Google dan FB Bongkar Keterlibatan Rusia dalam Pemenangan Trump

1
413
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan)

Nusantara.news, Washington – Setelah Facebook menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat (AS), Google bahkan menemukan sejumlah bukti belanja iklan hingga puluhan ribu dolar di situsnya untuk pemenangan Trump.

Mengutip keterangan sebuah sumber sebagaimana dimuat Washington Post, sejumlah iklan sengaja disebar untuk mengacaukan informasi di berbagai produk google seperti YouTube dan Gmail. Namun dapat dipastikan, pelakunya berbeda dengan yang memasang iklan di Facebook.

Kini Google semakin gencar melakun penyelidikan. Caranya antara lain, ungkap seorang sumber, dengan menyisir sekelompok pengiklan yang membelanjakan uangnya di bawah nilai 100 ribu dolar

“Kami sudah menetapkan kebijakan iklan yang ketat, termasuk membatasi iklan politik terararh dan melarang iklan terarah yang berdasar ras dan agama. Kami sedang menyelidiki upaya mengelabui sistem kami, dengan bekerja sama dengan para peneliti dan perusahaan lainnya,” tulis pernyataan resmi Google.

Awal pekan ini, Microsoft sebenarnya juga menelisik apakah iklan terkait pemilihan presiden Amerika sudah dibeli oleh orang Rusia di mesin pencari Bing mereka. Juru bicara Microsoft kepada Reuters menyatakan belum bisa membagikan informasinya untuk publik.

Sebelumnya September lalu, Facebook berhasil mengungkap kampanye yang dananya berasal dari Rusia. Kampanye itu berisikan pesan-pesan dalam jaringan Facebook yang memecah belah secara sosial dan politik.

Total biaya iklannya mencapai 100 ribu dolar AS (sekitar Rp 1,34 miliar) yang digunakan membeli 3000 slot iklan periode 2016 hingga Mei 2017.

Intelijen Amerika sendiri sejak awal tahun ini sudah menyampaikan kesimpulan penyelidikan tentang dugaan keterlibatan Rusia dalam Pemilu Presiden AS, Selasa, 8 November 2016. Rusia diketahui berupaya memenangkan Donald Trump dari Partai Republik untuk mengalahkan calon dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Hingga sekarang kasus itu masih diselidiki oleh komite Kongres dan Departemen Kehakiman AS. Terkait penyelidikan, bahkan Direktur FBI James Comey dipecat dari kedudukannya karena bersikap vocal terhadap Trump. Sejauh ini, tuduhan itu juga telah dibantah secara resmi oleh pemerintah Rusia dan Presiden AS Donald Trump.

Sebelumnya, pada September 2017 lalu, penyelidik kasus dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS sibuk mengumpulkan data di Gedung Putih selama kepemimpinan Trump. Dokumen terkait pemecatan direktur FBI oleh Donald Trump dan pertemuan putra Trump dengan seorang pengacara asal Rusia, menjadi target pengumpulan data ini.

Berdasarkan keterangan sejumlah media yang terbit di AS, Robert Mueller selaku kepala komite khusus penyelidik telah membidik 13 peristiwa di Gedung Putih untuk membuktikan persekongkolan Trump dan Rusia.

Merujuk laporan yang ditulis New York Times dan Washington Post, Rabu (20/09) malam, Mueller dikabarkan sedang mendalami dokumen terkait pemecatan Michael Flynn, penasehat kemanan nasional pertama yang diangkat Trump.

Lebih jauh lagi, Mueller juga dikabarkan mencari data rapat di Ruang Oval tempat Trump berkata kepada sejumlah pejabat Rusia bulan Mei lalu, bahwa langkahnya memecat James Comey, direktur FBI yang disebutnya sebagai direktur ‘gila’ telah membuat sang presiden terbebas dari “beban yang sangat berat”.

Selain itu, komite khusus ini meminta dokumen jawaban Gedung Putih terhadap tuduhan pertemuan antara Donald Trump Jr dengan seorang pengacara Rusia di Trump Tower, Juni 2016 lalu. Putra tertua Trump disebut membocorkan informasi “merusak” tentang saingan ayahnya dalam Pilpres, Hillary Clinton, kepada Rusia.

Pengacara Trump, Ty Cobb, menjanjikan kepada Mueller segara akan memberikan sejumlah dokumen yang diminta tim penyelidik. “Kami tidak bisa berkomentar terkait permintaan apa saja yang diajukan atau pembicaraan kami dengan dewan khusus,” tegas Cobb.

Pada bulan September itu Washington Post melansir, Mueller juga meminta seluruh email dan dokumen Gedung Putih yang berkaitan dengan Paul Manafort, mantan kepala kampanye Trump.

Sebagaimana pernah diberikatan secara luas media massa, Manafort mengundurkan diri dari Tim Kampanye Trump beberapa saat menjelang pemilu. Dia diduga memiliki hubungan khusus dengan partai politik di Ukraina yang dikneal pro-Rusia.

Keterlibatan Manafort terkait hasil sadapan FBI tentang hubungannya dengan Moskow pernah ditayangkan CNN dan CBS News. Agen FBI, bulan Juli lalu juga telah menggeledah kediaman Manafort di Washington DC.

Sedangkan Presiden Trump sendiri disebut-sebut oleh sejumlah pejabat AS pernah mengungkap informasi sangat rahasia tentang kelompok ISIS kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Informasi itu diungkap pejabat AS itu kepada sejumlah media massa di AS.

Berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS, surat kabar Washington Post menuliskan, saat berkunjung ke Ruang Oval di Gedung Putih, pekan lalu, Sergei Lavrov diperlihatkan dokumen rahasia oleh Trump. Padahal, informasi itu berasal dari mitra AS yang belum memberi izin kepada AS untuk membaginya kepada Rusia.

Namun, lagi-lagi Trump membantah laporan itu. “Cerita itu tidak benar,” kata Dina Powell, deputi penasihat keamanan nasional di bidang strategi, yang menghadiri pertemuan itu. “Presiden hanya mendiskusikan ancaman-ancaman umum yang dihadapi kedua negara,” lanjutnya.

Selain Trump, menantu Trump sendiri. Jared Kushner disebut-sebut telah menjajaki kemungkinan membentuk jalur komunikasi rahasia dengan Moskow. Rencana itu terkuak dalam sebuah pertemuan di bulan Desember 2016 setelah Trump dinyatakan sebegai Presiden terpilih. Tudingan itu dipublikasikan oleh Washington Post dan New York Times.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here