Gerakan Mahasiswa Sudah Mati?

0
288

Nusantara.news, Jakarta –  Sebanyak 4.350 rektor dari seluruh Perguruan Tinggi direncanakan akan berkumpul di Bali. Para rektor itu  berkumpul untuk membuat gerakan yang disbut Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme. Pertemuan ini mengingatkan kita tentang keberadaan mahasiswa dan pemuda sebagai agen perubahan? Mengapa yang berorganisasi sekarang adalah para rektor dan bukan mahasiswa? Pertanyaan lain, mengapa setelah refomasi tidak terdengar lagi ada gerakan mahasiswa? Gerakan mahasiswa sudah mati?

Sepi Gerakan

Pertanyaan di atas perlu dikemukan, karena hampir 20 tahun reformasi, belum muncul seorang yang menyandang gelar sebagai tokoh pemuda atau tokoh mahasiswa. Tidak ada suatu gerakan yang dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa yang signifikan yang mampu mengubah arah pembangunan bangsa dan negara.

Ini agak anomali, karena di Indonesia dikenal dengan apa yang disebut sebagai siklus 25 tahunan, di mana, setiap (kurang lebih) 25 tahun selalu muncul gerakan perubahan yang dipelopori oleh pemuda dan mahasiswa. Tahun 1928 para pemuda memelopori sumpah pemuda. Tahun 1945 pemuda mendesak Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Tahun 1966 pemuda mahasiswa memelopori munculnya orde baru. Tahun 1998 pemuda mahasiswa memelopori gerakan reformasi.

Pada masing-masing zaman ini ada tokohnya. Sumpah Pemuda 1928, ada nama Sutan Sjahrir sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah perjuangan yang bersifat kedaerahan dalambentuk perhimpunan -perhimpunan kedaerahan menjadi perjuangan yang bersifat nasional, melalui kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Pada masa ini bahkan begitu banyak nama-nama tokoh pemuda yang melakukan gerakan perubahan. Soekarno bahkan ditangkap, karena dituding ingin menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda. Soekarno dijebloskan ke penjara dan meringkuk dalam sel terisolasi yang pengap dan lembab ukuran 1,5 x 2,5 di Bandung. Namun, pemuda Soekarno tak kenal gentar. Tahun 1930 di hadapan pengadilan kolonial (landraad) di Bandung, ia membacakan pleidoi berjudul Indonesia Menggugat yang terkenal.

Haji Oemar Said Tjokro Aminoto, muncul dengan mengubah Sarekat Dagang Islam yang berorientasi perdagangan menjadi Sarekat Islam dengan orientasi pergerakan. Tahun 1925, Tan Malaka juga hadir dengan buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia).

Tahun 1966 juga begitu banyak muncul nama tokoh mahasiswa dan pemuda. Antara lain Akbar Tandjung, Nono Anwar Makarim, Sarwono Kusumaatmadja, Adnan Buyung Nasution dan lain sebagainya. Tahun 70-an ketika orde baru mulai memerintah dengan tangan besi, muncul gerakan golput (golongan putih) yang mlahirkan Arief Budiman sebagai tokohnya. Ketika orde baru membiarkan modal asing  mendominasi perekonomian Indonesia, muncul gerakan Malari dengan Hariman Siregar sebagai tokohnya.

Ketika orde baru mulai meredam pengaruh mahasiswa melalui pemberlakuan NKK/BKK, juga muncul gerakan penentangan. Pada gerakan reformasi, juga muncul tokoh mahasiswa namun tidak setenar tokoh-tokoh mahasiswa pada era sebelumnya.

Neokolonialisme

Mengapa mahasiswa dan pemuda pasca reformasi sepi gerakan? Apakah sudah tidak zamannya lagi melakukan gerakan seperti yang dilakukan pemuda dan mahasiswa era 1928, 1945, 1966, atau 1997?

Dari kondisi yang dihadapi negara saat ini, maka mahasiswa saeharusnya sudah turun. Sebab begitu banyak persoalan yang nyaris tidak kunjung terselesaikan oleh pemerintah. Misalnya soal utang negara yang membengkak sejak Jokowi. Soal daya beli masyarakat yang rendah. Soal aktifitas ekonomi Indonesia yang nilai tambahnya jatuh ke pemodal asing. Soal korupsi yang terus terjadi. Soal partai politik yang asyik “berdagang sapi”. Soal penetrasi China dan lain sebagainya.

Pada momen kemerdekaan lalu, bahkan cukup banyak tulisan di media massa yang mengungkit keberadaan asing di indonesia. Indonesia sudah merdeka tetapi tidak berdaulat.

Dari segi ini, mahasiswa dan pemuda sebagai agen perubahan seharusnya sudah turun tangan. Sebab, apa yang dikhawatirkan Bung Karno yakni neokolonialisme, kini nyaris menjadi kenyataan. Konsep trisakti (berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya) yang dikemukakan Jokowi ketika kampanye presiden, hanya dimanfaatkan sebagai cara memikat hati masyarakat saat kampanye itu saja.

Mengapa mahasiswa dan pemuda diam saja?

Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini.

Pertama, mahasiswa dan pemuda terpesona dan hanyut dalam langgam yang dimainkan oleh elite partai politik.

Kedua, mahasiswa dan pemuda mengalami kesulitan memahami kompleksitas persoalan.

Ketiga, mahasiswa dan pemuda mengalami kesulitan membedakan antara kenyataan dan yang dinyatakan

Keempat, Mahasiswa dan pemuda terlalu asyik dengan medsos (media sosial) atau sudah merasa melakukan sesuatu ketika menumpahkan uneg-unegnya tentang pemerintah dan negara melalui akun medsos masing-masing.  Medsos membuka ruang komunikasi antar mahasiswa seluas-luasnya, tetapi tidak mendorong mereka berorganisasi.

Kelima, mahasiswa dan pemuda hanyut dalam ritme pragmatisme akibat pamer kemewahan yang tampak dari gaya hidup para elite.

Keenam, mahasiswa dan pemuda terpesona dengan para senior mereka yang menjadi komisaris di BUMN, menjadi penasehat anggota DPR, masuk lingkaran pemerintahan, menjadi anggota LSM mitra BUMDes, dan lain sebagainya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here