Grebeg Maulud Raja-raja Nusantara di Tulungagung

0
52
Sejumlah wisatawan dan warga saling berebut mengambil isi Gunungan Grebeg Maulud.

Nusantara.news, Tulungagung – Tradisi perayaan Grebeg Maulud selalu berkaitan erat dengan budaya leluhur. Acara ini biasanya digelar guna memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yang menarik, Grebeg Maulud di negara asalnya yaitu Arab Saudi tidak pernah ada. Ya, hanya di Indonesia saja perayaan Grebeg Maulud terjadi, tentunya dirayakan dengan budaya khas dari daerah masing-masing.

Sejatinya, perayaan Grebeg Maulud yang dilakukan secara turun temurun ini merupakan gelaran budaya untuk menangkal gerusan budaya luar negeri yang banyak ditiru oleh kaum remaja.

Para leluhur kita sangat paham, banyak simbol dan makna yang dapat diajarkan kepada anak didik untuk mengenal budaya bangsa sendiri, terlebih budaya yang berhubungan dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Prinsipnya memang mengadopsi budaya Jawa yang lebih dulu dikenalkan oleh Kraton Yogyakarta dan Surakarta dalam peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Selain itu, wilayah Madiun memang tidak terlepas dari kedudukan kerajaan tersebut terlebih dalam hal penyebaran agama Islamnya.

Melalui acara ini, pihak penyelenggara ingin mengajak warganya agar tidak lupa bahwa Bangsa Indonesia memiliki budaya dan tradisi sendiri yang tak kalah indah dengan budaya luar.

Karena itu, dalam Grebeg Maulud, biasanya melibatkan sejumlah tokoh utama. Dan untuk menarik minat masyarakat, acara dibuat sedemikian atraktif.

Seperti yang dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta, Istana-istana dari kerajaan Surakarta dan Kesultanan Cirebon. Diselenggarakan pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga dari tahun Jawa.

Sekaten sendiri merupakan upacara pendahuluan dari peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Diselenggarakan pada tanggal 5 hingga tanggal 12 dari bulan yang sama.

Semua kesultanan pasti merayakan Sekaten dan Grebeg Maulud. Ada berbagai macam tanda-tanda atau simbol-simbol kebesaran kerajaan yang merupakan salah satu bagian dari tradisi.

Sementara puncak acara dari perayaan Sekaten tentu saja Grebeg Maulud, yaitu keluarnya sepasang gunungan dari Masjid Agung seusai didoakan oleh ulama Kraton berupa sesajian berbentuk tumpeng besar yang terbuat dari aneka makanan, seperti beras ketan, telur, buah-buahan serta sayur-sayuran yang berbentuk menyerupai gunung.

Masyarakat percaya bahwa siapapun yang mendapatkan gunungan tersebut, biarpun sedikit akan dikaruniai kebahagiaan dan kemakmuran. Kemudian tumpeng tersebut diperebutkan oleh ribuan warga masyarakat. Mereka meyakini bahwa dengan mendapat bagian dari tumpeng akan mendatangkan berkah bagi mereka.

Pada Grebeg Maulud atau Sekaten ini, gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran ini mewakili keberadaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.

Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker.

Pada umumnya, masyarakat Yogjakarta dan sekitarnya berkeyakinan bahwa dengan turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini yang bersangkutan akan mendapat imbalan pahala dari Yang Maha Kuasa, dan dianugerahi awet muda. Sebagai “srono” (syarat) nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten.

Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan, di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Yogjakarta. Bagi para petani, dalam kesempatan ini memohon pula agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat tekadnya ini, mereka memberi cambuk (pecut) yang dibawanya pulang.

Dalam Grebeg Maulud yang digelar di halaman Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, Jumat (1/12/2017) lalu, tampak masyarakat sangat antusias berebut isi gunungan Grebeg Maulud. Hal itu juga menarik sejumlah wisatawan dari manca dan daerah.

Dalam gelaran Grebeg Maulud, delapan gunungan berisi aneka hasil bumi diarak ratusan prajurit dari Siti Hinggil Keraton Yogyakarta. Enam gunungan yang terdiri atas Gunungan Bromo, Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan diarak menuju Masjid Gedhe Yogyakarta.

Sedangkan dua Gunungan Lanang akan diserahkan ke Kepatihan dan satu lagi ke Puro Paku Alaman. Jalannya gunungan ke Kepatihan dan Puro Paku Alaman diiringi oleh bregada prajurit dan barisan gajah. Setelah selesai didoakan di Masjid Gedhe, khusus untuk Gunungan Bromo dibawa kembali masuk ke dalam Keraton. Selanjutnya Gunungan Bromo tersebut dibagikan kepada para kerabat Keraton Yogyakarta dalam prosesi Kundur Gunungan Bromo yang dilaksanakan di Kompleks Kedhaton.

Prosesi Kundur Gunungan Bromo hanya dilakukan pada tahun Dal yang hanya berlangsung dalam kurun waktu delapan tahun sekali. Adapun lima gunungan sebagai bentuk sedekah dari Sri Sultan HB X langsung diperebutkan masyarakat maupun wisatawan di Halaman Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta.

Seorang warga Kabupaten Bantul, merasa puas karena berhasil mendapatkan empat lonjor kacang panjang. Ia meyakini kacang panjang dari gunungan itu dapat digunakan untuk pembuang sial atau tolak bala.

Berbeda dengan warga Kota Yogyakarta, bagian dari gunungan yang berhasil didapatkan akan dipergunakan untuk penyubur tanaman. “Ini soal kepercayaan saja,” kata dia.

Kirab Kyai Golok di Tulungagung

Di Tulungagung, acara Grebeg Maulud ditandai dengan Kirab Pusaka Kyai Golok di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Minggu (3/12/2017). Kegiatan ini tidak hanya untuk memperingati Maulid Nabi SAW namun juga untuk memperingati berdirinya tanah perdikan Majan.

Acara Grebeg Maulud tidak hanya dihadiri ratusan warga Desa Majan, melainkan juga dihadiri Sultan, datuk dan raja-raja se-Nusantara. Mereka berkumpul di Kasepuhan Sentono Ndalem.

Hadirnya para raja dan sultan ini, seperti yang disampaikan Raden Muhammad Ali Sodiq MPdI selaku ketua Yayasan Sentono Ndalem, dalam rangka konsolidasi nasional peran keraton dalam menjaga dan melestarikan adat dan budaya lokal.

Sodiq menyebut, pertemuan ini sekaligus pengukuhan Barisan Adat Raja Nusantara (Baranusa). Sebelum prosesi pengukuhan, juga digelar dialog nasional dengan tema Revitalisasi Budaya Adat Nusantara.

“Setelah pengukuhan Baranusa, selanjutnya dilakukan prosesi pengukuhan Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara Provinsi Jawa Timur,” ungkap Raden Muhammad Ali Sodiq MPdl yang juga ketua Cendekiawan Keraton Jawa Timur.

Raden Muhammad Ali Sodiq, selaku Ketua Yayasan Sentono Ndalem Majan, Tulungagung salah satu perwakilan Jawa Timur.

Hadir dalam acara ini, sejumlah raja dan sultan. Di antaranya ada Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dari Palembang, Datuk Luwuk, dan Raja Klungkung Bali Ida Agra Dalem. Selain itu, hadir pula Prof Asdar selaku ketua Cendekiawan Nusantara dan sejumlah tokoh dan cendekiawan-cendekiawan yang ada di Tulungagung.

Dalam Kirab Pusaka tersebut diawali dengan arak-arakan warga Majan dan kumandang Sholawat yang diiringi tabuhan rebana, disusul iring-iringan tokoh masyarakat berpakaian adat Jawa yang memikul tandu berisi peti Kyai Golok serta tumpeng raksasa.

Kyai Golok ini diarak dari Pendopo Desa Majan menuju Masjid Khasan Mimbar yang ada di desa setempat. Saat tiba di serambi masjid, kotak pusaka Kyai Golok dibuka dan diserahkan kepada keturunan Kyai Khasan Mimbar, pendiri masjid di desa tersebut. Pada saat diserahkan ini, pusaka dipertontonkan kepada warga, yang sudah berjubel untuk melihat pusaka desa mereka.

Sodiq mengatakan, arak-arakan ini merupakan tradisi leluhur yang harus dilestarikan. Pasalnya Kyai Golok merupakan pusaka yang diberikan oleh Raja Mataram Sinuhun Pakubuwono II kepada Kyai Khasan Mimbar.

Kyai Khasan Mimbar juga mendapat sebuah tanah perdikan. Dengan Kyai Golok, Kyai Khasan Mimbar menyebarkan agama Islam sesuai syariatnya.

“Grebek Agung Maulid ini sebagai tradisi yang harus dilestarikan. Kyai golok ini merupakan senjata yang digunakan untuk babat tanah perdikan dan juga untuk menyebarkan agama Islam di Tulungagung. Kita tidak hanya mengundang warga sekitar namun juga perwakilan Suktan dan Raja-raja di Nusantara ini,” ujar Sodiq.

Menurut salah satu tamu undangan, Pangeran Nata Adiguna Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat, kegiatan Grebek Agung Maulid Desa Majan ini sangat bagus sekali. Nantinya bisa sebagai tujuan wisata budaya di Tulungagung.

Warga Majan Kirab Kyai Golok Peringati Maulid Nabi.

“Kegiatan ini tidak hanya mengangkat nama Tulungagung saja, melainkan juga Jawa Timur bahkan Indonesia. Kenapa, karena Grebeg Agung Maulid ini sarat dengan budaya Jawa yang sangat kental dan bisa menjadi tujuan wisata budaya nantinya,” ujar Pangeran Nata Adiguna Masud Thoyib Jayakarta Adiningrat.

Karena dilaksanakan setahun sekali, acara kirab pusaka dan Grebeg Maulud ini menjadi tontonan warga. Ratusan warga yang penasaran, sejak sore sudah menunggu di sekitar masjid, menunggu arak-arakan kirab pusaka tiba. Selain kirab pusaka, kirab ini juga menampilkan atraksi pencak silat yang di mainkan para pemuda desa setempat.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here