Genjot UMKM Lokal Untuk Hadapi Produk Cina

0
93
Pameran Kerajinan PPK Sampoerna Expo (Sumber: Kristianto Purnomo)

Nusantara.news, Kota Malang – Ditengah derasnya arus kapitalisme global yang membuat penjualan dan perdagangan bebas menjelajah ke semua lini wilayah dan berbagai negara. Produk-produk luar negri pun mudah malang-melintang seiring pesatnya arus informasi global.

Produk western, korea, hingga cina dengan mudah kita temui di berbagai daerah. Harga yang murah serta tren yang dibilang modern pun menjadi daya pikat masyarakat indonesia untuk membeli produk tersebut dibanding produk-produk lokal khususnya produk dari UMKM.

Namun, di Kota Malang ada satu ajang dimana sebuah pameran produk lokal dalam acara PPK Sampoerna Expo 2017. Gelaran tersebut berlangsung selama dua hari lalu sejak Sabtu (14/10/2017) – Minggu (15/2017) lalu di Taman Krida Budaya Kota Malang ini pun menyuguhkan puluhan stand kece dari berbagai daerah di Indonesia.

Menariknya, disini disuguhkan beberapa kerajinan produk-produk lokal yang dikemas secra inovatif dan kreatif oleh UMKM lokal di Kota Malang, yang digelar bekerjasama dengan CSR PT. HM Sampoerna.

Gelaran tersebut dibuka oleh Menteri Ketenagakerjaan Indonesia, Muhammad Hanif Dhakiri, dalam sambutannya,  ia menekankan, UMKM merupakan salah satu sektor ekonomi yang memberi sumbangsih cukup besar salam keuangan Indonesia.

“Perlu adanya pelatihan dan pengembangan lebih lanjut di masyarakat. Kami dan semua elemen pemerintahan kedepannya akan berkomitmen untuk lebih optimal lagi dalam mengembangkan dan memberdayakan masyarakat, apalagi dari segi UMKM,” pungkasnya.

Asisten Administrasi Umum Kota Malang yang hadir mewakili Walikota Malang, Supranoto menambahkan, di tengah terpaan badai globalisasi, masyarakat dituntut untuk lebih kreatif dan tahan banting. Terutama dalam meningkatkan kewirausahaan yang ada di Indonesia.

“Diperlukan peran dari berbagai elemen untuk meningkatkan profesionalisme agar lebih berdaya saing, guna menguatkan ekonomi masyarakat ditengah derasnya arus globalisasi,” jelas dia.

Pendidikan dan pengetahuan sebagai tumpuan dalam meningkatkan produktivitas, yang juga diberdayakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada masa mendatang, menurutnya perdagangan bebas harus dihadapi pelaku usaha. Maka upaya mengembangkan wirausaha baru yang berbasis pengetahuan sangat mendesak untuk diwujudkan. Trutama dalam meningkatkan daya saing di masa mendatang.

“Penguatan berwirausaha, dirasa hal yang sangat penting bagi sebuh negara untuk menguakan ekonomi masyarakat juga tentunya. Melalui mendorong masyarakat untuk terus mengembangkan  kreativitas dan inovasi,” tegas Supranoto.

UMKM, UKM, atau IKM pada dasarnya sangat berperan dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Selain berkontribusi pada pendapatan nasional juga kesejahteraan masyarakat, juga berpeluang untuk membuka lapangan kerja yang lebih luas dan mampu menyerap tenaga kerja mengurangi jumlah pengangguran. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan salah satu wujud atau potret dari ekonomi rakyat. Para pelaku usaha yang rata-rata adalah kelas menengah kebawah.

PPK Sampoerna UMKM Kota Malang 2017

Para pelaku UMKM mempertanyakan kebijakan pemerintah, adanya peraturan untuk melindungi produk-produk asli dalam negeri terhadap gempuran produk luar negeri, utamanya produk asing khususnya Cina yang semakin menggila.

Keluhan UMKM 

Ditengah arus ekonomi global yang deras, penjajahan ekonomi dilakukan dengan pemasaran produk-produk negara yang dijajakan di negara-negara yang telah dibidik sebagai pasar dan bangsa konsumeris.

Fenomena maraknya barang impor di Indonesia menjadi tantangan dan hambatan bagi para pelaku UMKM, yang mana persaingan dengan barang impor yang diantarannya memiliki model modern dan beberapa diantaranyamemilikiharga yang terjangkau, seperti barang cina.

Berdasarkan keterangan salah satu pelaku UMKM, Rudiantoro bercerita tentang persaingan yang semakin ketat di pasar global menurutnya menjadi masalah paling besar yang dihadapi oleh para pengusaha UMKM.

“Saat ini, banyak dan beragam barang produk dari luar negeri, salah satunya Cina yang semakin menjamur, harga barang Cina pun relatif murah tapi konsumen tidak tahu kualitasnya sangat diragukan,” ujarnya kepada Nusantara.news, Selasa (17/10/2017)

Harga produk luar negeri yang dibandrol sangat murah tersebut membuat pelaku UMKM merasa kesulitan untuk bersaing. “Kini karena beberapa pelaku UMKM yang sedikit geram akan maraknya produk Cina, ada slogan sindiran bukan lagi Cintailah Produk Indonesia, tapi Chinailah produk Indonesia,” gerutu pelaku UMKM dibidang Kerajianan tangan dan Fashion tersebut.

Ia menambahkan penjelasannya, terkait daya beli masyarakat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Masyarakat muda (millenial), lebih menggandrungi produk luar dianggap lebih modern, sedangkan yang tradisional dianggap kuno. Ini yang menjadi salah satu faktor tergerusnya budaya menghilangkan jati diri masyarakan berbangsa dan bernegara.” Tegas pria berambut cepak tersebut.

Pihaknya pun merasa sangat diberatkan dengan beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada pelaku UMKM. Salah satunya penerapan kebijakan pajak satu persen dari omset yang dirasa terlalu besar.

“Kalau seperti ini terus masyarakat akan tergerus, mana fungsi pemerintah? mana peran Negara?,” sindirnya.

Dominasi Cina 

Cina sebagai salah satu negara adikuasa yang terkuat setelah Amerika Serikat, dan Rusia kini bangkit. Sistem pemerintahan dua pintu yang dipakai yakni Komunisme di dalam negri dan Kapitalisme ketika bersinggungan dengan Internasional membuat negara tersebut menjadi negara yang sistem perekonmiannya diperhitungkan.

Dibukannya pintu perdagangan bebas membuat ekspansi ekonomi negara maju menjadi semakin menggila, seperti halnya Cina yang memasarkan produk-produknya ke negara-negara  yang menjadi sektor orientasi wilayah pasarnya atau sebagai negara konsumen, salah satunya yakni Indonesia.

Perkembangan Ekspor Impor Indonesia per-September 2017 (Sumber: BPS)

Terlihat, berdasar berita resmi statistik BPS jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor nonmigas Januari–September 2017 meningkat US$10.218,9 juta (12,03 persen). Jumlah barang impor tersebut di dominasi barang dari Cina.

Kondisi seperti ini sebenanrnya bukan hanya menjadi tantangan bagi pelaku UMKM saja namun dalam skala yang lebih besar ini merupakan sebuah gejolak permasalahan dan ancaman ekonomi bangsa.

Fungsi negara yang harus hadir untuk menyeimbangkan keadaan pasar yang terus dihisap oleh kapitalisme global, yakni para negara atau perusahan multinasional (MNC), yang secara tidak langsung menyebabkan kesenjangan dan kemiskinan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here