Gebuk Komunis, Indikasi Jokowi Berubah?

0
146

Nusantara.news, Jakarta – Setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta dan masuk penjara, Presiden Jokowi bicara soal gebuk komunis dan ormas anti-Pancasila. Jokowi berubah?

Gebuk Komunis

Pernyataan gebuk komunis dilontarkan Jokowi saat bertemu dengan para pemimpin redaksi media massa di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/5/2018).

“Organisasi yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, kebinekaan, kalau saya, tidak bisa dibiarkan. PKI, kalau nongol gebuk saja. Tap MPR sudah jelas melarang PKI,” ujar Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyinggung soal dia dan keluarganya yang terus difitnah terlibat PKI.

Jokowi menegaskan, ia dan keluarganya sangat jelas sama sekali tidak terkait dengan PKI.  “Saat PKI dibubarkan, saya masih berumur 4 tahun,” ujarnya.

Pertanyaannya adalah, mengapa Jokowi bicara keras, sampai menggunakan kata gebuk soal komunis setelah Ahok kalah di Pilkada DKI Jakarta dan masuk penjara karena kasus penodaan agama?

Bukankah Isu itu sudah muncul sejak dia masih menjadi calon Gubernur DKI Jakarta, berlanjut setelah terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2014? Isu komunis itu tidak hanya diarahkan keapda diri pribadinya tetapi juga kepada konglomerat China perantauan yang dituding berada di belakangnya.

Peringatan Alan Nairn

Tanggal 19 April 2017, bersamaan dengan Hari H Pilkada DKI Jakarta, muncul artikel Alan Nairn berjudul, “Investigasi Alan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih Untuk Makar.”

Artikel itu diawali dengan kata-kata provokatif, sebagai berikut: “Rekan-rekan (Presiden Amerika, Red) Donald Trump di Indonesia telah bergabung bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang tujuan akhirnya menjatuhkan Presiden Joko Widodo. Menurut beberapa tokoh senior dan perwira militer dan intelijen yang terlibat dalam aksi yang mereka sebut sebagai “makar”, gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.
Pendukung utama gerakan makar ini termasuk Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI dan salah satu penyokong politik Donald Trump; dan Hary Tanoesoedibjo, rekan bisnis Trump yang membangun dua Trump Resort, satu di Bali dan satu di dekat Jakarta (di Lido, Jawa Barat).”

Apa yang membuat rekan-rekan Donlad Trump ingin menjatuhan Jokowi? Menurut sumber-sumber militer yang diwawancarai Alan Nairn, masalahnya adalah komunis, komunis gaya baru disingkat (KGB).

Mereka, atau rekan rekan Trump menilai Jokowi menyediakan lahan bagi komunisme hidup dan bekembang di Indonesia. Sumber militer yang memiliki grup WA bernama “Old Soldier” yang diwawancarai Alar Nairn, bahkan mengaku sudah punya daftar orang-orang komunis di Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah yang mereka incar.  Artikel itu juga memaparkan rencana gerakan yang akan dilakukan untuk menjatuhkan Jokowi.

Artikel Akan Nairn ini viral setelah dipublikasikan oleh sebuah situs berita. Tetapi, Jokowi, ketika itu tidak ambil pusing. Beberapa hari setelah itu, ketika wartawan punya kesempatan bertanya secara door-stop, Jokowi hanya menjawab, “Tanyakan kepada yang bersangkutan (Alan Nairn, Red).”

Tidak ada komentar sama sekali dari Jokowi soal Komunis Gaya Baru yang menjadi inti persoalan, sekaligus yang mendorong rekan-rekan Trump di Indonesia yang ingin menjatuhkannya.

Oleh sebab itu, menjadi pertanyaan besar, mengapa Jokowi sekarang angkat bicara soal komunis? Mengapa tidak dari awal? Mengapa setelah Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta?

Nada suara Jokowi saat bicara soal komunis itu juga lantang. Dia menggunakan istilah gebuk, sebuah kata yang pernah dikemukakan Soeharto tahun 1989 yang diisukan diarahkan kepada Jenderal LB Moerdani dalam kaitannya dengan suksesi kepemimpinan.

Tanda-tanda apa yang dapat dibaca dari pernyataan gebuk komunis? Apakah Jokowi berubah setelah Ahok kalah dan konglomerat China perantauan di belakangnya tidak lagi populer bahkan jadi sorotan publik?

Alan Nairn juga mengutip pernyataan Kivlan Zein yang mengatakan, “Sekarang komunis sedang bangkit lagi. Mereka ingin mendirikan partai komunis baru. Para korban ’65, mereka semua menyalahkan kami (tentara, Red)…. Mungkin kita akan lawan mereka lagi, seperti tahun ’65.”

Oleh sebab itu, kata Kivlan seperti dikutip Nair, cara -cara yang akan digunakan Trump untuk menggulingkan Jokowi adalah dengan cara-cara 1965.

Kivlan Zein bahkan mengeluarkan kalimat, “Jika Jokowi tetap berada di jalur itu”—sikap tidak meminta maaf (kepada komunis, Red)—”Dia tidak akan digulingkan. Dia akan selamat. Tapi jika dia meminta maaf: [dia] Selesai, tamat.”

Lepas dari apakah pernyataan Jokowi soal gebuk komunis terkait dengan pernyataan Kivlan ini atau tidak, yang jelas pernyataan gebuk komunis, merupakan sebuah perkembangan baru dari Jokowi setelah Ahok kalah di Pilkada DKI Jakarta.

Perkembagan Baru Lain

Setelah Ahok kalah, memang pula ada beberapa perkembangan baru lain. Pertama, peringkat baru tentang iklim investasi di Indonesia yang  diberikan lembaga pemeringkat yang berkantor pusat di Amerika, Standard & Poor’s.

Ada tiga lembaga pemeringkat dunia yang menjadi patokan investasi. Yaitu Standard & Poor’s, Fitch dan Moody’s. Fitch sudah memberikan peringkat BBB- atau investment grade kepada Indonesia pada 21 Desember 2016.

Sedangkan Moody’s memberikan peringkat Baa3 atau investment grade pada 8 Februari 2017. Sementara Standard & Poor’s hanya memberikan peringkat BB+.

Tiba-tiba pada Jumat (19/5/2017), Standard & Poor’s memberikan peringkat baru yang sama dengan peringkat yang diberikan Fitch dan Moody’s, yakni investment grade kepada Indonesia.

Peringkat Standard & Poor’s  penting karena menjadi salah satu patokan bagi perusahaan-perusahaan Amerika, Kanada dan Australia mengingat Standard & Poor’s terkenal dengan produk pemeringkatan atas 500 saham di Amerika dengan S&P 500, dan pemeringkatan 200 saham di Australiayang dikenal dengan nama S&P/ASX 200 dan pemeringkatan di Kanada  yang dikenal dengan nama S&P/TSX.

Tidak kurang Menteri Keuangan Sri Mulyani bergembira dengan peringkat baru dari Standard & Poor’s karena diyakini akan mendorong masuknya investasi ke Indonesia.

Apalagi pada waktu hampir bersamaan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) terhadap laporan keuangan APBN, opini yang tidak pernah terjadi sejak 12 tahun terakhir.

Perkembangan lain adalah munculnya Jokowi sebagai tokoh Islam nomor 13 paling berpengaruh di dunia yang diberikan Pusat Studi Strategis Islam yang bermarkas di Amman, Jordania.

Perkembangan baru lain, adalah pernyataan Jokowi di Forum Arab Islamic American Summit yang berlangsung di King Abdul Aziz International Convention Center Riyadh, Arab Saudi, Minggu (21/5/2017).

Dalam pidatonya di forum yang dihadiri Presiden AS Donald Trump, Jokowi mengatakan Forum Arab Islamic American Summit penting untuk mengirimkan pesan kemitraan dunia Islam dengan Amerika Serikat dan menghilangkan persepsi AS yang melihat Islam sebagai musuh.

Terpilihnya Jokowi sebagai tokoh Islam nomor 13 paling berpengaruh di dunia muncul saat ia berada di  Arab Saudi. Media Indonesia ramai memberitakannya.

Beda dengan hasil kunjungan Jokowi saat menghadiri pertemuan sejumlah kepala negara membahas One Belt One Road (OBOR) yang berlangsung di Beijing, China, 14 – 15 Mei 2017, hanya selang beberapa hari sebeleum pertemuan di Arab Saudi.

Sepinya pemberitaan tentang hasil kunjungan ke Beijing ini menjadi pertanyaan, tidak saja karena OBOR terkait dengan Tol Laut Jokowi, tetapi juga terkait dengan hubungan Indonesia – China yang mesra sejak Jokowi terpilih menjadi Pesiden RI pada Pilpres 2014.

Kemesraan itu tidak hanya dalam hal kata-kata saling puji, tetapi terlihat dari intensitas pertemuan resmi antara delegasi kedua negara yang jauh lebih intensif dibandingkan dengan pertemuan delegasi Indonesia dengan Amerika Serikat.

Betul, Jokowi sudah dua kali berkunjung ke Cina dan AS, di luar kunjugan yang terakhir.

Pertama saat menghadiri KTT APEC ke-26 pada pertengahan November 2014, kunjungan kedua Maret 2015.  Sementara kunjungan Jokowi ke AS pertama kali dilakukan setelah setahun berkuasa, yakni Oktober 2015, dan kunjungan kedua dilakukan pada Februari 2016.

Demikian juga pertemuan Jokowi dengan Presiden China Xi Jinping dan pertemuan dengan Presiden Obama, sama-sama terjadi sebanyak tiga kali. Pertemuan Jokowi dengan Presiden  Obama dilakukan dua kali saat berkunjung ke AS dan saat pertemuan APEC 2014 di China.

Sementara pertemuan Jokowi dengan Xi Jinping juga terjadi tiga kali, yakni  saat kunjungan ke Cina, serta saat kunjungan Xi Jinping ke Indonesia pada peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) April 2015.

Namun perlu dicatat, sejak Presiden Jokowi berkuasa, Presiden Obama belum pernah berkunjung ke Indonesia.

Sejak Jokowi, juga sangat banyak sorotan terhadap China, mulai dari tenaga kerja China yang masuk ke Indonesia secara ilegal, dan lain sebagainya. Jokowi bahkan pernah mengatakan akan mematok rupiah dengan mata uang China, Yuan.

Oleh sebab itu, saat menghadiri pembahasa OBOR melawat di Beijing, ada harapan Jokowi akan memperoleh komitmen investasi baru, dan oleh sebab itu, sepulang dari lawatan diperkirakan menggelar jumpa pers membeberkan angka komitmen investasi yang akan dikucurkan China dalam rangka OBOR ke Indonesia.

Mengapa tidak ada pemberitaan terkait komitmen itu?

Sesaat sebelum terbang ke Beijing, Jokowi memang memberikan keterangan pers bernada pesimis terkait lawatannya ke Beijing. “Kita ingin tahu sebetulnya arahnya ke mana OBOR ini. Oleh sebab itu, kita datang. Mau lihat konsep besar OBOR seperti apa,” ujar Jokowi di Base Ops Halim Perdanakusuma, sesaat sebelum terbang ke Beijing, Sabtu (13/5/2017).

Apakah ini dapat dimaknai bahwa Jokowi sudah mulai mengubah sikapnya terhadap China, atau Jokowi sudah tahu China mengubah sikapnya terhadap Indonesia?

Sehari setelah Ahok dinyatakan kalah di Pilkada DKI Jakarta, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence melakukan kunjungan singkat ke Indonesia.

Saat memberikan keterangan pers bersama, Pence mendesak Indonesia memberikan peluang dagang kepada Amerika secara bebas dan adil.

“Di bawah pemerintahan Trump, Amerika berupaya mengembangkan perdagangan secara bebas dan adil demi pembukaan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi bagi kedua belah pihak,” kata Pence ketika itu.

Jokowi merespon dengan mengatakan, “Komitmen Amerika untuk meningkatkan strategic partnership dengan Indonesia akan fokus pada bidang kerjasama investasi. Bulan depan akan ada tim yang membahas mengenai pengaturan perdagangan dan investasi berdasarkan prinsip-prinsip win-win solution.”

Apakah desakan Pence dan respon Jokowi ini yang mempengaruhi sepinya pemberitaan hasil lawatan Jokowi menghadiri pertemuan sejumlah kepala negara membahas OBOR di Beijing?

Apakah desakan Pence ini pula yang mempengaruhi perkembangan-perkembangan baru yang terjadi pasca kekalahan Ahok, termasuk pernyataan Jokowi yang keras soal gebuk komunis? Perjalanan waktu akan menjawabnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here