Gubernur Jatim: Pancasila Harus Jadi Working Ideology

0
36

Nusantara.news, Surabaya – Pancasila harus menjadi working ideology, yakni sebuah ideologi yang bekerja dan menjadi panduan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, bila disparitas kian melebar, maka Pancasila sebagai working ideology harus kembali mengupayakan keadilan.

Pandangan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo usai menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Minggu (1/10/2017).

Pakde Karwo, sapaan Gubernur Jatim Soekarwo itu mencontohkan pengejawantahan lain konsep working ideology di Jatim. Dalam upaya mengembalikan konsep keadilan bagi masyarakat, salah satunya dengan membantu pihak yang kecil dan memfasilitasi suku bunga murah bagi pihak menengah.

Menurutnya konsep itu jelas, yakni adil dulu baru makmur. Seperti dalam hal penguasaan tanah dan penguasaan aset. “Dalam UUD sudah jelas, hal yang menjadi kepentingan umum diatur Pemerintah dalam pasal 33,” ujarnya.

Soekarwo juga menggarisbawahi isu paling krusial tentang Pancasila saat ini. Problem yang dihadapi bangsa saat ini bukan kuat atau lemahnya Pancasila, lanjutnya, tetapi bagaimana mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dalam upaya mencapai keadilan harus dilakukan dengan pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat, mengamalkan nilai-nilai persatuan, serta pandangan yang lebih humanis.

“Kemudian meletakkan kemanusiaan dalam bagian penting karena kausa primanya adalah sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa”, terangnya.

Makna Kesaktian Pancasila

Dalam kesempatan ini, Soekarwo juga mengajak masyarakat menarik pembelajaran dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, proses sejarah menjadikan bagian bahwa pandangan hidup dan filsafat bangsa yang diangkat dari nilai- nilai Pancasila harus dipertahankan oleh siapapun.

Suatu negara, lanjutnya, bila ingin makmur harus memiliki dua nilai, pertama keadilan dan kedua soal kebudayaan. Indonesia tidak hanya masalah kebudayaan tetapi masalah spiritual menjadi nilai utama seperti tertuang dalam sila pertama Pancasila.

“Tidak seperti negara lain, Cina dan Korea yang menempatkan kebudayaan, justru Indonesia menempatkan spiritual di poin pertama. Ini menjadi kausa prima,” tegasnya.

Sementara, menjawab pertanyaan wartawan terkait adanya kebangkitan paham komunis, Soekarwo menjawab bahwa sebuah ideologi atau paham apapun dan di manapun tidak bisa mati. Seperti halnya paham liberalisme yang tidak akan mati. Komunisme di Indonesia sudah jelas dilarang. Sudah ada regulasi yakni TAP MPR yang mengatur pembubaran organisasi PKI ini, sehingga secara wadah tidak ada ruang untuk tumbuh.

Soal adanya pihak-pihak yang menyampaikan kebangkitan komunisme, menurutnya bisa saja, tapi dari segi organisasi tidak mungkin karena sudah jelas dilarang. “Kapasitas saya bukan seorang intelijen, tapi bila masyarakat ada yang melihat silahkan saja untuk melapor,” jelasnya.

Soal Komunisme, Soekarwo mengibaratkan komunisme di Indonesia dengan gelandangan karena sudah tidak memiliki rumah dan tidak bisa makan lagi.

Sementara, dalam prosesinya upacara Hari Kesaktian Pancasila berjalan tertib dan khidmad di bawah komandan upacara, Letkol Marinir Muhammad Nur Rohman yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Batalyon Komplek 1 Marinir. Sedangkan, sebagai Perwira Upacara adalah Mayor Polisi Militer Agus Budi Hariyono yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubgar 0812/Lamongan. Tema Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2017 itu yakni “Kerja Bersama Berlandaskan Pancasila Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur”.

Para undangan dan seluruh peserta mendengarkan dengan khidmad pembacaan ikrar oleh Ketua DPRD Jatim, Abdul Halim Iskandar. Pembacaan pembukaan UUD 1945 oleh Ryska Setiari Putri, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama dan sebagai pembaca doa adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jatim, H. Syamsul Bakhri,

Di mimbar kehormatan, nampak hadir isteri Gubernur Jatim Nina Soekarwo, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf beserta isterinya Fatma Saifullah Yusuf, kemudian juga hadir Sekdaprov Jatim Dr. H. Akhmad Sukardi beserta Isteri Hj. Chairani Yuliati Akhmad Sukardi, serta jajaran Forpimda Jatim dan isteri, pejabat, dan mantan pejabat di lingkungan Pemprov Jatim.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here