Golkar Terbelah, Ancaman Bagi Koalisi Jokowi

0
215

Nusantara.news, Jakarta – Koalisi Partai Golongan Karya (Golkar) di kubu Jokowi mulai tampak rapuh. Sejumlah politikus Golkar yang menyebut diri kelompok Go Prabu (Golkar Prabowo Uno) menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo – Sandiaga Uno. Kelompok ini terdiri dari sejumlah calon anggota legislatif Partai Golkar di Pemilu 2019.

Koordinator Go Prabu, Cupli Risman, menyebutkan beberapa alasan memberikan dukungan kepada Prabowo dan Sandiaga. “Hal-hal yang menjadi pertimbangan, kondisi rakyat yang makin susah di era presiden Jokowi,” ujar Cupli, Senin, 24 September 2018.

Menurut Cupli, dengan Golkar mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf, tidak memberikan keuntungan untuk partai. Kemudian, secara ideologis, kata Cupli, Prabowo memiliki hubungan yang dekat dengan Golkar. Karena itu, ujar Cupli, pihaknya memutuskan untuk mendukung Prabowo dan Sandiaga. “Kami akan berjuang di dapil masing-masing untuk memenangkan pasangan tersebut,” kata Cupli.

Alasan ini berbanding lurus dengan pernyataan anggota Dewan Pembina Partai Golkar, Fadel Muhammad pada 21 Agustus 2018. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini menyatakan pemilihan Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi tak memberi efek elektoral kepada Golkar.

Ia pun mengungkap peluang sejumlah kader beringin membelot dari pasangan petahana ke pasangan Prabowo-Sandi akan memuncak pada bulan November 2018. Fadel menambahkan, ia bersama bersama Aburizal Bakrie (Ical) memiliki pemikiran yang berbeda dengan keputusan Golkar mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Menyikapi itu, Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar yang juga Wakil Ketua MPR, Mahyudin, mengatakan keputusan partainya mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 memang tidak diterima sepenuh oleh seluruh kader. Dia mengakui, di tingkatan bawah tidak semua kader menerima keputusan tersebut. Mereka terbelah.

Terbelahnya dukungan Golkar dikuatkan dengan hasil survei terbaru yang dilakukan Indikator Politik Indonesia (Indikator). Berdasarkan survei Indikator yang dirilis, Rabu (26/9/2018), sebesar 55,4 persen pendukung Partai Golkar memilih Jokowi-Ma’ruf Amin. Namun, ada 36 persen pendukungnya yang lebih memilih Prabowo-Sandiaga. Angka 36 persen pendukung Partai Golkar memilih Prabowo dianggap besar karena elektabilitas Partai Golkar sendiri mencapai 11,4 persen.

Selain Partai Golkar, pendukung PPP dinilai lebih tidak solid karena 48,9 persen pendukungnya memilih Jokowi-Ma’ruf. Sementara, yang memilih Prabowo-Sandiaga sebesar 44,4 persen. Adapun sisanya sebesar 6,7 tidak menjawab. Begitu juga pendukung Partai Hanura yang 50 persen memilih Jokowi-Ma’ruf Amin dan 50 persen sisanya memilih Prabowo-Sandiaga.

“Keputusan elite partai politik tak selalu sejalan dengan keinginan pendukungnya,” demikian salah satu kesimpulan hasil survei yang disampaikan Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Mutadi.

Para Caleg Partai Golkar mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno (Go Prabu)

Disharmoni antara elemen Partai Golkar dengan koalisi terlihat bertambah. Hal ini terjadi setelah Ketua Dewan Pembina partai tersebut, Aburizal Bakrie mengungkapkan penolakannya terhadap penghadangan massa  gerakan #2019GantiPresiden di berbagai daerah. Abruzial juga memutuskan tak masuk dalam tim suskes Jokowi dan menyerukan kader Golkar fokus ke pemilihan legislatif, juga agar tetap kritis terhadap pemerintah.

Lumrah, Golkar Terbelah

Seperti itulah gambaran bagaimana posisi Partai Golkar dalam koalisi Jokowi. Kandidat petahana ini jelas membutuhkan partai sebesar Golkar untuk memberi keteduhan dan perlindungan pada Pilpres 2019. Dengan pengalaman panjangnya, partai beringin ini di atas kertas mampu memberikan kenyamanan politik tersebut. Akan tetapi, sebagaimana pohon beringin yang mulai rapuh, aroma perpecahan dan soliditas yang terganggu terkait dengan sikap partai dalam Pilpres 2019, merupakan ancaman tersendiri bagi tim petahana.

Selain membelotnya sejumlah kader, potensi dua kaki Golkar juga bisa lahir dari gerak-gerik salah satu pembesar utama Golkar saat ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Mantan Ketua Umum Golkar tersebut memang saat ini tercatat sebagai salah satu penasihat dalam tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin. Namun, berhembus kabar bahwa JK menyimpan “saham” pada kubu Prabowo-Sandiaga. Beberapa waktu lalu misalnya, JK pernah melakukan jamuan dengan pasangan kubu oposisi tersebut.

Manuver “tersembunyi” JK juga bisa dilacak ketika ia mendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada Jakarta 2017 lalu. Belakangan semua tersentak, padahal nyaris semua politisi pemerintah dan gesture JK saat itu seperti merapat ke barisan Basuki Thajaya Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat. Keberpihakan “diam-diam” JK tersebut bukan tak mungkin akan berlaku juga di Pilpres 2019 ini: meski raganya berada di tim Jokowi-Ma’ruf Amin, namun hatinya bersama Prabowo-Sandi.

Golkar boleh jadi adalah salah satu partai yang paling panjang sejarahnya di negeri ini, namun partai yang identik dengan warna kuning ini termasuk partai yang tergolong sering dilanda perpecahan. Partai ini juga banyak mengalami faksionalisasi internal dan juga pertentangan dengan pengurus-pengurus di tingkat daerah. Perpecahan di dalam Golkar inilah yang dapat dikatakan sebagai penyebab politik dua kaki Golkar. Atau, dalam kadar tertentu, juga bisa dikatakan siasat untuk bermain di dua kubu.

Politik dua kaki seperti ini sepertinya lazim terjadi dalam perjalanan panjang partai Golkar. Entah disengaja atau tidak, partai ini selalu memiliki wakil di masing-masing peserta pilpres. Kiprah dua kaki Golkar ini telah terjadi sejak era pertama Pilpres langsung di negeri ini pada tahun 2004. Wiranto, kandidat resmi partai ini gagal mengamankan dukungan penuh partainya sehingga harus kandas di gelaran tersebut. Di sisi yang lain, partai ini juga mengirim kadernya yang lain pada pesta demokrasi tersebut, yaitu JK yang menjadi pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sejarah kemudian mencatat SBY-JK menjadi pemenang pertama dari kontestasi tersebut. Sejarah juga mencatat langkah dua kaki Golkar menampakkan wujudnya. Pasca SBY-JK terpilih, dengan mudah partai bergambar pohon beringin itu bertransformasi menjadi pendukung pemerintah.

Pada Pilpres 2014 hal ini kembali terjadi. DPP partai yang besar di era Orde Baru ini secara resmi memberikan dukungannya kepada pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Meski demikian, sejumlah kader partai tersebut nyatanya tidak patuh pada sikap resmi DPP tersebut. JK boleh jadi bukti nyata bentuk dua kaki Golkar di Pilpres tersebut. Meski dianggap sebagai salah satu patron utama partai, nyatanya status tersebut tidak membuatnya menyurutkan langkah untuk menjadi cawapres Jokowi.

Keakraban Jusuf Kalla-Anies. Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta saat Lepas Parade Asian Games 2018 beberapa waktu lalu

Di luar JK, ada pula sosok senior lain seperti Luhut Binsar Pandjaitan yang tidak ragu terlibat dalam pemenangan Jokowi. Keberadaan tokoh-tokoh senior ini menjadi semacam proxy bagi masuknya kader-kader lain yang mengambil sikap berbeda dengan sikap resmi DPP. Saat itu, sejumlah kader muda partai beringin memilih mendeklarasikan diri mendukung pasangan Jokowi-JK. Salah satu alasan yang mereka ungkapkan adalah mereka menyebut JK sebagai kader Golkar seperti sendirian, sehingga perlu ditemani. Ketika pasangan Jokowi-JK menang Pilpres, lagi-lagi dengan mudah menjadi bagian penguasa.

Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, maka politik dua kaki Golkar boleh jadi akan tidak terhindarkan. Partai ini memang telanjur memiliki sejarah panjang perpecahan internal serta bermain di dua kaki. Bisa dikatakan, hal ini telah menjadi watak dari partai beringin tersebut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here