Grand Design Yahudi Kuasai Dunia, Masihkah Relevan?

0
660

Nusantara.news – Kita dapat bayangkan bangsa Yahudi (Israel) yang tidak mempunyai tanah air, pada tahun 1842 sudah ingin menguasai dunia dengan Protokol Zion. Walaupun illuminati lahir lebih dulu (didirikan tahun 1776) dan mendorong kapitalisme dengan mensponsori Revolusi Perancis (1789) hingga revolusi Rusia dan Marxisme (1917) melalui dua jargon: HAM (Hak Azasi Manusia) dan Kapitalisme harus menang atas komunisme yang pada awalnya menjadi seteru untuk keseimbangan dunia.

Protokol Zion ingin Israel menguasai dunia dengan:

1. Aristocracy Money

Uang menjadi raja, maka diciptakanlah kerajaan keuangan dunia yang disebut dengan Rothschild (Inggris dan Jerman), Rockefeller dan Ford (Amerika Serikat) sebagai soko guru Trilateral, dengan Direktur Zbigniew Brzezinski dan merupakan lanjutan pertemuan Bilderberger, berdiri sejak tahun 1973. Federal Reserve (the Fed), IMF, dan Bank Dunia, adalah soko guru ekonomi dunia yang dilahirkan sebagai kelanjutan Protokol Zion. Aliansi Eropa, AS, dan Jepang (kapitalisme global) berada dalam Trilateral ini dalam rangka menguasai dunia. Zbigniew Brzezinski menjadi Kepala Keamanan Nasional AS ketika Jimmy Carter menjadi Presiden AS pada tahun 1976.

Kelas atas internasional bersatu untuk kepentingan negara maju. Pimpinan politik yang menjadi pemegang kekuasaan harus memberi jaminan bahwa the global fund financial interest harus dilindungi di manapun berada. Soeharto pada tahun 1965 menumbangkan Bung Karno dengan bantuan AS, dengan jaminan Caltex (California Texas) untuk eksploitasi migas di Riau (1967), dan Freeport di Papua sebagai “hadiah” serta Seven Sisters (7 perusahaan Yahudi di AS dan Eropa), seperti Shell (Belanda), Total (Perancis), Mobil Oil (AS), Chevron (AS), Exxon Mobil (AS), British Petroleum (Inggris), dan Gulf Oil (AS) yang diberi keleluasaan berbisnis di era Soeharto.

2. One Global Government

Soros mempopulerkan “One State One Society” lewat bukunya, tentunya AS dan Yahudi menjadi pimpinannya, karena uang tidak punya tanah air, dengan berada dimana dapat berternak melalui surat-surat berharga: SUN, obligasi, saham, dan valuta asing. Suatu negara bisa diserbu (rush) seketika seperti yang terjadi di tahun 1997 yang berekses pada turunnya Soeharto (1998).

Berawal dengan krisis USD, dari mulai USD 1 = Rp 2.000 hingga mencapai Rp 16.000 per USD di tahun tersebut. Eksesnya Bank Central Asia (BCA) dan beberapa bank diserbu hingga runtuh, dan harus disuntik dengan BLBI. Di saat itu, Soeharto menyerah dan menandatangani 50 butir IMF dan Bank Dunia, dengan suntikan hampir Rp 700 triliun BLBI yang penyelesaiannya sampai saat ini tidak jelas secara hukum.

Penguasaan lembaga-lembaga seperti IMF dan Bank Dunia digunakan Yahudi untuk menguasai dunia, khususnya negara berkembang. Soeharto adalah korban kapitalisme global karena ingin lepas landas dan membayar utang dan menjadikan pemerataan sebagai posisi pertama (baca: kesejahteraan) dalam Trilogi Pembangunan pada periode tahap II pembangunan jangka panjang (1992–2017).

3. Kapitalisme Global untuk Monopoli

The Fed digunakan sebagai stabilisator moneter dunia dan kenaikan suku bunganya berdampak pada dunia karena rezim finansial dikuasai oleh konspirasi Yahudi. Krisis ekonomi diciptakan dengan menarik uang dari sirkulasi (pelajari Indonesia 1998) – BLBI dikucurkan aset penerima BLBI dikumpulkan di BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), lalu aset dijual murah, dan disedot oleh investor asing. Sebagai misal, George Soros beli Bank CIC (milik Robert Tantular, yang akhirnya menjadi Bank Century) sebagai kanal dan channel link aset bagi Soros untuk bisa dibawa ke luar negeri.

Akumulasi uang yang besar jumlahnya dibiarkan tidak bergerak, sehingga memaksa berbagai negara meminjam dan menjadi budak kertas berharga.

Dalam 20 tahun, negara yang meminjam dengan bunga 5% telah membayar seluruh pinjamannya dalam bentuk bunga, tanpa mengurangi utang mereka. Utang dan bunga dicicil sampai batas terganggunya keseimbangan APBN pada ambang batas 30% dari PDB dan defisit di APBN mencapai 3% dari PDB suatu negara.

Negara tersebut kemudian harus memaksa rakyatnya untuk membayar utangnya kepada orang asing yang kaya raya. Mengapa pimpinan negara yang bodoh itu menggunakan uang dari rakyatnya sendiri?

Pemerintah mereka bisa saja bermain trik dengan pinjaman internal, tetapi tidak bisa dengan pinjaman eksternal karena mereka menyadari bahwa kita akan menuntut uang kita kembali dengan berbagai cara. Prinsip dasarnya, kapitalisme global dengan moda “Multinational Corporation” menguasai keuangan dunia dengan dua ruang gerak utama yakni Energy & Food Security. AS soko guru Yahudi telah menguasai energi dunia, dengan stok energi fosil dan penemuan shale gas. Perusahaan-perusahaan bergerak di bidang pangan telah berhasil mengubah habit dunia, dari makanan segar menjadi makanan dalam kemasan.

Ketergantungan dunia, khususnya negara-negara berkembang pada energi dan pangan, diperkirakan akan menjadikan krisis energi dan pangan pada tahun 2030. Sementara, pemerintah kita sibuk dengan persoalan keuangan negara yang tidak pernah selesai. Kita tidak menyadari sebagai negara besar yang seharusnya mampu menjadi lumbung pangan dunia (agraris dan maritim), serta kaya akan energi. Namun siapakah yang menikmati selama ini? [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here