Gestur Tak Patut Jokowi di Debat Capres Kedua

0
448

Nusantara.news, Jakarta – Debat capres atau calon presiden kedua yang digelar Minggu, 17 Februari 2019 dengan tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, berakhir damai. Secara umum, debat kali ini dinilai lebih baik dibanding debat pertama (baik dari sisi teknis acara maupun penampilan kandidat).

Terlepas beberapa catatan miring, utamanya terhadap penampilan kedua capres pasca debat, ada sisi keunggulan masing-masing yang menjadi sorotan. Capres 01 Jokowi, dalam menyampaikan paparanyan cukup detail dan disertai beberapa data, meski klaim data yang disampaikan masih banyak yang keliru. Namun, kali ini capres petahana sepertinya mencoba tampil dengan mengedepankan aspek logos (menjelaskan secara rasional/logis).

Sementara itu, keunggulan Prabowo terletak pada penampilannya yang lebih rileks, jujur, dan menonjolkan aspek pathos (merengkuh psikologis/emosi khalayak). Bahasa tubuh capres 02 ini juga lebih bersahabat, meski dalam kadar tertentu terkesan terbawa oleh ‘permainan’ lawan, salah satunya dengan malah sejalan dan memuji Jokowi. Padahal hakikat perdebatan bukan untuk memberi apresiasi, tetapi forum mengadu argumen yang berbeda dan menguji solusi.

Memang, pada debat kedua kemarin Jokowi terlihat begitu percaya diri. Lantaran salah satu tema debat mengangkat isu infrastruktur. Akan tetapi, justru karena Jokowi ‘over pede’, sehingga saat mengeluarkan data-data justru tidak valid. Sebut saja saat Jokowi mengatakan dalam 4,5 tahun hampir tak ada konflik pembebasan lahan untuk infrastruktur. Namun, Walhi mencatat, sepanjang tahun lalu terdapat 555 konflik agraria.

Kemudian Jokowi juga mengatakan bahwa dalam era pemerintahannya telah membangun 191 ribu jalan di desa. Namun, dalam rapor tahunan Jokowi yang diunggah melalui channel YouTube Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Oktober 2018 tercatat 158.691 km jalan desa yang terbangun. Berikutnya adalah klaim Jokowi bahwa pemerintahannya berhasil mengatasi kebakaran lahan gambut. Ironisnya, pada 2018, angka kebakaran naik drastis. Daerah terdampak menjadi 125.340 hektare. Jokowi juga keliru data terkait dengan angka impor jagung.

Yang menarik, saat debat berlangsung, gestur atau bahasa tubuh Jokowi terlihat negatif terhadap kritik Prabowo. Misalnya mata Jokowi agak melotot, geleng-geleng kepala, hingga mengerutkan bibirnya sebagai tanda tak setuju atas pandangan mantan Danjen Kopassus itu.

“Jokowi lebih banyak melihat ke arah kanan atau kiri-kanan, seperti nggak dengarkan. Arah liat ke kiri-kanan kalau nggak setuju dan nggak nyaman dengan pernyataan Prabowo. Tapi ada yang liat langsung ke kiri saat benar-benar nggak setuju dengan pernyataan Prabowo,” ungkap pakar ekspresi dan gestur Handoko Gani.

Ekspresi Jokowi yang dimaksud Handoko jika kita simak terjadi saat Prabowo menjawab pertanyaan terkait 25 persen penduduk miskin hidup di pesisir, menyoroti kehidupan nelayan, dan cuma mendengar laporan yang bikin Jokowi senang. Ekspresi Jokowi sempat melunak saat dipuji soal prestasi pemerintah. Namun kembali merasa tidak nyaman ketika ada disinggung soal kehidupan nelayan.

Senada, psikolog dan pakar personal branding Dewi Haroen memberikan analisis terhadap capres nomor urut 01, Menurutnya, Jokowi terlihat lebih emosional dan reaktif pada beberapa momen debat, salah satunya pada saat sesi tanya jawab. “Waktu sesi tanya jawab, ekspresi dia kurang menyenangkan. Jadi seperti orang yang menahan emosi, harusnya dia senyum aja. Jadi pas Prabowo mengkritik, bertanya, ekspresinya senyum aja. Kelihatan dari mukanya pak Jokowi marah,” ujarnya.

Sedangkan menurut ekonom Rizal Ramli, gestur calon petahana itu menunjukkan indikasi dirinya tidak demokratis .”Dalam debat dua sesi (pertama) Jokowi kelihatan marah, emosional. Gestur marah dan emosional Jokowi itu justru menunjukkan indikasi tidak demokratis, cenderung otoriter,” kata mantan anak buah Jokowi di pemerintahan itu seusai debat.

Tentu saja, bahasa negatif capres petahana itu tidaklah patut. Sebab, selain bisa diinterpretasikan sebagai sikap congkak dan antikritik, juga bisa menyebabkan Jokowi kehilangan simpati publik.

Mengapa Prabowo Tak Serang Balik?

Di luar gestur, catatan negatif Jokowi juga tampak dari cara dia menyerang integritas personal Prabowo. Meski tidak termasuk pelanggaran, namun dalam tata tertib debat sudah jelas disebutkan larangan kandidat menyerang secara personal. Pola ini sebetulnya sudah terlihat sejak debat perdana. Kritik Prabowo selalu dimentalkan kembali oleh Jokowi karena petahana memilih strategi mengalahkan kritik itu dengan meruntuhkan integritas sang pembawa kritik.

Sebulan lalu, Jokowi sempat menyeret kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Ia juga memancing kubu Prabowo-Sandiaga Uno lewat pertanyaan soal caleg eks-koruptor dari Gerindra. Puncaknya, saat pidato penutupan Jokowi pada debat perdana. Secara tersirat Jokowi menyindir masa lalu Prabowo yang diduga terlibat dalam penculikan aktivis 1998. “Kami tidak punya potongan diktator atau otoriter. Kami tidak punya rekam jejak melanggar HAM. Kami tidak punya rekam jejak melakukan kekerasan,” ucap Jokowi.

Menanti debat berikutnya antara Prabowo dengan Jokowi

Pola sama diulangi lagi oleh Jokowi pada debat kedua. Jokowi sempat menyebut Prabowo sebagai “orang yang kurang optimis” saat menanggapi isu tata kelola revolusi industri 4.0 bagi sektor pertanian, perikanan, dan peternakan skala kecil.

Frasa “kurang optimis” ini mendorong Prabowo menekankan diri sebagai orang yang optimis. Prabowo bahkan menyebut dua frasa “saya bukan (orang) pesimis” dalam sesi infrastruktur, energi, dan pangan; serta saat sesi “debat inspiratif”–sesi sebelum pernyataan penutup.

Serangan Jokowi secara personal kembali terjadi saat berbincang masalah agraria. Prabowo mengkritisi bagi-bagi sertifikat tanah yang dilakukan Jokowi. Untuk membungkam kritik itu, Jokowi memaparkan data kepemilikan ratusan ribu hektare lahan milik Prabowo.

“Saya tahu Pak Prabowo memiliki lahan yang sangat luas di Kalimantan Timur sebesar 220.000 hektare, juga di Aceh Tengah 120.000 hektare. Saya hanya ingin sampaikan bahwa pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan (sebelum) masa pemerintahan saya,” pungkas Jokowi.

Meski Jokowi kerap menyerang secara personal dan kadang ‘jahil’ dengan mengajukan pertanyaan yang kurang familiar bagi lawan, seperti “unicorn (pada debat capres kedua 2019) dan TPID (pada debat capres 2014)”, namun Prabowo tak juga terpancing membalas serangan. Seolah, karakter lunak Prabowo ini berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan di luar forum debat: garang dan tajam.

Namun di sisi lain, sikap Prabowo yang tak menyerang balik dan cenderung sabar mendapatkan ‘perlakuan’ dari Sang Petahana, boleh jadi akan mendulang untung karena orang kemudiaan merasa bersimpati kepada Prabowo. Ujungnya, simpati itu berbuah dukungan elektoral. Pun begitu, sesekali Prabowo tampaknya harus berpikir cara ‘melumpuhkan’ lawan dengan telak tanpa perlu menyerang personal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here