Gus Ipul Boneka Jatim Pilihan Luhut?

0
752
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mendampingi Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, bersilaturahim ke ponpes Nurul Cholil dan Syaikhona Kholil, Bangkalan.

Nusantara.news, Surabaya – Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf sudah terlihat beberapa kali mendampingi Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dalam lawatan kerja ke Jawa Timur. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, sebatas mana hubungan Gus Ipul dan Luhut? Benarkah hanya sebatas kunjungan kerja biasa ataukah ada muatan politis terkait Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018?

Belum lama ini Gus Ipul mendampingi Luhut Panjaitan mendatangi PT Garam (Persero) Kalianget, Kabupaten Sumenep, Rabu (30/8/2017). Pada kesempatan itu, Gus Ipul mengatakan pemerintah pusat akan membenahi industri garam melalui sistem teknologi yang lebih modern sehingga proses industri lebih efisien dan keuntungan lebih tinggi.

Menko Luhut mengatakan, kunjungan kerja ini merupakan instruksi dari Presiden Jokowi untuk membenahi industri garam di Indonesia. “Kami diminta untuk melihat langsung di lapangan kenapa bertahun-tahun kita impor garam dan petani masih menderita, karena Presiden ingin jangan sampai petani garam dirugikan,” katanya.

Tidak hanya itu, keduanya juga mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Kholil di Bangkalan, dan menyerahkan bantuan hewan kurban di lembaga itu. Tampak Luhut menyerahkan bantuan berupa hewan kurban untuk Ponpes Nurul Kholil dan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil.

Dikatakan Gus Ipul, untuk memajukan Madura perlu mengajak dialog para ulama dan kiainya. Apalagi, wilayah Madura memang khas dan memiliki jargon yang dihormati pertama adalah orang tua, kemudian kiai (guru), baru pemerintah-nya.

Bila ditarik ke belakang, Luhut dan Gus Ipul pernah mengajak tujuh Kiai Khos (Sepuh) makan siang. Acara yang diinisiasi oleh Luhut ini digelar di hotel JW Marriot, Surabaya, Selasa (18/7/2017).

Tujuh Kiai Sepuh itu di antaranya KH Zainuddin Jasuli dan KH Nurul Huda Jazuli, pengasuh Pesantren Ploso, Mojo, Kediri; kemudian KH Miftachul Ahyar, Pengasuh Pesantren Miftachussunnah Surabaya; KH Anwar Iskandar Pengasuh Pesantren Al Amien, Ngasinan, Kediri; serta beberapa Kiai Sepuh Lainnya.

Kiai Abdussalam (Gus Salam), pengasuh pesantren Denanyar, Jombang, mengatakan kedatangan Luhut saat itu ingin membahas masalah bangsa, termasuk upaya bagaimana menjaga Jawa Timur tetap adem khususnya menyambut proses pemilihan gubernur Jawa Timur mendatang.

“Pak Luhut sudah lama kangen, pengen bertemu para Kiai Sepuh. Para Kiai dengan Pak Luhut kan sudah berteman lama sehingga pertemuan penuh dengan canda,” dalih Gus Salam.

Semua tahu bahwa Luhut Panjaitan orang kuat di pemerintahan Jokowi. Dia dijuluki “setengah Presiden” karena kewenangannya yang semula dijalankan Presiden, kini dapat dijalankan olehnya.

Luhut memang menampik anggapan bahwa dirinya seringkali mengerjakan hal-hal yang berada di luar tanggung jawabnya. Menurutnya, menyelesaikan masalah pemerintahan harus secara terintegrasi dengan seluruh kementerian. Dia menolak disebut sebagai “super minister” karena terkadang mengurusi masalah di luar bidang kemaritiman. Tapi pada prakteknya tidak demikian, kewenangan Luhut tampak dominan dibanding menteri-menteri lain.

Luhut bisa menjalankan tugas Presiden sehari-hari, seperti melakukan koordinasi dengan menteri-menteri di kabinet kerja hingga menentukan program prioritas. Istilahnya, kalau di partai ada ketua umum dan ada ketua harian. Nah, di pemerintahan Jokowi ada Presiden dan presiden harian.

Karena itu wajar jika kondisi ini dimanfaatkan Gus Ipul untuk merapat ke Luhut, karena dia merupakan kepanjangan tangan Presiden Jokowi. Sebaliknya, Luhut juga punya kepentingan untuk memasang orang-orang kepercayaannya di Jawa Timur. Kepentingan dia justru lebih besar, tidak sekedar Pilgub 2018 melainkan Pilpres 2019.

Luhut tentu sangat peka terhadap suhu politik Jawa Timur. Safari politik yang dibalut dengan kunjungan kerja, sebenarnya merupakan bentuk ‘kepedulian’ dalam persiapan memilih boneka Jatim jelang Pilpres 2019.

Pertimbangannya, Jatim adalah mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) sehingga kepentingan penguasa bisa sejalan dengan keinginan kiai-kiai NU yang menginginkan memiliki gubernur dari kader NU tulen.

Apalagi selama ini partai pendukung pemerintah yakni PDIP banyak mengalami kekalahan di sejumlah Pilkada di Pulau Jawa. Sehingga harapan hanya di Jatim jika memang ingin mempertahankan kemenangan di Pileg dan Pilpres 2019.

Untuk itu, pemerintah memerlukan boneka yang handal dan cakap. Boneka yang selalu sendiko dawuh pada kepentingan penguasa. Dan, karakter seperti ini ada pada diri Gus Ipul.

Gus Ipul sangat paham ‘berkah’ ini. Dengan posisinya saat ini, dia tampak ngoyo unjuk gigi mendaftar ke sejumlah partai agar mendapat restu maju sebagai Cagub Jatim, tak terkecuali menghambat laju pesaing lain, yakni Khofifah Indar Parawangsa. Dilihat dari kacamata kuda, bila Gus Ipul mendapat dukungan pemerintah, maka kemenangan sudah di depan mata.

Sebelumnya, survei Indikator Politik Indonesia memastikan, jika Pemilu Presiden digelar sekarang, posisi Jokowi berada di urutan teratas versi warga Jawa Timur. Tokoh-tokoh yang bisa dikalahkan Jokowi, antara lain Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra), Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum DPP PDI Perjuangan), Soesilo Bambang Yudhoyono-SBY (Ketua Umum Partai Demokrat), Harry Tanoesudibyo (Ketua Umum Partai Perindo), Aburizal Bakrie (Ketua Dewan Pembina Partai Golkar). Sedangkan tokoh nasional seperti, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menkopolhukam Wiranto dan Menkeu Sri Mulyani.

Indikator menggelar survei di seluruh daerah di Jawa Timur mulai 3-7 Mei 2017. Warga yang disurvei yang memiliki hak pilih, umur mulai 17 tahun hingga yang sudah menikah.

Sampel sebanyak 819 orang dengan metode multistage random sampling, memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berdasarkan survei yang dilakukan Top of Mind atau dilakukan secara spontan, maka hasilnya Joko Widodo 28,2 persen, Prabowo Subianto 13,6 persen, kemudian tokoh-tokoh lainnya tidak lebih dari 1 persen, sedangkan 52,2 persen warga Jatim belum memiliki pilihan.

Kemudian, survei dengan cara simulasi semi terbuka dengan menyodorkan 41 nama, hasilnya Joko Widodo 41,7 persen, Prabowo Subianto 20,8 persen, Tri Rismaharini 2,1 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2 persen dan tokoh lainnya di kisaran 2 persen ke bawah.

Berikutnya, pilihan kepada calon Presiden dengan cara simulasi tertutup dua nama, menempatkan Joko Widodo dengan raihan 54,4 persen, sedangkan Prabowo Subianto 30,4 persen, dan 15,3 persen lainnya belum mempunyai pilihan.

Artinya, secara head to head, Joko Widodo unggul dengan selisih 24 persen dibandingkan Prabowo Subianto versi masyarakat Jawa Timur.

Dengan kata lain, Joko Widodo masih mendominasi potensi kontestasi Pemilihan Presiden yang akan berlangsung pada 2019 di Jawa Timur.

Masih ‘lakunya’ Jokowi di Jawa Timur, tentu menjadi pertimbangan bagi Luhut untuk mengamankan satu tiket di Pilgub Jatim. Diperkirakan Luhut akan mati-matian memasang bonekanya agar jalan Pilpres mulus.

Diakui atau tidak, Pilkada sebenarnya dinamika lokal atau bagian dari politik nasional yang mempengaruhi pertarungan di tingkat nasional. Dinamika Pilgub Jatim memiliki arti sangat strategis, yakni sebagai pijakan penting menuju Pemilu Presiden 2019. Arti strategis itu lantaran Jatim memiliki jumlah pemilih terbesar dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Berdasarkan jumlah suara di Pilpres 2014 yang dirilis KPU, Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jatim tercatat 30.640.941 jiwa, dengan suara sah 21.946.460 pemilih saat pemilu memenangkan Jokowi. Saat itu Jokowi berhasil meraih dukungan 11.669.345 (53,17 persen).

Dengan banyaknya pemilih tersebut, pada akhirnya membuat Parpol harus sigap mengamankan Jawa Timur. Atau, dengan kata lain, manuver politik dari sejumlah partai dalam beberapa hari terakhir ini dapat dilihat sebagai langkah awal untuk mengamankan Pilpres 2019. Apalagi Jatim adalah lumbung suara. Maka, itu sangat seksi di mata parpol.

Sebagai bukti kemenangan Gubernur Jatim Soekarwo hingga dua periode menjadi rangkaian tak terpisahkan bagi mantan Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia selama dua periode.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here