Gebrakan Bin Salman Bukan Sekedar Permainan Kekuasaan

0
114
Presiden Donald Trump berjabat tangan Mohammed bin Salman yang masih menjabat Wakil Pangeran Mahkota, Selasa, 14 Maret 2017, di Ruang Makan Negara Bagian Gedung Putih di Washington. (AP Photo / Evan Vucci)

Nusantara.news, Jakarta – Boleh saja orang beranggapan, penangkapan besar-besaran terhadap 199 orang kaya Arab Saudi dengan tudingan korupsi hanya sebagai cara Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengenalkan diri kepada dunia.

Terlepas adanya permainan kekuasaan di balik penangkapan itu, faktanya korupsi menjadi persoalan serius pemerintahan Arab Saudi. Tercatat 199 pejabat, pengusaha dan mantan pejabat Arab Saudi “dikerangkeng” di Hotel Ritz Carlton Riyadh.

Kenapa ditahannya di hotel? Rupanya Pangeran Mahkota juga tidak ingin terlalu mempermalukan para tersangka korupsi yang beberapa diantaranya adalah sepupunya sendiri. Tapi tindakannya itu membuatnya lebih dikenal di antara pemimpin dunia. Raja-raja, para Presiden atau Perdana Menteri tidak lagi menganggapnya anak bawang karena usianya yang masih sangat begitu muda.

KPK di Indonesia mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk menangkap para terduga koruptor sebanyak itu. Karena prosedur hukum di Indonesia benar-benar dijalankan. Sedangkan di Arab Saudi boleh dibilang “by pass” lewat kekuasaan. Lebih efektif memang. Meskipun rawan dengan penyalahgunaan kekuasaan.

Kekayaan negara yang diselamatkan pun sangat besar. Mengutip keterangan Jaksa Agung Arab Saudi Syekh al-Mojeb, kekayaan negara yang bisa diselamatkan mencapai 100 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1360 triliun. Luar biasa.

Meskipun terjadi penangkapan besar-besaran, namun Syekh al-Mojeb mengklaim aktivitas rutin kerajaan berjalan normal seperti biasanya. Sebab perusahaan-perusahaan yang dimiliki para terduga korupsi dibiarkan tetap berjalan. Hanya rekening-rekening bank milik pribadi yang dibekukan.

Peristiwa penangkapan besar-besaran itu juga diulas secara lebih mendalam oleh Frank Gardner, wartawan senior BBC untuk Timur Tengah. Gardner juga mencoba menjawab, apakah yang dilakukan Pangeran Mohammed bin Salman semata-mata pemberantasan korupsi, atau adakah permainan kekuasaan di sana. Gardner menjawab kedua-duanya.

Gardner menulis, secara obyektif korupsi memang merajarela di Arab Saudi. Aktivitas suap seperti pelicin untuk memudahkan urusan dan upeti-upeti mewah sudah lama menjadi bagian melekat untuk berbisnis di negara kaya penghasil minyak ini.

Banyak pejabat yang ditunjuk pada posisi-posisi kunci mengumpulkan kekayaan besar-besaran, dalam beberapa kasus mencapai miliaran dolar, yang jumlahnya jauh dari gaji pegawai negeri dan banyak yang disimpan di luar negeri.

Kerajaan tidak sanggup lagi seperti itu. Mereka memiliki generasi milenial yang sadar informasi. Kebencian mereka terhadap korupsi mulai bangkit. Terlebih mereka membutuhkan lapangan pekerjaan yang banyak diantaranya terhambat oleh korupsi dan “puritisasi ajaran agama” yang banyak menghambat talenta mereka.

Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) tanggap dengan situasi itu. Atas dukungan ayahnya Raja Salman yang berusia 81 tahun, Pangeran Mahkota itu mulai bergerak mengatasi persoalan yang dihadapi oleh generasi-generasi baru Arab Saudi yang juga generasinya.

Aktivitas KPK yang dibentuk oleh ayahnya dan langsung dia pimpin digunakan secara efektif dengan menyasar orang-orang kaya Arab Saudi dengan berbagai alasan. Diantara pesan yang dia kirim antara lain, cara lama untuk berbisnis tidak bisa diterima lag. Arab Saudi membutuhkan reformasi dan modernisasi jika ingin bertahan sebagai negara yang berhasil di Abad ke-21.

Pemerintah yang dipimpinnya juga ingin meraih kembali aset-aset pribadi yang disimpan di luar negeri, yang diperkirakan mencapai sekitar US$800 miliar. Untuk itu, tercatat 208 orang kaya Arab Saudi yang dipanggil dengan dugaan korupsi. Diantara 208 yang dipanggil itu 199 orang kasus diteruskan dengan penyusunan surat dakwaan lainnya dilepaskan.

“Berdasarkan penyelidikan kami selama tiga tahun belakangan, kami memperkirakan sedikitnya US$100 miliar sudah disalahgunakan melalui korupsi dan penggelapan yang sistematis selama beberapa dekade,” beber Jaksa Agung al-Mojeb.

Syekh al-Mojeb menegaskan komite anti korupsi memiliki mandat yang jelas untuk melangkah ke tahap penyelidikan berikutnya dan sudah membekukan rekening bank dari ‘orang-orang yang menjadi perhatian’.

“Ada spekulasi meluas di dunia tentang identitas dari para individu bersangkutan dan rincian dari dakwaan atas mereka,” tambahnya.

Meskipun penangkapannya lebih menggunakan by-pass kekuasaan, namun al-Mojeb menjamin para individu tetap mendapatkan hak-hak hukum sepenuhnya berdasarkan undang-undang Saudi.

“Kami tidak akan mengungkapkan rincian pribadi lagi pada saat ini. Kami minta privasi mereka dihormati pada saat mereka menjadi subyek dari proses hukum kami,” tandas al-Mojeb.

Gerakan anti korupsi di Arab Saudi memang tidak bisa dilihat semata-mata adanya unsur permainan kekuasaan di sana. Termasuk pemakzulan Pengeran Mahkota sebelumnya oleh Raja Salman tidak terlepas dari kasus korupsi.

Selama ini, keluarga Al Saud yang berkuasa tidak pernah mengungkapkan berapa banyak kekayaan yang diperoleh dari minyak dikantungi ribuan pangeran dan keluarga mereka. Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Nayef yang dimakzulkan oleh Raja Salman dan digantikan oleh putranya sendiri, Mohammed bin Salman pada 21 Juni 2017 lalu tahun 2015 dilaporkan membeli sebuah kapal pesiar senilai Rp7,3 triliun dari pengusaha Rusia.

Jadi, pemberantasan korupsi dan transformasi perekonomian Arab Saudi yang tidak lagi bergantung kepada minyak bumi mendapat dukungan yang luas dari warga Arab Saudi sendiri, terutama dari generasi mudanya yang melihat Qatar, Bahrain, lebih maju dari negaranya.

Selain itu, pengaruh Donald Trump, setelah kunjungan Pangeran Mahkota ke Washington dan kunjungan Trump ke negaranya juga begitu kental. Satu hal lagi, isolasi Qatar dan invasi ke Yaman yang sulit dimenangkan, ditambah lagi potensi perlawanan di dalam negeri akan menjadi hambatan utama MBS baik dalam mewujudkan Visi 2030 maupun permainan kekuasaan yang sedang dimainkannya.

Tapi yang jelas, pemberantasan korupsi yang dilakukan Pangeran Mahkota MBS bukan semata-mata permainan kekuasaan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here