Gerakan Tit-For-Tat Ancam Stabilitas Ekonomi Dunia

1
332
Saat Trump berkunjung ke China, November tahun lalu, didampingi Presiden China Xi Jinping disambut defile pasukan/ Foto Business Insider

Nusantara.news, Jakarta – Saling balas pengenaan tarif dalam Perang Dagang Amerika Serikat (AS) – China berpotensi menggoyang stabilitas ekonomi global. Gerakan saling balas itu disebut tit-for-tat yang berdasarkan definisi dictonary.cambridge.org berarti “tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghukum pihak lain karena mereka telah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.”

Sebagaimana diberitakan sejumlah media internasional, setelah China merespon balik pengenaan tarif atas produknya yang diperdagangkan di AS, Presiden Donald J Trump mengintruksikan para pejabatnya untuk mempertimbangkan tarif lebih US$ 100 miliar – sekitar Rp1380 triliun – terhadap China. Ini akan menjadi tambahan dari tarif US$ 50 miliar yang diusulkan untuk ratusan produk asal negeri Panda.

Intruksi Trump muncul setelah China membalasnya dengan mengancam pengenaan tarif tinggi terhadap 106 produk utama AS yang diekspor ke negaranya. Gerakan tit-for-tat ini telah menggoyang pasar global dalam beberapa pekan terakhir. Analis mengingatkan, gerakan tit-for-tat ini tidak baik untuk ekonomi global atau pasar – dan perundingan di balik layar yang sedang berlangsung di antara dua raksasa itu sangat penting untuk terus dilakukan.

Namun reaksi pasar di perdagangan Asia pada Jumat Legi pagi ini justru menyarankan investor tidak terganggu, dan kekhawatiran perang dagang agak dibesar-besarkan. Di China, indeks pasar saham “Hang Seng” di Hongkong berada dalam wilayah positif naik 1,5%. Harga acuan di Nikkei 225 Jepang juga diperdagangkan lebih tinggi setelah sessi pagi.

Gerakan Tit-for-tat

Pekan lalu Washington menetapkan sekitar 1300 produk asal China terancam pengenaan tarif hingga 25%. Langkah itu diambil setelah pada awal tahun ini AS mengumumkan pengenaan pajak impor untuk alumunium dan baja yang menyasar ke produk made in China. Tarif baru itu, ujar Juru Bicara Gedung Putih, sebagai tanggapan atas praktik hak kekayaan intelektual China yang tidak adil – misalnya menekan perusahaan AS untuk berbagi teknologi dengan perusahaan China.

China tidak tinggal diam. Pekan lalu China merespon dengan cepat dan kuat dengan mengusulkan tarif atas 106 produk utama AS yang dipasarkan di negaranya – antara lain kedelai, suku cadang pesawat, jus jeruk dan produk-produk pertanian AS yang memiliki implikasi politik terhadap masa depan Presiden Donald Trump dan Partai Republik yang sedang berkuasa.

 Dalam sebuah pernyataannya, Trump menuding balasan China tidak adil. “Daripada memperbaiki kesalahannya. China telah memilih merugikan petani AS dan produsen kami,” kecam Trump, sekaligus menandaskan: “Mengingat pembalasan China yang tidak adil, saya telah mengintruksikan USTR (United State Trade Relations/Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat) untuk mempertimbangkan apakah US$ 100 miliar tarif tambahan akan sesuai dan akan segera mengidentifikasi produk yang dikenai tarif tambahan.”

Trump juga menegaskan telah mengintruksikan para pejabat pertanian untuk menerapkan rencana melindungi petani AS dan kepentingan pertanian. Dengan kata lain, produk pertanian AS akan mencari “pasar pengganti” apabila produknya terganjal di China. Selain China, Indonesia juga termasuk pasar kedelai dan buah-buahan AS. Bukan tidak mungkin produk-produk pertanian itu – dengan kekuatan yang dimilikinya – masuk ke Indonesia dan sekaligus mengancam program kedaulatan pangan kita.

Sedangkan China – selain melakukan pembalasan terhadap produk AS – juga memulai pengaduan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO/World Trade Organization) tentang pengenaan tarif sepihak oleh AS – dan sejumlah analis menyebut ini akan menjadi proses yang berlarut-larut yang tidak menguntungkan kedua-belah pihak.

Kamis Kliwon kemarin WTO mengedarkan formulir permintaan untuk konsultasi kepada anggota – memulai periode diskusi sebelum pengaduan menuju proses penyelesaian. Mediasi lewat WTO yang menjadi penyokong utama pasar bebas akan menuai kendala di sejumlah negara – termasuk AS – yang sebagian produknya merasa diperlakukan tidak adil oleh perdagangan bebas meskipun untuk produk yang lain – misal pertanian – AS diuntungkan oleh liberalisasi pasar.

Tidak Menang Mudah

Sebelumnya Trump – tepatnya pada akhir tahun 2017 – sesumbar akan dengan mudah memenangkan “Perang Dagang” – khususnya dengan China yang menurutnya menerapkan praktik perdagangan yang tidak adil. Pernyataan itu terucap saat Trump merencanakan kenaikan tarif untuk baja dan alumunium setelah sebelumnya mengumumkan kenaikan tarif untuk panel surya yang menyasar produk China.

Apabila Trump tetap nekat dengan “Perang Dagang” – apalagi perang dagang itu berlaku ke semua negara yang menjalin hubungan perdagangan dengan AS – tentu saja akan menuai pembalasan dari negara-negara yang terkena sasaran. Uni Eropa, Inggris, Rusia, India, negara-negara Asia dan Amerika Latin tidak akan tinggal diam. Bukan tidak mungkin AS sebagai raksasa ekonomi dunia justru terisolasi dari perdagangan dunia yang memukul perekonomian dalam negerinya.

Sebagian besar ekonom dan pakar perdagangan menolak pandangan, AS akan dengan mudah memenangkan perang dagang. Setiap negara – ungkap sejumlah ekonom – termasuk AS, akan kehilangan posisi dalam pertarungan perdagangan yang serius. “Jika yang kita bicarakan siapa yang paling disakiti, itu mungkin adalah Amerika Serikat, tetapi semua negara terluka dalam perang dagang,” ulas Edward Alden – rekan senior di Dewan Hubungan Luar Negeri.

Sebut saja pengenaan tarif baja danalumunium untuk produk impor tidak dengan sendirinya akan meningkatkan produksi dalam negeri sebagaimana yang diungkap Trump, pengenaan tarif impor baja dan alumunium akan meningkatkan investasi lokal dan membuka banyak lapangan kerja bagi warga AS.

Karena perubahan teknologi robotic telah mengancam industri padat karya. Alih-alih jumlah pekerja yang meningkat, industri baja yang tumbuh tidak akan diikuti oleh pertumbuhan tenaga kerja yang signifikan.

Para pengusaha baja dalam negeri AS yang hadir saat pengumuman Trump pun tidak bisa menjamin membuka lapangan kerja yang banyak. Berdasarkan analisis tahun 2002 oleh Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional – ketika kenaikan tarif impor didesakkan produsen baja lokal – pengenaan tarif impor yang tinggi hanya akan menyelamatkan 3500 pekerjaan.

Risiko bagi AS

Saat ini industri baja di AS hanya mempekerjakan sekitar 140 ribu orang – jauh lebih sedikit ketimbang sektor-sektor lainnya yang bergantung kepadanya. Kriti katas tarif impor sudah mulai diteriakkan warga negara AS sendiri. Sebut saja Federasi Ritel Nasional mengecamnya sebagai “pajak atas keluarga AS”.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menyebutkan sebagai reaksi berlebihan, meskipun sejumlah kalangan menilai akan menjadi beban ekonomi yang sangat serius. Charlotte Observer melaporkan, Electrolux – perusahaan mesin cuci dan kompor AS – telah menuda ekspansi yang direncanakan untuk Tennessee. Padahal sebelumnya, Electrolux optimis usahanya akan maju pesat dengan adanya pengenaan tarif impor untuk produk pesaingnya.

Selain itu tarif juga akan memicu gerakan tit-for-tat – kalah menjadi abu menang menjadi arang. Negara-negara yang sudah menjalin kesepakatan perdagangan bebas – seperti Canada lewat North America Free Trade Area (NAFTA) – akan berusaha mendapatkan pengecualian dari tarif dan itu akan mencederai negara-negara lainnya. Perang tarif akan terjadi di semua negara terhadap produk AS – dengan alasan menghambat produk China masuk lewat negara lain – dan itu akan membuat AS menjadi musuh bersama.

Memang, negara-negara yang produknya dikenai biaya masuk bisa melaporkannya ke WTO. Namun prosesnya sangat berlarut-larut, dan Trump telah meremehkan lembaga-lembaga multi-lateral seperti WTO yang dalam pandangan politiknya hanya “memeras” bangsa AS. Selain itu hakim dalam WTO akan ragu-ragu mengartikan “alasan keamanan nasional” di balik keputusan Trump untuk menaikkan tarif impor.

Perlu juga dipertimbangkan, kendati AS menuding China membanjiri pasar baja dan alumunium murah yang membangkrutkan industri dalam negerinya, namun China juga memiliki posisi tawar atas produk-produk AS – seperti mobil, teknologi dan pertanian yang juga berkepentingan masuk ke pasar China.

Terakhir kali, perang dagang yang dikobarkan Trump akan memiliki konsekuensi politik di dalam negeri yang tidak jelas. Karena produsen baja dan alumunium jelas diuntungkan oleh tindakan ini. Tapi bagaimana dengan sektor teknologi dan pertanian yang memiliki pangsa pasar yang besar di China?

Apa pun itu, Indonesia yang memiliki hubungan dagang – baik dengan China maupun AS – perlu berhati-hati dalam menyikapi runcingnya situasi tit-for-tat dalam perang dagang antara China VS AS. Jangan sampai kita bernasib seperti Pelanduk yang mati di tengah. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here