Gaya Berpolitik Para Calon Walikota dan Wakil Walikota Malang

0
169
Ilustrasi Para Kandidat Calon Walikota Malang 2018 (Foto: Infografis TIMESindonesia)

Nusantara.news, Kota Malang – Setiap calon Walikota dan Wakil Walikota Malang memiliki gaya dan ciri khas tersendiri untuk menarik perhatian dan simpati masyarakat. Gaya dan ciri khas itu tercermin dalam setiap agenda kampanye yang dilakukan oleh masing-masing calon.

Dalam studi kepemimpinan memang diperlukan gaya atau cara berpolitik seorang pemimpin untuk mempengaruhi dan mengatur masyarakat, sehingga mampu menjalankan roda pemerintahannya. Selain itu, gaya dan ciri khas ini pun akan menjadi kharisma tersendiri bagi seorang pemimpin.

Setiap pemimpin negara maupun daerah, pasti memiliki gaya dan ciri khas tersendiri dalam menjalankan kepemimpinannya. Ir. Soekarno dengan pidatonya yang kharismatik mampu menyita perhatian khalayak masyarakat yang mendengarkannya. Soeharto, mengangkat adat jawa dalam kepemimpinannya. Gus Dur, mengatasi permasalahan yang ada dengan lawakan dan guyonan yang mencairkan suasana. Begitupun juga pemimpin nasional dan di daerah lainnya.

Tiga calon pasangan yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang, yakni M Anton-Samsul, Nanda-Wanedi dan Sutiaji-Sofyan Edi memiliki gaya berpolitik yang berbeda satu pasangan dengan yang lain. Fenomena itu menambah keunikan dinamika helatan Pilkada Kota Malang 2018.

Abah Anton dengan ASIK, Riuh, Ramai dan Seru

Pasangan calon petahana, M Anton-Samsul Mahmud yang mengusung slogan ASIK, Malang APIK melakukan kampanye sesuai dengan slogan yang ia angkat, yakni secara ASIK. Seluruh peserta rombongan kampanye dibuat ASIK, larut dalam kampanyenya.

Gaya berpolitik riuh dan ramai yang ditunjukkan M Anton dalam kampanye, berhasil menyita perhatian masyarakat Kota Malang. Di lain sisi, sosoknya terkenal sebagai bapak/abah N1 (Walikota) ini dengan kampanye ramai-ramai dan arak-arakan dengan mobil pickup ranger dikawal dengan pendukungnya melakukan kampanye di beberapa titik dalam beberapa akhir ini.

Kampanye Abah Anton dengan para pendukung (Foto: Zainul Arifin-Liputan6)
Kampanye Pasangan Calon ASIK, M Anton dan Samsul Mahmud (Foto: Sinergy Aditya-Nusantara.news)

Tujuan kampanye calon petahana kali ini, lebih menyasar ke pasar-pasar, dengan tujuan untuk menjaring aspirasi para pedagang guna perbaikan pasar dan ekonomi masyarakat Kota Malang.

Nanda, Kreatif dan Dekat dengan Anak Muda

Sementara itu, pasangan calon Nanda Gudban-Ahmad Wanedi memiliki gaya yang juga cocok dengan sloga yang ia bawa untuk Kota Malang, yakni Malang MENAWAN. Nanda Gudban dan Ahmad Wanedi selalu tampil menawan,  masyarakat menyorot Nanda Gudban sebagai pusat perhatian khususnya para pemuda. Pasalnya Nanda Gudban merupakan salah satu calon yang paling muda diantara pasangan calon lainnya.

Melihat peluang, bahwa dirinya paling muda daripada calon lainnya. Ia mengambil metode dan strategi kampanye menyasar para pemuda, dengan pendakatan kegiatan kampanye memanfaatkan momen yang digandrungi oleh generasi muda kini.

Seperti beberapa hari lalu, masyarakat Indonesia khususnya generasi muda menyorot fenomena kemunculan film ‘Dilan’. Tidak ambil diam, beberapa desain kampanye dan propaganda akan dirinya dipakai seperti halnya desain film ‘Dilan’.

Pasangan Nanda-Wanedi dengan Desain Dilan

Selain itu, ia juga menyelenggarakan nonton bareng gratis dan ‘meet and greet’ para aktor film ‘Dilan’.Hal itu pun sukses mencuri perhatian kalangan generasi muda untuk mengenal sosok Nanda di Kota Malang.

Ia pun juga aktif di gerakan perempuan yang bergumul dan berjejaring dengan anak-anak muda.

Nanda merupakan salah satu penggagas Duta Politik Kota Malang. Dengan harapan melalui duta politik, dapat menarik partisipasi pemuda untuk peduli akan perpolitikan, mengingat politik merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah negara.

“Butuh kebersamaan dan gotong royong bersama-sama dalam membangun sebuah daerah dan anak muda harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan, terutama memurnikan makna politik dalam era ini,” kata Nanda Gudban, belum lama ini dalam agenda Finalis Duta Politik.

Politisi Partai Haura tersebut, kerap disapa Politisi Cantik, faktanya ia memiliki paras yang cantik, putih dan tinggi layaknya seorang model. Kelebihan fisik yang ada pada dirinya itu cukup menyita perhatian para kaum pria, sesuai dengan slogannya MENAWAN.

Jika diamati, dalam beberapa agenda dalam berkampanye sosok Nanda Gudban, terkesan kreatif, elegan dan menarik perhatian. Dengan diikuti beberapa pendukungnya dalam berkampanye, ia di dalam kendaraan Toyota Alphard kerap dikawal patwal lalu lintas terlihat elegan.

Trailer mengarak calon Pasangan Menawan

Selain itu, dalam deklarasi koalisinya yang bersamaa dengan momen pendaftaran formulir calon Walikota dan Wakil Walikota di KPU pada awal januari lalu, pasangan calon MENAWAN ini pun mampu mecuri perhatian orang. Pasalnya pasangan calon ini memakai truk tronton trailer, yang diiringi para pendukungnya menuju KPU.

Sutiaji, Sederhana dan Low Profile

Berbeda halnya dengan pasangan calon MalangSAE, Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko yang nampak low profile atau dengan sederhana alakadarnya dalam melakukan kegiatan kampanye sejauh ini.

Terlihat saat kampanye di kawasan Bareng Kulon, Klojen, Kota Malang, Kamis (22/2/2018), Sutiaji bersama pasangannya Sofyan Edi berboncengan menggunakan sepeda motor. Ia pun mengunjungi beberapa tempat dan tokoh masayarakat di daerah Bareng Kulon, tak lupa ia juga mampir ke Muslimat NU Kelurahan Bareng Kulon.

Sutiaji kampanye memakai sepeda motor (Foto: SurabayaPost.id)

Ia juga menyasar ke beberapa pasar, dan lebih mengedepankan ajang sillaturahmi ke beberapa tokoh dan kelompok masyarakat. Beberapa waktu lalu ketika mengunjungi Pasar Tawangmangu sembari jalan pagi ia dengan sederhana memakai kostum training/olahraga tanpa pengawalan yang ketat dan pendukung yang riuh tiba dengan senyap ke Pasar Tawangmangu.

Sayangnya, kedatangannya yang sederhana kurang menarik perhatian masyarakat sekitar dan pedagang pasar karena dianggap orang biasa, tidak terlalu ramai riuh. Padahal ia menjabat sebagai Wakil Walikota (non-aktif) cuti mengikuti Pilkada. Namun, ada juga beberapa orang yang sadar, khususnya beberapa tokok yang dikunjungi oleh Sutiaji.

Selain itu, dalam deklarasi kampanye damai yang digelar KPU Kota Malang (18/2/2017) iapun datang menggunakan sepeda bersama calon pasangannya. Justru pendukungnya yang membawa mobil dan motor, mengawal dibelakangnya.

Saat deklarasi itu pun para calon diarak menggunakan becak, namun uniknya disini justru Sutiaji dan Sofyan Edi yang mengayuh becak dan membonceng bapak tukang becak. Hal ini menyorot perhatian publik melihat sosok Sutiaji yang bersifat merendah, agar terlihat dekat dengan masyarakat.

Sutiaji menjelaskan bahwa ini merupakan simbolik bahwa kita merupakan pelayan masyarakat. “Dengan begini jabatan walikota bukan berarti lebih tinggi dari masyarakat, malah kita justru yang mencalonkan diri menjadi pelayan masyarakat harus melayani mereka siapa saja baik tukang becak, sayur, bakso dll,” ungkapnya sambil mengayuh becak.

Ia mengaku dengan memposisikan dirikita sama dengan yang lainnya akan lebih dekat dengan masyarakat. “pada dasarnya hakikat kita sama dimata Tuhan, sama sama manusia saling membantu tolong menolong berbuat baik. Jabatan Walikota hanyalah titipan, toh jati diri kita sama dengan masyarakat lainnya,” jelasnya.

Sutiaji mengambil posisi bawah, dengan silent campaign. Beberapa agenda pun terkadang kurang dapat diketahui dan diakses oleh rekan media, seakan ia bergerilya dalam berpolitik.

Harapan Masyarakat dalam Kampanye

Melihat berbagai macam gaya berpolitik, dan berkampanye dari masing-masing calon ada beberapa perspektif lain yang diambil dari seorang pengamat politik terkait kampanye yang efektif dan bermanfaat.

Pengamat Politik Kota Malang, Dwi Nursulistyo menjelaskan bahawa kampanye yang efektif adalah kampanye yang memiliki nilai edukasi dan manfaat bagi masyarakat. “Setidaknya memiliki manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya sekedar janji-janji ketika ia akan jadi,” jelas dia.

Ia menghimbauu untuk tidak sekedar mengadakan kampanye seremonial saja, namun yang memiliki pengaruh  perubahan di masyarakat yang merupakan bentuk kepedulian “Jangan hanya hura-hura, seremonial datang, namun juga ikut turun tangan dalam perubahan atau penyelesaian permasalahan di suatu daerah/wilayah. Itu salah satu bentuk kepedulian kecil dari daerah, setidaknya telah memberikan kontribusi,” tegasnya.

Ia menjelaskan harus ada nilai edukasi politik dan kebermanfaat bagi masyarakat, ia mencontohkan “Jika di suatu daerah ada suatu permasalahan, calon tersebut mengadakan program atau kegiatan untuk menyelesaikan hal tersebut, misal membuka cek kesehatan, donor darah, sembako gratis dll. Itu adalah bukti langkah nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” pungkas pria berkacamata tersebut.

Selain itu, ia menambahkan penjelasannya “Bila ingi berkelenjutan bentuk satu lembaga dan institusi disuatu daerah yang memiliki pengaruh perubahan dan pembangunan pada suat wilayah atau daerah tersebut,” imbuhnya.

Memang, sudah seharusnya kampanye yang dilakukan oleh para kandidat calon kepala daerah memiliki nilai dan sumbangsih kepada masyarakat. Tidak hanya sillaturahmi kilat sesuai momentum politik, memberikan sumbangan sesuai momentum politik namun turun tangan menyelesaikan permasalahan pengawalan di beberapa daerah atau wilayah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here