Gila, Harta 4 Orang Terkaya Indonesia Setara Harta 100 Juta Orang Miskin

0
889
Foto ilustrasi: Malaysia Today

Nusantara.news, Jakarta – Kesenjangan antara kaya dan miskin di Indonesia melebar lebih cepat ketimbang negara-negara lain di Asia Tenggara. Menurut hasil riset Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesian Development (lNFlD), empat orang terkaya di Indonesia saat ini memiliki kekayaan melebihi dari kekayaan 100 juta orang miskin di Indonesia.

Taipan rokok dan cengkeh Budi dan Michael Hartono bersaudara mengendalikan aset sekitar USD 25 miliar, kira-kira sama dengan kekayaan 40% orang miskin dari 250 juta penduduk Indonesia.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil tidak diikuti dengan distribusi yang adil dan merata dalam pendapatan penduduknya.

Menurut Oxfam, lembaga nirlaba asal Inggris yang didirikan sejak 1942 di Oxford Inggris itu, Indonesia termasuk peringkat ke enam di dunia dalam kesenjangan antara kaya-miskin. Di Asia, Thailand dianggap negara yang paling merata harta kekayaan penduduknya.

Oxfam menuding “fundamentalisme pasar” adalah biang keladi dari terjadinya kesenjangan yang makin melebar ini. Dalam dua dekade terakhir, fundamentalisme pasar telah memungkinkan orang-orang terkaya menyerap keuntungan sangat besar dari pertumbuhan ekonomi yang kuat selama ini.

Menurut mereka, fundamentalisme pasar diperkenalkan ke Indonesia pada tahun 1997 dan telah memfasilitasi orang-orang kaya untuk menyedot keuntungan terbesar dari pertumbuhan ekonomi, salah satunya lewat koneksi politik yang mereka punya. Orang-orang kaya memiliki akses untuk mempengaruhi pengambil keputusan dan mengubah peraturan yang menguntungkan mereka.

Sementara di sisi lain, upah pekerja masih rendah sehingga tidak cukup untuk menurunkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan secara signifikan. Sebab lain, adalah pertumbuhan ekonomi yang berpusat hanya di perkotaan dan sistem perpajakan gagal mendistribusikan kekayaan negara secara merata.

“Ketimpangan di Indonesia mencapai tingkat krisis. Jika dibiarkan, kesenjangan yang besar antara kaya dan miskin dapat merusak upaya mengurangi kemiskinan, memperburuk instabilitas sosial, dan menghentikan laju pertumbuhan ekonomi,” kata Dini Widiastuti, juru bicara Oxfam di Indonesia, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (23/2).

Oxfam juga pernah merilis laporan pada tahun 2006 data yang menunjukkan satu persen orang paling kaya di Indonesia menguasai hampir setengah kekayaan negara (49.3%).

Hanya dalam satu hari, orang-orang terkaya Indonesia bisa mendapatkan keuntungan lebih dari seribu kali kebutuhan dasar orang miskin Indonesia selama satu tahun.

Selama ini, Presiden Joko Widodo selalu mengatakan bahwa mengurangi kesenjangan merupakan prioritas utama bagi pemerintahnya. “Pertumbuhan ekonomi sangat penting bagi pemerintahan saya, tapi lebih penting untuk mempersempit kesenjangan,” kata Jokowi saat itu.

Namun, kenyataannya menurut laporan tersebut pemungutan pajak di Indonesia adalah yang terendah kedua di Asia Tenggara, selain sistem pajak yang gagal memainkan peran penting dalam mendistribusikan kekayaan negara secara merata.

Oxfam menyebutkan, sekalipun pertumbuhan yang cepat pada produk domestik bruto (PDB), yang rata-rata sebesar 5% antara tahun 2000-2016, yang membuat orang miskin di Indonesia dengan kategori pendapatan kurang dari USD 1,90 sehari telah menurun tajam, namun pada kenyataannya 93 juta orang Indonesia masih hidup dengan kurang dari USD 3,10 (menurut definisi Bank Dunia masuk dalam garis kemiskinan moderat).

Kesenjangan ekonomi picu gerakan populisme

Data Oxfam selaras dengan yang pernah disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri pertengahan Januari lalu. Dia menyebut 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 75,7 persen kekayaan nasional. Kekayaan tersebut diperoleh karena faktor kedekatan dengan kekuasaan.

“Di sisi lain, pemerintah belum mampu meningkatkan kesejahteraan kelompok pekerja,” kata Faisal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, masih terdapat 28,01 juta jiwa yang hidup miskin. Kemiskinan yang paling parah berada di wilayah pedesaan. Baik indeks kedalaman kemiskinan maupun keparahan kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat.

BPS mencatat, periode November 2014 hingga 2016, pendapatan rata-rata petani Indonesia menurun 3,44. Sedangkan pendapatan pekerja konstruksi turun 0,76 persen.

Di belahan dunia lain, kesenjangan ekonomi menciptakan kesenjangan sosial dan memicu lahirnya kelompok-kelompok masyarakat yang kecewa dengan pemerintah dan anti terhadap establisment, serta mengalihkan dukungannya kepada tokoh-tokoh politik populis. Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, Brexit adalah sejumlah contoh akibat fenomena ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here