Gubernur Soekarwo: Jatim Sangat Efisien Untuk Investasi

0
140

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyebut ada sejumlah alasan agar investor menjatuhkan pilihan investasi di Jawa Timur. Di antaranya, peran Provinsi Jawa Timur yang menjadi hub perdagangan untuk kawasan Timur Indonesia dan Kalimantan.

“Mendirikan industri di Jatim merupakan keputusan tepat karena pasar yang ada sangat besar dan terus berkembang. Hal itu menjadikan Jatim sebagai lokasi investasi yang sangat menarik di Indonesia,” ujar Pakde Karwo.

Alasan lainnya, lanjutnya, karena biaya pengiriman barang dan jasa lebih murah ketimbang pengiriman melalui pelabuhan di Makassar. “Jatim merupakan salah satu tempat paling efisen untuk mengembangkan usaha industri. Jatim pun juga sudah dikenal sebagai provinsi industri, karena industri mampu memberi sumbangan sebesar 28.92 persen terhadap PDRB. Padahal menurut Menteri Perindustrian, batas minimal sebuah daerah disebut provinsi industri bila memberi kontribusi sebesar 25 persen terhadap PDRB. Apalagi, Jatim sudah menyumbang sebanyak 28.92 persen,” urainya.

Hal itu  disampaikan Soekarwo saat menghadiri Peresmian Mega Distribution Centre dan Fasilitas Produksi Preeform yang dirangkai dengan peringatan 25 tahun keberadaan PT. Coca Cola Amatil Indonesia, di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Kamis (9/3/2017).

Dia mengajak PT. Coca Cola Amatil Indonesia untuk terus berinvestasi dan mengembangkan usahanya di Jawa Timur, karena dapat meningkatkan efisiensi distribusi produk-produk Coca-Cola ke wilayah lain khususnya ke kawasan timur Indonesia.

Dikatakannya,  investasi yang berlanjut dari perusahaan sekelas Coca Cola akan mampu mendorong tumbuhnya sektor industri khususnya di Jawa Timur dan bisa memberi sumbangan sebesar 31 persen terhadap pertumbuhan PDRB di tahun 2018 mendatang.

Soekarwo menyatakan, kinerja perekonomian di Jawa Timur terus tumbuh dan membaik. Pada tahun 2016, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5.5 persen dengan nilai PDRB mencapai Rp1.855,04 trilliun.

Ada tiga sektor utama yang menopang kemajuan Provinsi Jawa Timur, yakni industri pengolahan sebesar 28.92 persen, kemudian untuk sektor perdagangan mencapai 18 persen dan sektor pertanian mencapai 13.31 persen.

Sementara, menjawab pertanyaan wartawan seusai acara peresmian, Pakde Karwo menegaskan realisasi investasi di Jawa Timur pada tahun 2016 mencapai Rp155 triliun. Investasi tersebut berupa PMA Rp28.57 triliun, PMDN Rp46.33 triliun dan untuk non fasilitas Rp82.14 triliun. Sedangkan ijin prinsip tercatat mencapai Rp61.43 triliun, yang sebagian besar didominasi ijin prinsip PMDN.

Di kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri makanan dan minuman merupakan industri strategis yang memiliki prospek cukup cerah. Itu ditandai dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman di triwulan IV tahun 2016 sebesar 8.46 perse. Angka itu dua kali lipat di atas pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 4.42 persen.

Karena itu, dunia usaha diminta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu, produktivitas, dan efisiensi proses produksi. Pihaknya juga akan terus berkomitmen menyiapkan tenaga kerja handal melalui penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

“Kemenperin akan terus berupaya melakukan pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan, serta program pembinaan dengan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industry,” tegasnya.

Kerjasama yang saling menguntungkan harus senantiasa dijaga. Jawa Timur sebagai provinsi industri juga perlu memperhatikan keseimbangan wilayah. Sektor lainnya juga perlu mendapat perhatian dan perlakuan yang sama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here