Gus Dur dan Israel

0
532
Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Nusantara.news, Surabaya – Ada empat misteri di dunia ini. Kelahiran, jodoh, kematian, dan Gus Dur. Setidaknya itulah yang dikatakan almarhum Nurcholis Madjid atau Cak Nur dengan setengah bercanda.

Pada Haul ke-8 Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang jatuh pada 30 Desember 2017, kita diingatkan kembali perjalanan hidup Gus Dur. Memangnya kenapa dengan Gus Dur? Ya, selama hidup Gus Dur dikenal karena ucapan, perilaku dan manuver politiknya yang nyeleneh. Mantan Ketum NU tiga periode (1984-1998) itu benar-benar bak misteri. Pernyataan Gus Dur kerap disalahartikan dan mengundang kontroversi, bahkan oleh “kandangnya” sendiri kalangan NU dan pesantren.

Momen paling dikenang publik saat melihat tindak tanduk Gus Dur atas Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) atau judi berkedok sumbangan tahun 1990. Siapapun tak menduga, momen tersebut menjadi sangat kontroversi.

Sebelum SDSB, pada Desember 1985 muncul kupon berhadiah Porkas. Kupon berhadiah Porkas berhasil mengumpulkan dana mencapai Rp 11 miliar. Pada akhir 1987, Porkas berubah nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Dalam kurun 1987, KSOB menyedot dana masyarakat Rp 221,2 miliar.

Menginjak Juli 1988, Mensos menegaskan KSOB dan Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah (TSSB) diperkirakan menyedot dana masyarakat Rp 962,4 miliar atau meningkat 4 kali dibandingkan tahun 1987. Awal Januari 1989, KSOB dan TSSB bermetamorfosis menjadi SDSB. Akhir 1990, Pemerintah menambah frekuensi penarikan SDSB menjadi 9 kali.

Seketika itu kehidupan perekonomian masyarakat desa ke kota khususnya Jakarta, tersedot dan goyang. Efek negatif yang ditimbulkan sangat luar biasa. Gelombang protes berdatangan dari para Gubernur Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Timtim, Kalimantan Selatan, dan Bengkulu ramai-ramai memprotes. Bahkan Pemda Aceh dan Timtim menolak peredaran SDSB. Pun turut ulama dan mahasiswa menyuarakan hal serupa. Sayangnya hal itu tidak digubris pemerintah. SDSB tetap berjalan tanpa halangan.

Nah, di sinilah peran Gus Dur. Dengan segala keanehannya, Gus Dur meminta sejumlah uang kepada Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS), penghimpun dana SDSB. Tentu saja tindakan ini tergolong berani, mengingat NU mengharamkan SDSB.

Tindakan Gus Dur bocor atau memang sengaja dibocorkan agar semua orang tahu. Publik Tanah Air gempar. Hiruk pikuk terjadi di tubuh ulama NU dan umat Islam. Bahkan Gus Dur saat itu dengan santai membela SDSB sebagai sumbangan yang halal.

Inilah titik ‘murka’ demonstrasi besar-besaran menentang SDSB. Gara-gara SDSB, umat terpecah belah. SDSB berpotensi merusak kerukunan umat dan bangsa. Buktinya seorang kiai (Gus Dur) sampai menggunakan dana SDSB.

Demonstrasi di berbagai daerah tidak lagi sebatas tema masalah ekonomi dan psikologi, melainkan perpecahan di masyarakat. Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan Pemerintah. Perpecahan di masyarakat berpotensi menimbulkan huru hara atau kerusuhan. Pada akhirnya, Pemerintah secara resmi mencabut dan membatalkan pemberian izin SDSB pada 25 November 1993.

Inilah kontroversi Gus Dur. Dibubarkannya SDSB merupakan bagian dari taktik Gus Dur menggugah perasaan orang. Dalam dunia Islam, cara Gus Dur ini dinamai tradisi sufistik yang orang awam tidak mengetahuinya. Di kalangan kiai NU, hal itu disebut khariqul ‘adah. Sementara awam memandang kemampuan itu sebagai suatu keanehan, ganjil, paradoks atau kontroversial.

Sampai saat ini tidak ada kiai-kiai NU mengikuti jejak Gus Dur. Seperti yang pernah disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kota Gede, Yogyakarta KH Abdullah Muhaimin yang merupakan rekan dekat dan teman spiritual mendiang Gus Dur. “Selama ini kiai-kiai NU yang berkembang hanya perspektif keagamaan. Strategi budaya hampir tidak ada,” ungkapnya.

Sosok Gus Dur dalam hal spiritual, dianggap memiliki keterikatan dengan Mbah Liem, sosok kiai besar yang nyentrik. Sifat dan ideologi nasionalismenya pun sangat teruji. “Gus Dur punya benang merah spiritual dan langkah-langkah hampir sama dengan Mbah Liem. Satu ketika Mbah Liem gerah, tiba-tiba beliau ingat hari itu hari kemerdekaan, langsung bangun upacara 17-an. Nasionalisme Mbah liem lebih dari 100 persen. Demikian Gus Dur juga mengaktualisasikan nasionalisme lewat gerakan populis kebudayaan dan cerdik,” tegasnya.

Menciptakan Perdamaian Dunia

Gus Dur memiliki gagasan yang mungkin belum terpikirkan orang lain. Pikirannya jauh melampaui orang-orang di jamannya. Hidup Gus Dur adalah ilmu tanpa batas. Segala sikap, pemikiran dan geraknya adalah ilmu. Gus Dur memiliki perspektif luas tentang keindonesiaan, kebangsaan, pesantren, dunia Islam, dan dunia di luar Islam.

Salah satunya saat Gus Dur dicaci dan dihujat oleh sebagian kelompok yang tak sepaham dengannya. Tokoh NU itu pernah dicap sebagai kiai liberal-sekuler, dan dianggap sebagai antek Yahudi karena dekat dengan Israel.

Sebelum menjabat sebagai presiden, Gus Dur memang kerap berkunjung ke Israel. Hal itu dilanjutkan ketika menjabat sebagai presiden. Gus Dur bahkan berencana membuka jalur hubungan diplomatik dengan negeri zionis itu.

Seperti yang ditelusuri Nusantara.News di situs www.kemendag.co.id, hubungan Indonesia dengan Israel akhirnya benar-benar terwujud namun dalam bisnis Export-Import.

Dalam situs Kemendag itu terungkap bahwa hubungan dagang Indonesia-Israel sudah terjadi sejak Pemerintahan Gus Dur pada tahun 2000. Saat itu Gus Dur memerintahkan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Jusuf Kalla (sekarang Wakil Presiden) untuk membuka hubungan dagang Indonesia Israel.

Jika presiden-presiden Indonesia sebelumnya dengan tegas menolak hubungan dagang Indonesia dengan Israel. Tapi lewat Surat Keputusan (SK) 26/MPP/Kep/11/2000 bertanggal 1 Februari 2000, soal pencabutan larangan dagang dengan Israel. Ya, sejak Presiden Gus Dur sampai dengan Presiden Jokowi, hubungan dagang Indonesia dengan Israel masih berlanjut. Namun itu hanya sebatas hubungan datang, bukan hubungan diplomatik.

Baca juga: Mendag Bohongi Publik Soal Hubungan Dagang Indonesia-Israel

Orang kemudian berpendapat miring. Tentunya, hanya Gus Dur yang tahu alasan kenapa dia dekat dengan Yahudi. Dari berbagai sumber yang dikumpulkan Nusantara.News, rencana Gus Dur ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel rupanya sudah terbesit sejak dia kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Saat itu Gus Dur melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum dan Sastra Universitas Baghdad, Irak kurang lebih selama 4 tahun. Nah, selama kuliah itu, cucu pendiri NU Hasyim Asyari mempelajari dunia intelektual Yahudi lebih dalam dibanding buku bacaan dan informasi yang dia peroleh.

Mahfudz Ridwan yang merupakan teman Gus Dur sewaktu kuliah di Baghdad mengatakan, Gus Dur mendapat sparing partner diskusi bernama Ramin, seorang keturunan minoritas Yahudi di Irak.

Ramin adalah seorang Jurnalis yang melakukan pekerjaan tambahan di toko pakaian. Keduanya klop karena Ramin seorang pemikir liberal dan terbuka. Gus Dur mendalami pemikiran Ramin tentang politik Yahudi, budaya dan ekonominya, termasuk tragedi kemanusiaan yang dialami Yahudi di Rusia.

Di sinilah Gus Dur menunjukkan minat mempelajari cara Yahudi termasuk cara-cara Yahudi mempengaruhi Amerika dan dunia sampai kini. Untuk mempelajari itu, Gus Dur bahkan sampai mempelajari sisi budaya Kabbala, sebuah tradisi mistik Yahudi.

Dalam kacamata Gus Dur, solidaritas Yahudi di dunia sangat kuat dan militan sehingga mampu menguasai dunia.  Apalagi, merujuk firman Tuhan dalam sejumlah kitab, yang mengutuk Yahudi atau menempatkan bangsa Yahudi sebagai bangsa yang ingkar kepada Tuhan. Stigma itulah yang menyebabkan Yahudi ingin menunjukkan pengaruhnya kepada dunia serta diakui oleh bangsa lain.

Baca juga: Jejak Orang Yahudi di Indonesia

Oleh karena itu Yahudi selalu berkonsolidasi baik secara ekonomi dan politik untuk mempengaruhi dunia. Caranya? Lobi dan bantuan finansial yang diberikan kepada bangsa lain.

Gus Dur melihat Yahudi sebagai kekuatan besar yang mesti dipertimbangkan. “Kita mesti belajar dari semangat orang-orang Yahudi,” kata Mahfudz menirukan Gus Dur.

Ketika dunia menghujat Israel, termasuk saat ini Yerusalem yang diklaim sebagai Ibu Kota Isarel atas pernyataan Presiden AS Donald Trump, justru pemikiran Gus Dur tidak demikian. Orientasi Gus Dur adalah menciptakan perdamaian dunia. Pun saat menjabat presiden, Gus Dur ingin mengirim ribuan sarjana ke Israel untuk mempelajari tata pemerintahan, politik, ekonomi dan pertanian Yahudi yang jauh lebih maju dibanding Indonesia. Namun langkah ini belum terwujud. Sebab, banyak protes dan caci maki di Tanah Air.

Bapak Maritim Nusantara

Selain dikenal akan kontroversinya, tentu banyak hal yang bisa ditangkap dari pemikiran dan gagasan Gus Dur. Termasuk cita-cita Gus Dur membangkitkan kembali Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat. Cita-cita inilah yang kemudian ditelurkan oleh pemerintahan Jokowi saat ini.

Komitmen Gus Dur dalam persoalan kemajuan bangsa ini memang tidak diragukan lagi. Dia melihat potensi sumber daya maritim yang dimiliki Indonesia belum dioptimalkan secara maksimal. Bahkan Gus Dur mengungkapkan bahwa krisis ekonomi yang menghantam perekonomian Indonesia di tahun 1997 telah mengakibatkan turunnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat disebabkan oleh kurangnya optimalisasi sektor perekonomian berbasis kelautan. Padahal 75 persen wilayah Republik Indonesia merupakan hamparan lautan yang menyimpan potensi ekonomi cukup besar.

Gus Dur di era tersebut sudah membaca potensi ekonomi kelautan yang dimiliki bangsa ini. Dan menyadarkan kepada kita semua perlu adanya reorientasi ekonomi dari daratan ke lautan. Melihat secara geografis letak Indonesia juga sangat strategis, berada di kawasan Asia Pasifik yang merupakan kawasan sentral perekonomian dunia.

Gus Dur ketika menjadi presiden banyak melakukan gebrakan dan manuver dalam meyakinkan kepada kita semua bahwa Indonesia memang layak menjadi negara maritim.

Warisan yang paling terasa saat ini ketika pada tahun 1999,  menetapkan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 sebagai Hari Nusantara. Sebagai tanda Indonesia merupakan negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Bukan laut yang menjadi pemisah, justru lautlah yang menyatukan kita semua.

Gus Dur juga membuat suatu keputusan sangat luar biasa, yang memiliki tujuan mengakomodir potensi kemaritiman dengan mengeluarkan Keppres No.161/1999 yang melahirkan Dewan Maritim dan Departement eksplorasi kelautan dan perikanan (Cikal bakal berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan).

Komitmen Gus Dur terhadap bangsa dan negara ini memang sudah selayaknya kita jadikan semangat dalam berjuang. Banyak cita-cita Gus Dur yang menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk selalu berbuat baik kepada sesama. Memberikan seluruh tumpah darahnya untuk Republik Indonesia. Semoga bahagia selalu di sana ya Gus.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here