Golkar Berjaya di Pilkada Serentak 2017 Jawa Tengah

0
775
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Petinggi Partai Golkar di Jawa Tengah pantas mengumbar senyum. Diantara 7 pasangan calon yang diusung, untuk sementara hanya gagal di Kabupaten Jepara yang hanya kalah tipis dari pasangan petahana.

Sebaliknya PDI Perjuangan, dari tujuh pasang yang dimajukan hanya menang di Pati, Jepara dan Brebes, yang ketiganya memang pasangan petahana. Sedangkan di Kabupaten Batang yang tidak diikuti petahana, jagoannya keok melawan Koalisi yang dipandu oleh Partai Golkar.

Ada pun di Kabupaten Banjarnegara, mantan Bupati Hadi Subeno yang jabatannya habis tahun 2016 kalah di urutan paling buncit melawan pasangan yang dijagokan Partai Golkar. Kali ini Bupati petahana itu diusung oleh PKS, PKB, Gerindra dan Nasdem serta didukung oleh PPP versi Djan Farid.

Semua petahana yang maju di Pilkada Jawa Tengah, kecuali Banjarnegara yang suaranya palin buncit,  tampaknya bakal mulus mempepanjang jabatannya. Ganjalan mungkin akan dialami petahana Kabupaten Jepara dan Kota Salatiga yang hanya menang tipis atas lawannya.

Berikut ini perolehan hasil rekapituasi Pilkada Serentak Jateng 2017 :

  1. Kabupaten Pati
Calon petahana Haryanto – Syaiful yang menang atas kotak kosong

Penghitungan suara hasil Pilkada Serentak 2017 dimenangkan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Pati Haryanto-Saiful Arifin. Dengan memperoleh suara sebanyak 519.675 mengungguli kotak kosong dengan jumlah suara sebanyak 177.762 suara.

Suara sah 697.437 suara, tidak sah 14.984 suara sehingga Pilkada Pati diikuti oleh 712.421 suara, tingkat partisipasi 68,9 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 1.034.256 suara.

  1. Kabupaten Jepara
Pasangan Ahmad Marzuqi-Dian Kristiandi yang hanya diusung oleh PDI-P

Dengan modal selisih 2,5 persen suara, pasangan Ahmad Marzuqi-Dian Kristiandi berhasil mengungguli pesaingnya Subroto – Nur Yahman. Pasangan nomer urut 2 yang hanya diusung oleh PDI Perjuangan dengan kekuatan 10 kursi DPRD ini meraih 319.837 (51,25%) suara. Pesaingnya Subroto yang masih adik kandung Jaksa Agung HM Prasetyo yang berpasangan dengan Nur Yahman meraih 304.256 (48,75%) suara.

  1. Kabupaten Batang
Wihaji-Suyono yang memenangkan Pilkada Batang

Komitmen Bupati Batang H Yoyok Riyo Sudibyo hanya akan menjabat satu periode benar-benar ditepati. Padahal pria kelahiran Batang, 23 April 1972 ini masih sangat muda. Peluang itu yang tampaknya dioptimalkan Partai Golkar memajukan kadernya Wihaji yang berpasangan dengan Suyono mencalonkan diri.

Upaya Parta Golkar yang menggandeng PPP dan Hanura memajukan pasangan Wihaji-Suyono tidak sia-sia.  Pasangan ini bahkan mampu mengalahkan tiga pasangan pesaingnya dengan perolehan 245.330  (56,61%) suara, diikuti oleh pasangan Lafran Pancaputranto – Nur Slamet Urip 116.755 (26,94%) suara, AS-Burhan – Acara Ariani 63.227 (14,59%) suara dan Akhmad Faizin-Erna Yuniwati yang hanya kebagian 8.089 (1,87%) suara.

  1. Kabupaten Banjarnegara
Budhi Sarwono-Syamsudin yang mengalahkan calon petahana

Setelah menang di Batang dan ikut menang di Pati, Partai Golkar kembali berjaya di Kabupaten Banjarnegara.

Hebatnya lagi, di Kabupaten yang bersama Wonosbo dan Purbalingga masuk wilayah dataran tinggi Dieng ini, jagoan Golkar yang juga direstui PPP dan Demokrat, Budhi Sarwono-Syamsudin mampu mengandaskan Bupati petahana Hadi Supeno yang masa jabatannya habis pada tahun 2016 lalu.

Dalam pleno rekapitulasi KPUD setempat pasangan nomer urut tiga Budhi Sarwono-Syamsudin meraih 285.088 (54,21%) suara, diikuti pasangan nomer urut 2 yang dihadiran PDI Perjuangan dan PAN, Wahyu Kristanto-Saful Muzad yang meraih 135.161 (25,70%) suara, dan menempatkan pasangan petahana nomer urut 1 dengan perolehan hanya 105.672 (20,09%) suara.

  1. Kabupaten Brebes
Pasangan petahana Idza-Naryo yang akan melanjutkan kepemimpinannya di Brebes

Ada cerita menarik saat pendaftaran pasangan calon ke KPUD setempat. Semula PDI Perjuangan mengira pasangan Idza Priyanti -Narjo hanya diusung secara tunggal oleh partainya. Begitu menjelang pendaftaran tidak tanggung-tanggung, ada 6 partai lainnya ikut bergabung, yaitu Partai Golkar, PPP, PKB, Partai Demokrat, PAN dan Partai Hanura.

Sempat terjadi keributan kecil antara pengurus PDI-P dan timses Bupati, tapi akhirnya mereka sepakat sama-sama mendaftarkan diri sebagai partai pengusung Idza-Narjo untu melawan pasangan Suswono – Musttaqien yang diusung oleh PKS Gerindra.

Hasilnya, upaya koalisi besar yang datang mendadak pas hendak pemilihan ini tidak sia-sia. Pasangan petahana nomer urut 2 Idza-Narjo berhasil mengungguli pesaingnya dengan keunggulan 548.621 (67,02%) suara. Sedangkan Suswono yang tak lain mantan Menteri Pertanian era Presiden SBY yang berpasangan dengan Musttaqien di nomer urut 1 hanya kebaian 270.036 (32,98%) suara.

  1. Kabupaten Cilacap
Bupati Tatto dan pasangannya yang akan masih menjabat hingga 2022 nanti

Dominasi Partai Golkar berlanjut ke Kabupaten Cilacap saat mengusung pasangan Petahana Tatto Suwarto Pamuji-Syamsul Aulia Rachman. Pasangan nomer urut 2 yang diusung bersama partai Demokrat, PAN dan PKB ini meraih 515.059 suara, mengalahkan pasangan yang diusung PDI Perjuangan di nomer urut 1 Taufik Nurhidayat-Faiqoh Subki yang hanya mampu meraih 249.081 suara dan pasangan nomer urut 3 Fran Lukman-Bambang Sutanto yang hanya kebagian 150.367 suara.

  1. Kota Salatiga
Meskipun bergaya di atas jeep tapi harus sabar menunggu keputusan MK

Setelah menang di 5 Kabupaten, Partai Golkar turut berkontribusi memenangkan pasangan petahana Walikota Salatiga Yuliyanto – Muhammad Haris. Pasangan nomer urut 2 yang dipimpin oleh PKS ini selain diusung PKS (4 kursi), juga diusung Partai Gerindra (4 kursi), Partai Demokrat (3 kursi) Partai Golkar (2 kursi), PPP (1 kursi) dan Nasdem (1) kursi.

Hasilnya pasangan petahana ini unggul tipis (selisih 1,18 %) atas koalisi pemenang Pemilu PDIP-PKB yang mengusung Agus Rudianto – Dance Ishak Palit. Mengutip data pleno rekapitulasi KPUD setempat, pasangan Yuliyanto – Muh Haris meraih 52.870 (50,59%) suara dan pesaingnya Agus-Dance 51.623 (49,41%) suara.

Untuk yang terakhir ini tampaknya pasangan petahana mesti sabar menunggu keputusan dari Mahkamah Konstitusi, sebab selisihnya kurang dari 2 persen. Itu pun dengan catatan apabila pasangan Agus-Dance mengajukan gugatan ke MK.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here