‘Gurun Pasir’ di Jalan Manyar Gresik

0
232

Nusantara.news, Gresik – Akhir-akhir ini Kota Pudak Gresik jadi viral pemberitaan. Bagaimana tidak, keamanan berlalu lintas terusik oleh pembangunan jalan raya Manyar Gresik tidak berdampak perbaikan. Pasalnya, perbaikan jalan di Desa Betoyo Kecamatan Manyar, Gresik sepanjang 15 KM sebagai akses jalan yang menghubungkan Kabupaten Gresik – Kabupaten Tuban kondisinya berdebu pasca diperbaiki sementara dengan cara dipedel. Tak hanya volume tingkat polusi udara meningkat, sektor perekonomian warga Desa Betoyo juga terganggu.

Sebelumnya, kondisi jalan di Desa Betoyo banyak berlubang, sehingga warga menyebutnya sebagai kawasan wisata jeglongan sewu. Namun, setelah adanya perbaikan, kini kondisinya semakin parah warga menyebutnya sebagai gurun pasir Betoyo. Bahkan dampak dari  perbaikan itu membuat ratusan warga Desa Betoyo Manyar terjangkit  Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Saking tebalnya debu, jarak pandang ketika melintas di jalan ini hanya beberapa puluh meter saja. Hal ini menyebabkan rawan kecelakaan lalu lintas.

Wajar, jika warga menuntut haknya sebagai keamanan dirinya. Karena negara berkewajiban memberikan jaminan keamanan dalam berlalu lintas seperti diatur  dalam Pasal 203 ayat (1) UU  No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas terjaminnya Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 24 UU tersebebut juga ditekankan, penyelenggara jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas. Apabila belum  dilakukan perbaikan, penyelenggara jalan wajib memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Dengan dalil di atas, warga  bisa menuntut pidana pemerintah sebagai penyelenggara jalan untuk segera memperbaiki jalan yang rusak, apalagi mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Namun, faktanya saat banyak korban berjatuhan akibat jalan rusak, dan muncul tuntutan dari publik kepada pemerintah, UU tidak diberlakukan sesuai isinya.

Dalam  Pasal 273 UU di atas, ada  ketentuan pidana bagi penyelenggara jalan yang tidak dengan segera  memperbaiki jalan  rusak yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas, baik luka ringan, luka berat atau meninggal dunia.  Jika korban luka ringan, penyelenggara jalan  dipidana dengan penjara paling lama 6  bulan atau denda paling banyak Rp 12  juta rupiah. Jika luka berat, ancamannya  pidana penjara paling lama 1  tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Sedangkan, jika korban meninggal, penyelenggara jalan diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta. Demikian juga jika tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak, ancamannya pidana penjara paling lama 6  bulan atau denda paling banyak Rp 1,5 juta.

DPRD Gresik  menyatakan, kondisi jalan  yang  bermasalah itu disebabkan  pengaspalan  yang  belum terealisasi, sehingga pengurukan dengan pasir dan kerikil menimbulkan debu  tebal sekali ketika dilintasi kendaraan.

“Tak hanya karena terkendala lelang pengaspalan jalan saja. Faktor cuaca juga membuat kondisi jalan semakin tidak karuan. Dan juga diduga akibat proyek penanaman pipa milik PGN, akibatnya beban jalan tak bisa menahan bobot kendaraan yang mengangkut pipa-pipa tersebut,” jelas Abdul Hamid, Ketua DPRD Gresik beberapa waktu lalu.

Kondisi ini tentu sangat disesalkan warga setempat yang menggantungkan hidupnya sepanjang jalan Betoyo, seperti para penjual nasi di warung-warung kecil sepanjang jalan. Para pemilik warung terpaksa harus menutup kiosnya karena kondisinya sudah tidak memungkinkan.

“Ya, gimana lagi, mas. Orang yang mau makan di warung tentu malas melihat kondisi yang berdebu. Jangankan untuk mampir dan duduk makan, menghirup udara segar saja susah,” jelas Dharmi pemilik warung nasi di sana yang ditemui, Selasa (7/3/2017).

Warga kain, Dwi Sudharmono juga mengeluhkan kondisi jalan yang dianggapnya sudah parah sekali jika melintas di jalan Betoyo. Menurutnya, pipa galian sepanjang jalan adalah biang kerok kerusakan jalan, disamping itu kondisi jalan yang sudah tak kuat menahan beban jalan. “Dulunya jalan Betoyo dikenal sebagai jeglongan sewu, kini jadi gurun pasir.ujarnya kepada Nusantara.news, Selasa (7/3/2017).[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here