Getuk Tular Krisis Turki Mulai Merambat ke India

0
114
Presiden Recep Tayyep Erdogan dan Presiden Donald Trump bersaing keras dalam perang dagang, menyebabkan lira terkoreksi sangat tajam.

Nusantara.news, Jakarta – Krisis ekonomi yang melanda Turki benar-benar membuat Presiden Recep Tayyep Erdogan pusing tujuh keliling. Bahkan paparan krisis mata uang lira sudah mulai merambat ke rupee India.

Tentu saja Erdogan dan Perdana Menteri Narendra Damodardas Modi tak mengira kalau lira dan rupee akan jatuh ke posisi terendah. Namun demikian nasi telah menjadi bubur, krisis ini memang dahsyat dan siap-siap merambat ke kawasan Asia lainnya.

Kalau pada krisis 1998 mata uang pertama yang dihantam para fund manager global adalah baht Thailand, lalu merambat ke peso Filipina, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan kemudian yang terlama dan terdalam menghantam rupiah. Akankah efek domino krisis Turki ini meluas ke negara Asia Timur dan Asia Tenggara?

Pada transaksi Senin (13/8) pagi, mata uang rupe India menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di posisi 69,62 per dolar AS. Rupe bergabung dengan mata uang emerging market lainnya yang juga terdepresiasi seiring kecemasan akan krisis Turki.

Menurut dealer valuta asing, Bank Sentral India (RBI) terlihat melakukan intervensi demi menghambat pelemahan rupee lebih dalam lagi. RBI hadir di pasar untuk meredam volatilitas di awal perdagangan. Namun, tidak besar-besaran

Belakangan rupe saat ini hanya mampu menguat tipis dari level rekor terlemahnya dan diperdagangkan di posisi 69,53 per dollar AS. Pada Jumat (10/8) lalu, rupe ditutup pada posisi 68,84 per dollar AS. Sementara, tingkat yield surat utang pemerintah India berdurasi 10 tahun naik ke posisi 7,8% dari level penutupan sebelumnya di level 7,75%, sejalan dengan pelemahan rupe.

Saat ini, investor lebih memilih untuk menggenggam safe haven area seperti dolar AS dan yen, setelah anjloknya nilai tukar lira memberikan efek domino ke seluruh mata uang emerging market.

Sejak Januari, lira sudah melemah sekitar 45% terhadap dollar AS tahun ini, seiring dengan kecemasan bahwa Erdogan akan meningkatkan kontrol atas perekonomian Turki dan memburuknya hubungan diplomatik dengan AS.

“Tidak ada gunanya menggunakan banyak dolar dalam mempertahankan rupee saat seluruh mata uang emerging market mengalami kondisi serupa,” menurut senior forex dealer di bank pemerintah India.

Dia memprediksi, level krusial untuk rupe berikutnya adalah 69,80 per dollar AS.

Di sisi lain, para trader juga akan memperhatikan data inflasi konsumen India bulan Juli yang dijadwalkan akan dirilis pasca penutupan pasar. Hasil polling Reuters mengestimasi, tingkat inflasi Juli India sebesar 4,51% dibandingkan dengan bulan sebelumnya di level 5%.

Efek Turki

Sebenarnya penyebab awal terjadinya krisis ekonomi yang melanda Turki belakangan ini karena ekonomi yang memiliki ketergantungan tinggi pada investor asing.

Situasi ini bermula pada 2011. Saat itu, bank-bank sentral di seluruh dunia ramai-ramai memulihkan negara-negara masing-masing dari krisis keuangan. Tiga tahun sebelumnya, pada 2008, krisis ekonomi memang mendera beberapa negara. Terutama Amerika yang menjadi pemicu krisis Subprime Mortgage.

Sementara di Turki, banyak bank yang kemudian meminjam uang dalam bentuk dolar AS dari luar negeri untuk dipinjamkan ke perusahaan lokal. Tujuannya membuat perusahaan-perusahaan itu bisa tumbuh cepat. Jadi, ekonomi Turki makin bergantung pada pembiayaan dari luar.

Nilai tukar lira sebenarnya sudah anjlok 70% sejak awal tahun dan beberapa kali sempat bangkit, lalu jatuh lagi. Pada 1 Januari 2018, nilainya masih bertengger di angka 3,78 lira per dolar Amerika. Artinya, nilai mata uang sudah anjlok sekitar 69% atau mendekat 70%, lebih tinggi dari yang dikabarkan semula, yaitu 40%.

Institute of International Finance (IIF) mengungkapkan utang perusahaan Turki dalam mata uang asing saat ini sudah mencapai US$5 triliun. Turki bergantung pada utang mata uang asing lebih dari negara emerging-market lainnya.

Saat ini, ancaman makin besar karena anjloknya nilai tukar lira membuat perusahaan akan membayar utang dengan lebih mahal. Perusahaan di sana mengabaikan semua risiko dan terus meminjam dolar AS.

Itu sebabnya, ketika kebijakan Federal Reseve yang menaikkan suku bunga acuan, karuan saja mata uang utama dunia terkoreksi secara tajam. Termasuk menghantam lira, rupee, dan bahkan rupiah. Situasi bertambah suram ketika Presiden Donald Trump mempermaklumkan perang dagang terhadap sejumlah negara, termasuk Turki, India dan Indonesia.

Sejumlah emir di negara teluk berusaha menolong Turki dengan melepas dolar dan membeli lira Turki. Walaupun sempat membendung pelemahan lira, namun arus pelemahan lira semakin deras, sehingga belum mampu membendung arus capital flight. Karena itu Erdogan terus merayu negara teluk untuk terus berinvestasi dan memborong lira. Bahkan beberapa pelancong Arab terus berupaya memborong barang-barang mewah di Turki guna memberikan dorongan konsumsi di dalam negeri.

Pertanyaannya, sampai kapan Turki dapat bertahan? Akankah kekuasaan Erdogan tumbang karena didera krisis ekonomi yang cukup berat ini? Sebelumnya Erdogan sempat beberapa kali dikudeta dan selalu selamat. Semoga kali ini Erdogan tetap mampu bertahan walaupun serasa ditikam dari belakang oleh Presiden Trump lewat perang dagangnya terhadap Turki.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here