Grup Band Monyet Meraung Penghibur Soekarno

0
1395

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Indonesia pertama itu sejatinya seorang seniman. Soekarno tidak saja penikmat karya seni kelas tinggi, tetapi juga pencipta. Dia senang menikmati seni lukis, dan dia juga pelukis yang berketrampilan tinggi. Koleksi lukisan yang tersusun dalam katalog di Istana Negara mencapai 400 buah.

Selain gemar menikmati  lukisan dan melukis, salah satu kesukaan Bung Karno adalah mendengarkan lagu. Di masanya banyak sekali biduan terkenal yang menjadi penyanyi tetap di Istana. Sebutlah nama Titiek Puspa, Yosephine Sudarti, Nani Nurani dan sebagainya. Juga ada Maria Magdalena Rubinem. Rubinem ini adalah sinden kesukaan Sang Proklamator.

Seperti kegemarannya melihat lukisan yang diwujudkannya dengan melukis, kecintaannya pada seni suara juga mendorongnya mencipta lagu sendiri. Tidak diketahui berapa lagu yang pernah dicipta Sang Putra Fajar. Salah satunya adalah lagu berjudul “Bersuka Ria”, yang liriknya sebagai berikut:

Mari kita bergembira sukaria bersama
Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara bergembira semua
Lalalaalaa laaaa la mari bersuka ria
Siapa bilang bapak dari blitar
Bapak kita dari prambanan
Siapa bilang rakyat kita lapar
Indonesia banyak makanan
Mari kita bergembira sukaria bersama
Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara bergembira semua
Lalalaa lalala lalaaaala mari bersuka ria
Tukang sayur nama si salim
Menjualnya ke jalan lembang
Indonesia anti nekolim
Para seniman turut berjuang
Jalan-jalan ke Surabaya
Lebih cantik memakai pita
Janganlah sering memandang saya
Nanti bisa jatuh cinta
Mari kita bergembira suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara bergembira semua
Lalalalala lalaaala mari bersuka ria
Pagar kawat pagar berduri
Cat basah jatuh di kabel
Kalau niat mencari istri
saya pilih yang pinter nyambel
Mari kita bergembira suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara bergembira semua
Lalalalala lalaaala mari bersuka ria.

Salah satu yang juga sering diundang ke Istana adalah kelompok musik legendaris, Impola Group. Vokalisnya Gordon Tobing. Bung Karno menemukan Gordon dalam  pertemuan yang unik.

Alkisah, tahun 1961, Bung Karno berkunjung ke Beijing. Tuan rumah punya kiat khusus untuk memberi kejutan kepada Soekarno. PM China, Zhou Enlai, rupanya tahu bahwa Bung Karno pernah menangis terharu ketika baru turun di Bandara Moskow. Penyebabnya, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev mengerahkan ribuan kaum buruh Moskow untuk  berkumpul di Lapangan Terbang. Mereka disuruh menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Koor itu yang membuat Soekarno meneteskan air mata.

Rupanya, Zhou meniru cara itu. Dia mengundang sebuah kelompok musik rakyat asal Indonesia, yang kerap melanglang buana, dan kebetulan tengah singgah di Beijing. Grup itu adalah Impola.

Ketika Bung Karno menginjakkan kaki di landasan, Gordon menyanyikan lagu “A Sing Sing So”. Alangkah terperanjatnya Soekarno.

“Siapa itu yang menyanyikan lagu Batak di sini?” tanyanya kepada Ajudan. Setelah diberi tahu, Bung Karno berucap, “Hebat, lagu Batak sampai di sini.”

Sejak itu, Gordon sering diundang ke Istana. Lagu “A Sing Sing So” ciptaan Bonny Siahaan itu semakin terkenal, termasuk di Tiongkok sendiri. Entah kebetulan entah tidak, lagu ini kemudian digubah sedemikian rupa dan dinyanyikan dalam upacara penutupan Asian Games 2010 di Guang Zhou. Penyanyi terkenal asal Hong Kong, Teresa Teng, menyanyikan versi Mandarin lagu ini dengan judul “Boat Song”.

Selain penyanyi solo, Bung Karno juga sering mengundang sederet grup band untuk tampil di Istana dalam acara-acara resmi. Grup itu antara lain, Eka Sapta, Aneka Nada, Teruna Ria dan sebagainya. Pokoknya, setiap ada acara, wajib hukumnya menghadirkan penyanyi.

Satu ketika, Bung Karno menerima Duta Besar AS Howard Jones di Istana Cipanas. Begitu tiba waktunya makan siang, Presiden merasa ada yang kurang. Sebab acara santai itu selalu diiringi alunan musik. Apalagi biasanya setelah makan, Bung Karno turun melantai dengan tarian lenso, suatu tarian khas muda-mudi dari Maluku.

Wajah Bung Karno agak merengut. Tak pelak lagi, staf Istana kebingungan. Sang Pemimpin Besar Revolusi lalu memanggil Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP).

“Anak-anak ada?” tanya Soekarno. Maksudnya, para pegawai Istana.

“Siap! Ada, Paduka,” jawab Mangil.

Setelah para staf itu berkumpul, mereka disuruh mengumpulkan barang apa saja untuk dipukul-pukul, yang penting bisa mengeluarkan bunyi-bunyian. Terkumpullah aneka barang, seperti panci, baskom, periuk, kuali dan rupa-rupa peralatan dapur. Mereka diperintahkan bernyanyi dengan alat musik aneh itu.

Jreengg…manggunglah kelompok musik dadakan tersebut.

Setelah acara selesai, alat-alat dapur itu rusak dan penyok semua. “Wah, bagaimana ini nanti, Pak. Sebab alat-alat dapur ini saya pinjam dari tetangga sebelah,” kata pelayan dapur kepada Mangil, si penanggungjawab band panci itu.

“Beres, nanti diganti,” kata Mangil dalam memoarnya Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

Mulai saat itu, Mangil mulai membeli alat musik satu persatu.  Dia juga berinisiatif membentuk grup musik. Dia pelajari irama kesukaan Bung Karno. Irama yang sangat disukai Sang Presiden adalah cha-cha, yang masuk dalam genre musik afro cuban, perpaduan antara budaya Afrika dan Kuba.

Ciri khas musik ini adalah pola rhythm-nya yang sangat jelas. Cha-caha merupakan salah satu cabang dari varian musik  Danza Habanera yang populer dengan nama Danzon. Pengaruh musik Contredanse dari Prancis sangat terasa dalam Danzon, karena Prancis waktu itu menjajah Haiti, dan budak-budak Haiti berimigrasi ke Kuba di penghujung abad 18.

Bung Karno dan Band ABS alias Brul Apen.

Kelompok musik yang dibentuk Mangil itu dipimpin Mayor Polisi Iskandar Winata. Anggotanya kebanyakan diambil dari polisi. Waktu itu, Korps Musik Angkatan Kepolisian (Korsik) sudah hebat. Kantor mereka di daerah Cipinang, di belakang kantor Asisten Logistik Mabes Polri sekarang. Korsik ini sudah ada sejak 6 Maret 1947. Pendirinya AKBP R. Soebarkah, Direktur Sekolah Polisi Negara Mertoyudan, dan F.X. Soedjasmin, guru musik di Sekolah Seminari Mertoyudan, yang kemudian terkenal sebagai pencipta lagu “Andika Bhayangkari” yang selalu dinyanyikan dalam setiap upacara militer.

Lagu yang dibawakan grup ini selalu berirama cha-cha. Ini irama wajib bagi Bung Karno. Ajudan Presiden ketika itu, Bambang Widjanarko, dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno, menceritakan betapa bosannya dia mendengar irama yang sama berjam-jam. Pemain band pun jenuh pula. Tapi, setiap kali anak band itu mengganti irama, Bung Karno langsung membentak marah.

Nah, karena tahu Bung Karno penggila cha-cha, walaupun pemain band-nya sudah mulai bosan memainkan irama itu, Iskandar Winata memberi nama grupnya dengan Grup ABS (Asal Bapak Senang). “Sejak itu lahirlah istilah Asal Bapak Senang atau ABS,” kata Bambang.

Bung Karno pernah bertanya kepada Bambang Widjanarko. “Mbang, apa itu ABS?” tanya Soekarno.

“Oh, itu nama band-nya Pak Mangil, Pak,” jawab Bambang. Sang Presiden hanya mangut-mangut.

Entah pernah mengetahui kepanjangan asli dari ABS itu atau tidak, yang jelas Bung Karno tak pernah bertanya lagi soal itu.

Tapi besar kemungkinan dia sudah mendengar bisik-bisik soal apa arti ABS. Dia tahu, nama itu seperti mengejek dirinya, yang koppig soal aliran musik cha-cha. Tapi, manalah mungkin Soekarno kalah akal dalam urusan begini. Lalu, dia memberi nama lain kepada band itu: Brul Apen. Nama yang diambil dari Bahasa Belanda itu terdengar “keren”, tapi artinya: Monyet yang meraung-raung!

Dan tentu saja, monyet-monyet, eh, maksudnya personil band amatiran itu, tak berani memprotes nama tersebut. Mereka setia meraung-raung menghibur Bung Karno, sampai akhirnya Pemimpin Besar Revolusi itu berlalu ke balik ufuk sejarah negeri ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here