Gegara Rp16 juta, Allianz Pertaruhkan Reputasi Global

0
120
Dirut PT Allianz Life Indonesia Joachim Wessling dijadikan tersangka oleh nasabahnya gegara klaim sebesar Rp16 triliun yang tak bisa cair

Nusantara.news, Jakarta – Kasus yang melanda Dirut PT Asuransi Allianz Life Indonesia Joachim Wessling dan Manager Klaimnya Yuliana Firmansyah sungguh sebuah ironi besar. Bayangkan, gegara klaim hanya Rp16 juta, nama besar Allianz jadi tercoreng.

Allianz dianggap tidak tepat janji, mangkir dari kewajibannya membayar klaim nasabahnya, Ifranius Algadri. Sementara Allianz Life bersikukuh klaim itu tidak masuk kategori yang layak dicairkan, karena tidak menyertakan rekam medis. Bagaimana kesudahan kasus tersebut?

Apa yang terjadi pada Allianz Life sebenarnya pernah terjadi pada PT Prudential Insurance Life yang berkasus dengan artis Ahmad Dani. Begitu juga pernah terjadi pada PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Bahkan dalam kasus Manulife sampai memenjarakan direksinya.

Joachim telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menolak mencairkan asuransi cash claim nasabah Ifranius Al Gadri sebesar Rp16 juta.

Pengacara pelapor, Alvin Lim, mengatakan kliennya awalnya ditawari oleh agen Allianz untuk membuka asuransi di Allianz. Korban adalah seorang pengusaha ponsel yang memiliki omzet miliaran rupiah per tahun.

“Klien saya ditawari asuransi, dipaksa-paksa, akhirnya mau dia. Kemudian dia beli dua polis, satu yang preminya Rp600 ribu, kemudian satu lagi preminya Rp2 jutaan. Itu asuransi kesehatan dua-duanya,” jelas Alvin beberapa waktu lalu.

Di kemudian hari, korban kemudian menutup polis yang preminya Rp2 juta dengan alasan efisiensi. Selanjutnya korban hanya menggunakan asuransi yang preminya Rp600 ribu per bulan.

Suatu saat, korban jatuh sakit. Pada mulanya, klaim asuransi berjalan lancar. Hingga kemudian pada 2016, korban jatuh sakit sehingga harus dirawat inap. Korban dua kali menjalani rawat inap di dua rumah sakit berbeda.

“Terus sakit kedua keracunan makanan, masuk rumah sakir. Klaim kedua ini tidak dibayarkan. Allianz minta surat klarifikasi dan itu harus dipenuhi selama dua minggu persyaratan itu. Padahal itu tidak tertulis di buku polis itu,” jelasnya.

Menurut Alvin, Allianz sudah mempunyai unsur penipuan karena mempersyaratkan rekam medis kepada nasabah yang mau mencairkan cash claim. Padahal sudah jelas-jelas rekam medis itu sifatnya rahasia dan tidak bisa sembarangan dikeluarkan.

“Salah satu persyaratannya buku rekam medis, buku dokter yang tebal, yang menerangkan detail misalnya sehari korban BAB berapa kali. Itu kan tidak bisa dikeluarkan, kecuali atas perintah pengadilan atau pihak kepolisian,” paparnya.

Menurut Alvin lagi, persyaratan rekam medis ini dijadikan modus oleh Allianz agar bisa menolak pencairan klaim asuransi para nasabah.

“Modus ini dijalankan dua tahun lalu. Kalau ada kasus seperti ini, dia cairkan setengahnya, kemudian nasabah dipaksa tutup polis,” sambungnya.

Dikatakan, pelapor juga sudah melakukan somasi kepada pihak Allianz selama mengurus pencairan asuransinya itu. Tapi pihak Allianz tidak punya iktikad baik untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Saat kami datang, malah manajernya nantang, ‘Kalau mau lapor polisi, lapor saja.’ Malah klien saya (pelapor) dimaki-maki, ‘Kamu bisa baca tidak? Kan di situ sudah tertulis.’ Dia tidak memberikan solusi, pokoknya tetap meminta rekam medis, padahal itu salah satu syarat yang tidak mungkin bisa dipenuhi,” jelasnya.

Atas hal ini, korban merasa dirugikan. “Jadi itu kan cash claim, jadi satu hari dirawat (ditanggung asuransi) Rp1,5 juta. Totalnya dirawat 11 hari, dua kali rawat itu Rp16 juta,” tuturnya.

Apologi Allianz

Sementara Allianz Life Indonesia menuturkan pihaknya menghormati proses hukum terkait dengan penyidikan atas dugaan kasus yang menjerat pejabat perusahaan asuransi tersebut.

Keterangan resmi perusahaan menyatakan pihaknya memahami hal itu telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Diketahui, Polda Metro Jaya menetapkan Presiden Direktur Joachim Wessling dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia Yuliana Firmansyah sebagai tersangka dalam pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Dalam situs resminya, Wessling masih menjabat sebagai pucuk pimpinan tertinggi perusahaan itu.

“Jajaran pimpinan di dalam perusahaan memberi perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini dan sepakat untuk mempercayakan dan menghormati sepenuhnya proses hukum,” demikian keterangan resmi Allianz.

Allianz Indonesia juga menuturkan pihaknya sangat menghormati nasabahnya dan berkomitmen untuk menjaga kepercayaan. Perseroan menyatakan proses klaim merupakan salah satu titik temu yang penting bagi nasabah dengan perusahaan.

Segala keputusan, demikian Allianz, sudah dikaji dengan cermat dan berdasarkan prinsip kehati-hatian.

“Di samping itu, perusahaan juga terus melakukan berbagai inovasi pelayanan yang bertujuan untuk semakin mempermudah nasabah dan mitra bisnis dalam kegiatan terkait dengan kepemilikan polis asuransi jiwa,” demikian Allianz Indonesia.

Respon OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku bakal berkoordinasi dengan kepolisian untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut terkait penetapan Joachim Wessling dan Yuliana Firmansyah sebagai tersangka dalam pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

“Harus koordinasi dulu apa latar belakangnya sehingga ada keputusan itu,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Riswinandi beberapa waktu lalu.

Riswinandi mengungkapkan, pihaknya tak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. Jika salah mengambil langkah, industri asuransi secara keseluruhan bisa mendapatkan efek negatif.

“Yang kami amankan adalah industri asuransinya, supaya masyarakat tetap percaya. Jangan sampai gara-gara (kasus Allianz) ini masyarakat tidak percaya,” ujarnya.

Jika diperlukan, menurut dia, OJK bisa memanggil manejemen untuk mendapatkan klarifikasi.

Anggota OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara menambahkan, OJK selama ini memang menerima berbagai pengaduan dari masyarakat terkait klaim asuransi.

Untuk itu, OJK akan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat sehingga masyarakat paham hak dan kewajibannya terkit produk maupun layanan jasa keuangan.

“Konsumen harus paham betul mengenai hak dan kewajibannya. Harus paham betul mengenai risiko”, ujar Tirta.

Di saat bersamaan, OJK juga akan mengawasi perilaku pasar (market conduct) di ranah industri.

Ironi besar

Jika menengok besaran kasus Allianz kali ini, memang cukup ironis. Bagaimana mungkin raksasa asuransi Jerman ini harus mempertaruhkan reputasi globalnya hanya gegara uang recehan, kalim Rp16 juta.

Memang ironi tersebut tak bisa dihindari. Padahal Allianz Life di Indonesia termasuk perusahaan asuransi jiwa papan atas. Pada 2016 mampu membukukan pendapatan premi hingga Rp9,09 triliun. Dengan aset sebesar Rp30,29 triliun dan laba bersih sebesar Rp899,43 triliun.

Apabila menengok lebih jauh, Allianz Life Internasional merupakan perusahaan jasa keuangan multinasional yang berkantor di Munich, Jerman. Perusahaan asuransi ini didirikan oleh Michael Diekmann pada 1891, dan usahanya telah berkembang merambah ke perbankan dan manajemen investasi.

Dengan aset kelolaan sampai US$650 miliar (ekuivalen Rp8.775 triliun). Allianz Life International mampu mencetak pendapat premi hingga US$125 miliar (ekuivalen Rp1.687,5 triliun) dan laba bersih US$7,5 miliar (ekuvalen Rp101,25 triliun).

Itu sebabnya, manajemen Allianz Life harus lentur dalam menghadapi persoalan kecil ini. Memang peraturan harus ditegakkan, tapi jika memasuki garis demarkasi yang sensitif, apalagi menyangkut angka yang tidak besar, maka tidak ada salahnya klaim itu dibayarkan.

Daripada harus menghadapi tekanan ketidakpercayaan nasabah, dikhawatirkan dapat menggerus kepercayaan nasabah lainnya. Bahkan sampai pada menggerus pendapatan premi 2017.

Tidak ada salahnya Allianz Life mengambil keputusan yang bijak. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ini Indonesia Bung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here