering juga disebut tampek. Apabila tidak cepat mendapatkan penanganan, campak bisa berakibat kematian.

Sebelum ada vaksinasi wabah campak acap menyerang balita setiap 2 hingga 3 tahun. Penghindaran dari vaksinasi – dengan berbagai alasan – dan tidak tersedianya vaksin dan sarana diduga menjadi penyebab utama melonjaknya penderita campak di Eropa. Di samping itu, persoalan ekonomi – kenaikan suku bunga perbankan di sejumlah negara Eropa – juga turut berkontribusi terhadap berkembangnya virus ini.

 

WHO menemukan fakta telah terjadi penurunan cakupan imunisasi rutin secara keseluruhan – serta cakupan yang rendah di antara beberapa kelompok terpinggirkan – dan gangguan dalam persediaan vaksin atau sistem pendeteksian penyakit yang berkinerja buruk.

“Setiap orang baru yang terkena dampak campak di Eropa mengingatkan kita bahwa anak-anak dan orang dewasa  yang tidak divaksinasi – terlepas tempat mereka tinggal – tetap berisiko terkena penyakit ini dan menyebarkannya kepada orang lain yang mungkin juga tidak mendapatkan vaksinasi,” terang dr. Zsuzsanna Jakab dari WHO.

Jerman yang dikenal paling makmur di antara negara Uni Eropa juga memiliki penderita yang cukup banyak, dengan kontribusi 927 kasus. Selanjutnya campak juga menyerang negara makmur Uni Eropa lainnya seperti Perancis (520 kasus), Belgia (369 kasus) dan Inggris (282 kasus). Di antara 15 negara Eropa yang terserang campak, Swiss menduduki posisi terendah dengan 105 kasus.

Belum lama ini yang dalam proses keluar dari Uni Eropa – telah menyandang status eliminasi campak dari WHO. Artinya, selama beberapa tahun terakhir jumlah kasus cukup rendah untuk menghentikan penyakit yang beredar di seluruh negeri. Namun karena wabah campak sedang menyerang daratan Eropa lainnya, Inggris harus waspada. Terlebih sepanjang Januari 2018 – mengutip seruan Public Health England – sudah ditemukan 51 kasus campak di West Midlands.

Penolakan MMR

MMR adalah jenis vaksin yang direkomendasikan WHO untuk mencegah campak. Namun ketakutan sejumlah warga di Italia terhadap MMR yang diduga menyebabkan autis menyebabkan beberapa balita di sana tanpa imunisasi.

Vajsin MMR yang direkomendasikan WHO mencegah campak

Padahal WHO sudah menyerukan 95% dari populasi harus terjaring program imunisasi. Tapi di Inggris pada 2016-2017 baru mampu menjaring 91,6% populasi. Vaksin diberikan dua dosis kepada anak-anak yang sangat muda. Orang dewasa dan anak yang lebih tua dapat divaksinasi pada usia berapa pun jika sebelumnya belum pernah diimunisasi.

Gejala campak meliputi : pilek, bersin dan batuk, sakit mata merah, suhu tinggi dan – setelah beberapa hari – muncul bintik-bintik merah kecokelatan.

Di antara negara Eropa yang terserang campak, Rumania menduduki posisi paling buruk. Pada 2017 lalu tercatat lebih dari 5.500 kasus – sebagian karena kekurangan vaksin dan fasilitas kesehatan yang buruk. Diperkirakan pula tingginya populasi besar bangsa Roma di negara ini – yang sering hidup dalam kemiskinan parah – berisiko cepat tertular virus campak.

Sedangkan di Italia – tertinggi kedua kasus campak di Eropa – dalam beberapa tahun terakhir menghadapi kampanye penolakan vaksinasi dari kelompok “Anti-Vax”. Gerakan ini telah menghalangi orang-orang Italia ikut program imunisasi. Sebagai tanggapan, pemerintah Italia mewajibkan setiap anak menjalani vaksinasi campak dan 12 penyakit lainnya sebelum mendaftarkan diri ke sekolah-sekolah negeri.

Undang-Undang yang mewajibkan imunisasi menjadi isu utama menjelang pemilihan umum 4 Maret di negeri itu. Tapi tidak semua warga setuju dan justru mendesak membatalkannya.

Di Ukraina yang belum pulih dari konflik antara warga pro-Rusia dan pro-Barat jumlah penderita campak mencapai sekitar 4.767 kasus. Tingginya penderita campak di Ukraina – sebut WHO – bahwa negara-negara yang mengalami konflik berkepanjangan berisiko tinggi terkena campak karena rusaknya pelayanan kesehatan dan infrastruktur.

Indonesia sendiri sudah bertekad mengeleminasi penyakit campak dan rubella (Campak Jerman) pada 2020. Program vaksinasi besar-besaran digencarkan, tahap pertama Agustus – September 2017 di Pulau Jawa dengan sasaran 34,96 juta anak, dan pada tahap kedua Agustus – September 2018 dengan sasaran 31,96 juta anak di luar Pulau Jawa. Tahun 2016 lalu masih tercatat 2541 penderita campak dan 1.193 penderita rubella. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here