Gedung Putih Minta FBI Sangkal Laporan ‘Trump-Rusia’, Ada Apa?

0
117

Nusantara.news, Washington Setelah Pemilu Presiden Amerika Serikat selesai November 2016 lalu, dan pemenangnya dipastikan adalah Donald Trump dari Partai Republik menyeruak  isu bahwa Trump disokong Rusia. Partai Demokrat, seteru Trump dalam Pemilu, meminta agar isu yang bersumber dari pihak intelijen itu diselidiki.

Walhasil, muncul ke permukaan sejumlah informasi, misalnya soal campur tangan Vladimir Putin Presiden Rusia lewat hacking internet untuk mengarahkan suara rakyat AS memenangkan Trump. Trump sendiri sempat pernah mengakui adanya campur tangan Rusia di Pemilu AS, tapi tidak mengakui kemenangannya karena faktor Rusia. Rusia beberapa kali membantah keterlibatannya dalam Pemilu AS. Penyelidikan mengenai ada tidaknya skandal Trump-Rusia tengah bergulir.

Kamis malam, (23/2) sebagaimana dilansir CNN, tiba-tiba pihak Gedung Putih meminta Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk menyangkal laporan-laporan yang selama ini bertebaran di media AS terkait adanya hubungan Trump dan Rusia dalam Pemilu AS. Terang saja FBI menolak permintaan tersebut.

Sejumlah pejabat AS membocorkan informasi, bahwa Gedung Putih sempat meminta bantuan FBI dan beberapa badan lain untuk mengatakan di hadapan publik bahwa pemberitaan mengenai tim kampanye Trump dan Rusia itu salah.

Seorang pejabat juga mengatakan, permintaan langsung dari pemerintah kepada FBI ini sangat janggal. Selama ini AS selalu memegang teguh aturan yang melarang kontak langsung dengan FBI selama penyelidikan masih berlangsung.

Direktur FBI, James Comey, menolak berkomentar mengenai hal ini karena kasus kontak Rusia dan tim Trump masih dalam tahap penyelidikan.

Akhirnya Gedung Putih melakukan pernyataan sendiri, Priebus menyebut laporan New York Times sebagai “complete garbage”.

Akhir pekan lalu Priebus mengatakan, “The New York Times mengeluarkan sebuah artikel tanpa sumber langsung yang mengatakan, tim kampanye Trump memiliki kontak langsung dengan mata-mata Rusia. Saya bisa yakinkan, dan saya telah disetujui untuk mengatakan ini, bahwa laporan yang ada tidak akurat, terlalu dibesar-besarkan dan itu salah,” kata Preibus kepada “Fox News Sunday”.

Menurut sumber, komunikasi langsung itu bermula ketika Kepala Staf Gedung Putih, Reince Priebus, bertemu dengan Wakil Ketua FBI, Andrew McCabe, di sela sebuah rapat, sehari setelah laporan mengenai kontak tim Trump dengan Rusia semasa kampanye itu diungkap oleh The New York Times.

Namun, seorang pejabat Gedung Putih menyangkal, justru McCabe yang pertama kali menghubungi Priebus sebelum rapat berlangsung. Menurut pejabat itu, McCabe mengatakan bahwa pemberitaan di The New York Times itu terlalu dilebih-lebihkan ketimbang apa yang diketahui oleh FBI.

Menurut pejabat itu, Priebus lalu menghampiri McCabe dan Direktur FBI, James Comey untuk meminta badan investigasi tersebut berbicara kepada wartawan mengenai latar belakang sebenarnya dari isu tersebut.

Comey lalu menolak berkomentar karena kasus kontak Rusia dan tim Trump masih dalam tahap penyelidikan. “Comey tak akan berkomentar hingga penyelidikan menemui titik terang,” kata seorang pejabat FBI.

Laporan The New York Times dan CNN 14 Februari 2017 soal adanya hubungan tim pemenangan Donald Trump dengan Rusia sempat menjadi pembicaraan hangat di AS. Dalam laporan itu, tim kampanye Trump disebut berkomunikasi secara intens dengan para stakeholder di Rusia, termasuk mata-mata.

Sejumlah anggota DPR dan Senat kemudian membentuk panel khusus yang bekerja sama dengan FBI untuk menyelidiki dugaan kontak tim Trump dengan Rusia ini. Sejak dibentuk pada pertengahan Februari, panel mengaku sudah mengantungi banyak informasi yang dapat menjawab pertanyaan publik.

“Publik ingin mengetahui apakah Presiden memiliki hubungan personal dan finansial dengan pemerintah Rusia,” kata anggota Komite Intelijen Parlemen AS, Eric Swalwell.

Pada tanggal 17 Februari, Komisi Intelijen Senat AS mengadakan briefing dengan Kepala FBI Comey. Belum diketahui apa yang dibicarakan, tapi senator menyebut ada informasi baru yang dibahas tentang Rusia.

Senator Angus King dari Maine menolak untuk mengungkapkan apa yang dibicarakan selama briefing dengan Comey.

“Publik Amerika sangat ingin mengetahui apakah Presiden memiliki hubungan pribadi atau keuangan dengan pemerintah Rusia,” kata Eric Swalwell anggota Komisi Intelijen dari Demokrat, seorang senator asal California.

Isu hubungan AS-Rusia membuat sejumlah kegaduhan di dalam pemerintahan Trump. Mulai dari dugaan keterlibatan pemimpin Rusia Vladimir Putin dalam Pemilu AS untuk memenangkan Trump, hingga mundurnya penasihat keamanan nasional Presiden Michael Lynn akibat skandal kontak ilegal dengan dubes Rusia di AS yang diduga membahas pencabutan sanksi AS terhadap Rusia.

Sekarang, Gedung Putih mencoba “mengintervensi” FBI untuk menyangkal laporan-laporan media soal adanya hubungan tim Donald Trum dengan Rusia. Ada apa? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here