Gempa 6,9 SR Guncang Pesisir Selatan Jabar dan Jateng

1
108
Kondisi ruangan hemodialisa yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitude 6,9 SR, di RSUD Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (16/12). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Gempa berkekuatan 6,9 Scala Richter (SR) mengguncang wilayah pesisir selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat pada Jum (15/12) tengah malam. Ribuan penduduk Cipatujah, Tasikmala, berlarian keluar rumah. Sempat ada peringatan waspada Tsunami meskipun peringatan itu dicabut oleh BNPB pada Sabtu (16/12) dini hari tadi.

Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada dua kali gempa. Gempa pertama terjadi pada pukul 23.04 berkekuatan 4,5 SR di kedalaman 50 kilometer yang berpusat di perairan yang berjarak 48 Km sebelah barat daya Kabupaten Sukabumi.

Gempa kedua dengan kekuatan yang lebih besar, 6,9 SR yang berjarak 11 kilometer barat daya Kabupaten Tasikmalaya di kedalaman 107 kilometer pada Jumat (15/12) pukul 23.47 WIB. BMKG sempat mengumumkan potensi tsunami sebelum akhirnya dicabut.

Pengaruh gempa dengan kekuatan yang relatif besar itu sempat dirasakan warga di sejumlah Kabupaten dan Kota yang berada di pesisir selatan Jabar dan Jateng, antara lain Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Pangandaran, Kabupaten Cilacap hingga Kabupaten Kulonprogo dan Bantul. Bahkan goncangan sempat dirasakan warga Grobogan, Jateng.

Ora Nganggo Mikir

Warga Kabupaten Tasikmalaya yang pesisirnya hanya berjarak 11 kilometer dari pusat gempa merasakan goncangan yang kencang. Warga Kecamatan Cipatujah berlarian keluar rumah, mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Begitu juga dengan warga di sekitar pantai Pangandaran yang terlihat panik berlarian ke perbukitan di sekitarnya.

Terlebih kala itu pasokan listrik ke sekitar pantai Pangandaran mati. Kondisi gelap gulita. Sejumlah warga tampak mengungsi dengan bekal penerangan lampu sepeda motor, sebagian lainnya menggunakan lampu senter atau lampu handphone.

Wis ora nganggo mikir (tidak banyak berpikir), mas. Begitu gempa saya bangunkan keluarga dan berlari keluar rumah,”kata Edi, warga asal Gunungkidul yang sudah lama bermukim di Pangandaran.

Gempa juga dirasakan oleh warga di sekitar Pantai Samas, Kabupaten Bantul. “Sudah tengah malam, mas. Saya barusan tertidur, tiba-tiba dinding rumah bergetar. Saya bangunkan istri dan anak, langsung keluar rumah,” kenang Bambang yang tinggal tidak jauh dari pantai Samas.

Goyangan gempa memang berlangsung singkat, kurang dari 1 menit. Namun seorang warga di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikabarkan meninggal karena rumahnya ambruk.

Korban meninggal itu bernama Hj. Dede Lufti (60) warga Desa Gunungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis. Tercatat dua orang lainnya luka parah akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Kala itu Almarhumah bersama dua anaknya sedang tertidur lelap. Tiba-tiba tertimba puing dinding yang rubuh akibat goncangan gempa sehingga mengalami luka dan pendarahan. Sebelum wafat korban sempat dilarikan ke RSU Ciamis.

“Tapi kondisinya tidak tertolong, korban meninggal pukul 00.30 tadi. Dua lainnya luka-luka,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ciamis Ani Supiani, Sabtu (16/12) dini hari.

Ternyata goncangan gempa juga dirasakan warga Kabupaten Grobogan hingga Kabupaten Kudus, pesisir utara Jateng. Kepada reporter Kompas, pekerja stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Jalan R Suprapto, Kota Purwodadi, Grobogan, Agus Kurniawan, menyampaikan, sebelumnya ia tengah duduk bersantai di lantai dua kantornya. Sekitar pukul 23.50 WIB, ia dikejutkan dengan getaran cukup kuat yang ia rasakan.

“Tiba-tiba saya merasakan goncangan cukup kuat di kantor. Gedung seperti bergerak. Getaran hampir satu menit. Tapi tidak ada masalah,” kenang Agus.

Untuk menggambarkan betapa kuatnya gempa, Setiawan Wibisono, warga Kauman, Purwodadi, Grobogan, yang sedang berjaga di Pos Keamanan Lingkungan menyebutkan bidak catur saja bergetar-getar. Sejumlah warga tampak keluar rumah.

Gempa juga dirasakan warga Kabupaten Kudus. Akrom Hazami, warga Desa Bulung Cangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, menyampaikan, dirinya bahkan terbangun dari tidurnya akibat merasakan getaran gempa.

Korban dan Kerusakan

Namun yang menderita kerugian parah, paling tidak bangunan retak atau bahkan roboh, adalah warga di pesisir selatan Pulau Jawa. Sejak dini hari tadi, media sosial seperti Twitter dan Facebook sudah ramai bertukar kabar tentang gempa di daerah masing-masing.

Sejumlah bagian gedung RSUD Banyumas dikabarkan rusak diacak-acak gempa. Kerusakan meliputi langit-langit Instalasi Gawat Darurat yang jebol, ruang ICU, laboratorium dan Gedung Pusat Thalasemia.

“Langit-langit di IGD ambrol, dan hampir di seluruh ruangan yang rusak temboknya mengalami retak-retak,” beber Direktur RSUD Banyumas AR Siswanto Budiwiyoto kepada wartawan Kompas.com, Sabtu (16/12) dini hari.

Kini tercatat 70 pasien rawat inap diungsikan ke tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas. “Saat ini petugas dari dinas (Cipta Karya) sedang masuk untuk menganalisis kondisi gedung, jika tidak memungkinkan untuk ditempati, pasien akan kami pindah ke ruang yang lain,” terang Siswanto.

Kerusakan lainnya yang terdeteksi Nusantara.news lewat pantauan ke sejumlah media adalah rusaknya kantor Bupati Tasikmalaya. Bagian atap lantai empat bangunan itu ambrol, lantai dan dinding retak. Begitu juga dengan ribuan rumah penduduk di sekitar pesisir selatan Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kota Pangandaran dan Kabupaten Cilacap.

Hingga berita ditulis jumlah korban dan kerugian akibat gempa berkekuatan 6,9 schala richter itu masih dihitung oleh masing-masing Pemerintah Daerah yang terdampak.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here