Geopolitik Bung Karno Jadikan RI Negara yang Disegani

0
694

Nusantara.news, Surabaya – Ajaran Tri Sakti Bung Karno, berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya, adalah platform politik Sang Proklamator agar Indonesia tidak jatuh lagi ke tangan neo kolonialis dan neo imperialisme (Nekolim).

Itulah ketegasan Putra Sang Fajar sebagaimana   disampaikan oleh Djuanda “Amerika sekarang tak lebih baik daripada Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah (Indonesia), mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produksi. Inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947 saat melancarkan agresi militer dengan sandi “Operatie Produkt”.

Arek Suroboyo yang nama kecilnya Koesno Sosrodihardjo lahir 6 Juni 1901 ini selain memahami, mencoba menerapkan pentingnya tata ruang kota dan tata ruang wilayah Geopolitik. BK telah mendesain seluruh wilayah di Indonesia lengkap dengan bagian-bagian pembangunan sesuai fungsi dan manfaatnya. Sebagai arsitek jebolan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) Bandung, BK meramu menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.

Anak pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ini telah lama menyiapkan konsep perencanaan tata ruang dengan detail. Sebagai arsitek BK juga melahirkan karya besar, berbagai bangunan termasuk patung yang kemudian bertengger di penjuru kota Jakarta.

Tahun 1958, setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal asing (Belanda) sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan merobek-robek perjanjian KMB, BK sebenarnya sudah merancang Jakarta menjadi kota tempur. Seperti Singapura, yang seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan sangat lebar. Itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara.

Masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air

Wilayah-wilayah yang jadi prioritas BK setelah siap perang dengan Belanda adalah Irian Barat. Di sejumlah referensi, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah syarat serta bertujuan agar Indonesia menjadi paling kuat di Asia. Selain Irian Barat, yang menjadi perhatian penting BK adalah Kalimantan. Awalnya Semaun yang membawa saran perpindahan ibukota. Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Uni Soviet di wilayah Asia Tengah.

Gagasan itu isambut antusias oleh BK. Selama 1 tahun BK mempelajari soal Pulau Kalimantan, disimpulkan “masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara”.

BK yang menghabiskan masa mudanya mondok atau kost di rumah Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII Surabaya, dalam penataan wilayah Indonesia membagi dua kekuatan besar, pertahanan nasional dalam dua garis besar yakni, Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya, (itu sesuai dengan garis Geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan Udara di Kalimantan. BK juga mencari kota yang tepat untuk menjadi ibukota Kalimantan.

Suatu malam di hadapan beberapa orang, BK dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, BK kemudian menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, sambil berkata dengan sorot mata tajam ke arah yang mendengar. “Itu Ibukota RI,” kata BK sambil menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan.

Selanjutnya, dalam sebuah kesempatan, BK ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah BK mengatakan “Ibukota RI dimulai dari sini” ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat akan memulai membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang Hindia-Perancis. Ketika itu BK menunjuk sebuah tempat yang sekarang dikenal sebagai Bandung “Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa,” tegasnya.

BK dibantu mantan Gubernur Jawa Timur RTA Milono menyusun dasar-dasar pembentukan kota administrasi provinsi. Dibarengi dengan penyusunan birokrasi dan menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang sampai Merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan. Bahkan, menjelang kejatuhannya di tahun 1966 BK bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali.

Sebagai pusat pelabuhan pedagangan bukan diletakkan di Jawa, tetapi disepanjang pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi. Dan, BK mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang dinamakan “Zona Tapal Kuda”. Untuk wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.

Jakarta disiapkan dibangun untuk display ruang atau model kota modern. Sebagai pusat Kota Jasa Internasional (KJI) tetap Jakarta. Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan kekuatan militer matra udara, Biak di Irian Barat (sekarang Irian Jaya) menjadi pertahanan kekuatan militer matra laut. Bandung menjadi pusat pertahanan kekuatan militer matra darat. Sementara, diproyeksikan kota-kota baru dibangun, dan menjadi percontohan adalah Palangkaraya dan Sampit.

Lokasi tambang dikuasakan negara dan untuk kesejahteraan rakyat

Dari rancangan BK, jika suatu saat perang dengan Inggris terjadi maka jalan-jalan tersebut diperlebar sampai empat belas jalur, agar bisa untuk pendaratan pesawat Mig 21 buatan Uni Soviet. Rencana tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau lokasi tambang-tambang minyak milik asing diambil alih dan diberikan kepada serikat-serikat buruh penguasaan saham dengan atasnama negara dan hasilnya untuk rakyat. Untuk membiayai pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur sangat teliti, sampai saat ini tata ruang Kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia

Cita-cita BK, tahun 1975 Indonesia akan menjadi bangsa terkuat di Asia dan menjadi salah satu negara adikuasa di dunia dalam konteks the big five: Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet dan Jepang. Jepang dan Cina menurut BK masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara terkuat di Asia memimpin tiga zona, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Asia Timur.

Namun, setelah BK jatuh dan digantikan Soeharto, semua persiapan, rancangan dan gagasan BK ‘dibungkam’. Bisa jadi, saat itu Soeharto ketakutan dengan bentuk persebaran kekuatan dan sumber daya manusia (SDM) wilayah di Indonesia. Soeharto sepertinya (paranoid) tidak menghendaki terbentuknya kekuatan pesisir. Kemudian menarik semua kekuatan modal dan sumber daya manusia, dan dipusatkan di Pulau Jawa.

Padahal, sejak lama dirangcang Pulau Jawa disiapkan oleh BK sebagai pulau yang khusus untuk lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan. Namun, fakta yang ada sekarang Pulau Jawa menjadi pusat segala kegiatan dan aktifitas. Akibatnya, menjadi pulau paling padat sedunia dan mulau berangsur hilang kenyamanannya sebagai ‘Surga Khatulistiwa’ sementara Pulau Kalimantan, Irian Jaya dan lainnya dibiarkan kosong melompong. Nahkan, kini dikuasi asing yang mengeruk berbagai kekayaan alam yang terkandung didalamnya.

Ini patut untuk kembali direnungkan, tidak saja oleh akademisi, pemangku kebijakan tetapi oleh semua anak bangsa. Untuk menjadikan NKRI sebagai Surga Khatulistiwa, mandiri di bidang ekonomi, kuat di bidang pertahanan dan keamanan, dengan kembali membuka sejarah rencana penataan yang dirancang oleh BK. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here