Generasi Milenial, Selfie atau Bertarung dalam Revolusi Peradaban?

0
356

Nusantara.news, Jakarta – Revolusi peradaban. Inilah yang sedang dan akan terus terjadi secara cepat menyusul temuan tekonologi informasi yang disebut internet. Bagaimana Indonesia menghadapi revolusi peradaban tersebut? Apakah pemerintah mengikhlaskan generasi milenial menggunakan internet sekadar sebagai media pencitraan dan selfie, atau membentuknya menjadi petarung guna mempertahankan identitas nasional, pancasila? Apakah pemerintah membiarkan konten-konten internet apa adanya, atau berupaya mempengaruhinya?

Revolusi Peradaban

Sasaran utama teknologi informasi adalah generasi milenial. Sasaran ini tentu saja bukan karena faktor kesengajaan, melainkan karena faktor waktu, di mana teknologi internet lahir di penghujung milenium tahun 2000, karena itu orang-orang yang terlahir di sekitar tahun itu disebut dengan generasi milenial.

Gagasan yang melahirkan internet itu sendiri berawal tahun 1957, diawali Advanced Research Projects Agency (ARPA), Amerika Serikat. Tujuannya bukan untuk menyediakan jaringan komunikasi apalagi menyediakan wadah media sosial untuk warga dunia, melainkan untuk keperluan militer, terkait perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, sekaligus memengembangkan jaringan komunikasi terintegrasi yang saling menghubungkan di antara komunitas sains.

Setelah tiga tahun, lahir apa yang disebut paket switching, yakni paket pengiriman pesan yang dapat dipecah dalam paket-paket kecil yang masing-masing paketnya dapat dikirim melalui berbagai alternatif jalur jika salah satu jalur rusak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Packet switching ini memungkinkan jaringan digunakan secara bersamaan untuk melakukan banyak koneksi berbeda dengan jalur telepon.

Tahun 1969 Departemen Pertahanan Amerika, melalui U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) melanjutkan riset tentang bagaimana cara menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik.  Hasilnya, tahun 1970, lebih 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.

Inilah perkembangan besar pertama internet. Perkembangan besar kedua terjadi tahun 1974, ketika ditemukan apa yang disebut TCP/IP (Transmission Control Protocol/ Internet Protocol). Protokol adalah suatu kumpulan aturan untuk berhubungan antarjaringan. Dengan protokol inilah terbentuk jaringan lokal yang tersebar di berbagai tempat dan dapat saling terhubung membentuk jaringan raksasa. Jaringan dengan menggunakan protokol internet inilah yang disebut sebagai jaringan internet.

Perkembangan besar Internet ketiga terjadi sejak ditemukannya aplikasi World Wide Web (WWW) tahun 1990. Aplikasi WWW ini menjadi konten yang dinanti semua pengguna internet. WWW membuat semua pengguna dapat saling berbagi bermacam-macam aplikasi dan konten, serta saling mengaitkan materi-materi yang tersebar di internet.

Sejak saat itu pertumbuhan pengguna internet meroket dan mulai terjadi pertukaran aneka informasi di seluruh dunia antar-siapa saja di seluruh dunia.

Penemuan WWW itu dapatlah disebut sebagai awal terjadinya revolusi peradaban, yang gelombangnya menerpa umat manusia di seluruh dunia.

Peradaban  secara umum diartikan sebagai kumpulan identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), ataupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya ataupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, ataupun melalui identifikasi diri lainnya.

Identitas inilah yang kini mulai dilanda perubahan secara cepat sejak kehadiran internet, dan karena itu kemudian disebut revolusi peradaban.

Salah satu nilai yang tengah mengalami perubahan adalah terkait dengan narsisme. Narsisme adalah suatu sikap membanggakan diri sendiri. Narsisme juga dikaitkan dengan memamerkan hal-hal yang bersifat pribadi.  Dalam ilmu psikologi, narsis dianggap sebagai gangguan yang dikenal dengan narcissistic personality disorder atau gangguan narsisme. Namun sejak internet, budaya narsis, nyaris sudah diterima secara umum. Iniulah satu perubahan kecil  yang terjadi sejak hadirnya internet

Perubahan nilai lain, namun masih dalam bentuk fenomena tetapi diyakini akan menjadi nilai baru adalah, proses terbentuknya kepercayaan umum yang semula bersifat sentri fugal yang proses terbentuknya kepercayaan yang berasal dari seortang tokoh (pejabat atau ahli) berubah menjadi kepercayaan umum yang terbentuk berdasarkan keyakinan individu.

Hal ini tersirat dalam buku laris yang ditulis oleh Rolf Dobelli berjudul “The Art of Thinking Clearly.” Rolf Dobelli adalah seorang penulis dan pengusaha kelahiran Swiss  15 Juli 1966. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang novelis pada tahun 2002.  Berkat buku “The Art of Thinking Clearly,” yang terbit 2011 membuatnya terkenal secara internasional.

Dalam buku “The Art of Thinking Clearly,” Rolf Dobelli yang meraih gelar PhD bidang filsafat ekonomi dari Universitas St. Gallen ini berhasil merangkum 99 bentuk berpikir sesat. Sesat karena mengikuti otoritas, pihak yang berkuasa. Cara berfikir ini oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche disebut sebagai mental budak, mental gerombolan, pengikut yang berkuasa.

Mengapa cara berpikir manusia sesat seperti ini? Rolf Dobely karena manusia ingin cari selamat dan berubah  (maju). Dalam evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun, manusia dan makhluk hidup lainnya senantiasa berusaha untuk bertahan hidup dan berubah. Untuk bertahan hidup dan berubah maju, manusia dan banyak makhluk hidup lainnya hidup dalam kelompok dan menunjuk pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok (yang tentunya sebagai pihak yang memiliki otoritas) dipatuhi, diikuti dan dijadikan pedoman. Sifat ini, sampai saat ini, masih berlangsung karena memang terbukti mampu membuat manusia dan makhluk hidup lainnya lolos dalam seleksi alam.

Setelah internet, cara berfikir yang oleh Dobelli disebut sesat ini, sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda berubah. Tanda-tanda perubahan itu terindikasi dari mulai munculnya gab atau perbedaan pemikiran antara orang-orang yang memiliki otoritas (pejabat yang berwenang atau ahli) dengan masyarakat pada umumnya.

Cara berfikir seseorang ditentukan oleh asupan informasinya. Sekarang ini ada dua asupan informasi, yakni dari media informasi konvensional seperti televisi,  media cetak, media online dan sejenisnya dan infornasi yang diperoleh dari media sosial.

Sumber-sumber informasi yang dimunculkan di media konvensional pada umumnya adalah sumber-sumber yang berasal dari pihak yang berwenang atau tokoh yang dianggap ahli. Karena itu pengelola media massa konvensional masih tergantung pada pernyataan pejabat dan ahli, sebagai bagian dari kepatuhan terhadap istilah name make news (orang yang punya nama atau terkenal menjadi aktor pembuat berita dan pembentuk opini).  Pembacanya, patuh pada apa saja yang ditulis media konvensional yang dikemukakan pejabat atau ahli, betapapun berita itu tidak seluruhnya benar atau akurat.

Sejak internet situasinya berubah. Generasi milenial sudah mulai mengacu pada keyakinan yang berbeda, karena keyakinannya tidak lagi terbentuk berdasarkan informasi yang berkembang di media konvensional, melainkan berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, termasuk yang dibuat olehnya sendiri.

Fenomena inilah yang menyulit bangkrut dan ditutupnya sejumlah media konvensional di sejumlah negara. Fenomena ini pada akhirnya juga akan membuat istilah name make news menjadi tidak lagi berguna karena dianggap sebagai cara berfikir sesat, dan digantikan oleh cara berfikir yang ditentukan oleh keyakinan diri sendiri berdasarkan informasi yang tersedia di belantara internet yang maha luas.

Masih banyak identitas yang akan mengalami perubahan dalam waktu segera. Saat ini masih masuk dalam kategori wacana, tetapi akan menjadi kenyataan dalam waktu yang diperkirakan tidak akan lama lagi.

Mulai muncul keyakinan bahwa pada saatnya hanya ada tiga yang bersifat tetap, yakni kematian, pajak dan perubahan. Sebab, software atau perangkat lunak akan mengubah semuanya termasuk industri dalam 5-10 tahun ke depan.

Betapa tidak, transportasi daring (dalam jaringan) seperti Uber, tidak memiliki mobil, tapi sekarang menjadi perusahaan taxi terbesar di dunia.

Karena software, maka komputer akan semakin mengerti kebutuhan dunia. Belum lama ini Kepolisian Surabaya bahkan mengumumkan sebuah CCTV yang bisa mengenali seseorang jahat atau tidak. Hal ini sama dengan Facebook yang telah memiliki perangkat lunak yang dapat mengenali wajah dengan lebih baik dari pada manusia.

Mobil yang dikendalikan tanpa bantuan manusia juga bukan hal aneh lagi. Pesawat pun saat ini sudah dirancang tanpa pilot, sebagaimana drone atau taksi udara tanpa bantuan manusia.

Pada saatnya, masyarakat tak perlu lagi datang dan pergi dari tempat parkir, karena cukup menelpon, mobil  akan datang mengampiri. Sebab itu, pada saatnya tidak lagi diperlukan surat izin mengemudi atau SIM karena sudah digantikan oleh sebuah software.

Saat ini, juga sudah banyak orang yang menjadi dokter bagi dirinya sendiri, karena internet mampu memberikan jawaban terhadap berbagai jenis penyakit dan teknis pengobatannya.

Begitu banyak perubahan yang sudah terjadi dan masih akan terjadi sejak temuan teknologi informasi bernama internet.

Identitas Nasional

Pertanyaannya, bagaimana Indonesia merespon gelombang revolusi peradaban yang sudah terjadi dan yang akan terus terjadi secara cepat?  Apakah Indonesia mengiklaskan warganya menjadi warga dunia dengan identitas  sama dengan warga dunia lainnya?

Indonesia sendiri cepat mengenal dan mengadobsi internet, yakni mulai awal tahun 1994, atau 4 tahun setelah penemuan aplikasi WWW, ditandai dengan beroperasinya PT IndoInternet atau IndoNet sebagai penyedia jasa internet atau ISP (Internet Service Provider).  IndoNet sekaligus ISP komersial pertama di Indonesia yang pada awalnya memanfaatkan lisensi dari P.T. Lintas Arta.  Saat ini jumlah ISP di Indonesia mencapai ratusan. Ini pula yang mendorong internet berkembang sangat massif di Indonesia, dengan jumlah pengguna diperkirakan mencapai 140 juta tahun 2020.

Dalam hal internet, keseluruhan warga negara Indonesia terbagi kedalam tiga kelompok usia. Pertama, kelompok usia yang lahir sebelum tahun 1980, disebut Generasi X. Kedua, kelompk usia yang lahir antara tahun 1980-2000 disebut Generasi Y atau populer disebut generasi milenial. Ketiga, generasi yang lahir setelah tahun 2000 disebut Generasi Z.

Generasi X adalah generasi paling berjarak dengan internet dan oleh sebab itu sebut saja anak asing internet. Generasi Y lahir sebelum internet beroperasi seperti sekarang, tetapi menjadi generasi pertama yang menggunakan internat, dan oleh sebab itu sebut saja sebagai anak angkat internet. Sedang Gererasi Z yang lahir setelah tahun 2000, tak diragukan lagi merupakan anak kandung internet.

Generasi milenial yang lahir setelah tahun 1980 sudah berusia antara 14 tahun pada saat internet masuk ke Indonesia tahun 1994. Sekarang, generasi  ini berusia antara 18 sampai 38 tahun.

Menurut data BPS tahun 2015, tahun 2020 generasi milenial berada pada  rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun. Jumlahnya mencapai 83 juta jiwa atau 34 % dari total penduduk Indonesia yang mencapai 271 juta jiwa.  Proporsi tersebut lebih besar dari proporsi generasi yang lahir sebelum 1980 yang jumlahnya sebesar 53 juta jiwa (33 %).

Selebihnya adalah generasi  yang lahir setelah tahun 2000. Generasi ini  pada tahun 2015 berusia 0 – 14 tahun, jumlahnya mencapai 53 juta jiwa (33%) tahun 2020.

Generasi Y dan Generasi Z Indonesia yang jumlahnya sekitar 136 juta orang atau 67 persen dari total penduduk, adalah ujung tombak revolusi peradaban. Generasi Y dan Generasi Z sekaligus penentu nasib Indonesia di masa datang. Masa depan identitas nasional Indonesia yang bersandar pada nilai-nilai Pancasila misalnya, akan ditentukan oleh kemampuan Generasi Y dan Generasi Z dalam mengarungi dan bertarung dalam gelombang revolusi peradaban yang berlangsung cepat.

Apakah Generasi Y dan Generasi Z mampu membuat identitas nasional Pancasila berjaya, bertahan atau malah hanyut dalam gelombang revolusi peradaban? Ini menjadi  pertanyaan cukup serius.

Dalam perspektif ini negara perlu hadir. Dalam perspektif ini pula Generasi X perlu turun tangan. Negara perlu hadir karena posisinya sebagai pemegang otoritas dan pengendali seluruh sumber daya. Dengan otoritas dan sumber daya yang dimiliki, negara dalam hal ini misalnya Unit  Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila,  setidaknya dapat mengintervensi dan mempengaruhi konten-konten internet melalui teknik buzzer atau membekali Generasi Y dan Generasi Z dengan nilai-nilai identitas nasional yang kuat. Sedang Generasi X perlu hadir karena memiliki pengetahuan untuk memperkaya konten-konten internet dengan berbagai hal yang terkait dengan Pancasila sehingga mewarnai dan berpotensi dikonsumsi oleh Generasi Y dan Generasi Z negara lain.

Saat ini, Generasi X cenderung menggunakan internet untuk kepentingan diri sendiri seperti untuk kepentingan partai atau klarifikasi atau kepentingan pencitraan lainnya. Sedang Generasi Y menggunakan internet untuk kepentingan pekerjaan, studi, informasi, komunikasi, pergaulan dan tentu saja juga pencitraan. Sementara Generasi Z nyaris hanya menggunakan internet untuk kepentingan narsisme.

Dalam upaya mempertahankan identitas nasional, dan dalam rangka mencegah bubarnya Indonesia tahun 2030, saatnya melalukan optimalisasi. Penting ada upaya mempengaruhi konten-konten internet dan memperkuat generasi milineal dari statusnya sebagai objek revulosi peradaban menjadi salah satu subjek yang setidaknya ikut mempengaruhi jalannya revolusi peradaban.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here