Hari Air Sedunia di ITS, Surabaya

Gus Ipul: Jaga Lingkungan Agar Jatim Tidak Krisis Air

0
57

Nusantara.news, Surabaya – Dalam rangka memperingati World Water Day 2017, Kelompok Pecinta Pemerhati Lingkungan (KPPL) ITS mengadakan kompetisi dragon boat di kampus ITS, Surabaya, Sabtu (25/3). Kompetisi kali ini diikuti oleh 13 peserta yang berasal dari komunitas dayung, Ditpolair Polda Jatim, SMK kelautan, serta berbagai komunitas lainnya.

“Kegiatan seperti ini supaya mengingatkan kita bahwa pentingnya air pada kehidupan. Rasio air di Pulau Jawa 0,4% dari suplai yang ada, sehingga masuk kategori kritis,” kata Prof Ir Joni Hermana PhD, Rektor ITS di sela-sela acara.

Padahal, kata Joni Hermana, saat musim penghujan air tidak mampu dimanfaatkan, sehingga terjadi banjir dan lewat begitu saja ke laut. Idealnya, air harus diserap oleh tanah, melalui akar-akar tumbuhan untuk menjadi cadangan di masa kamarau.

Karenanya, sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian pada air, kali ini ITS juga menggelar kegiatan susur sungai dengan menggunakan perahu karet. Susur sungai juga untuk membantu membersihkan sungai dari kotoran.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul)  yang hadir dalam peringatan tersebut memberikan apresiasi pada kegiatan semacam ini. “Saya juga bahagia sekali pagi ini. Karena penyelenggara Hari Air Sedunia ini adalah mahasiswa, generasi muda Indonesia,” kata Gus Ipul.

Krisis Air Mengintai

Meneruskan pernyataan Rektor ITS, Gus Ipul mengatakan bahwa rasio air di Jawa saat saat ini mencapai 0,4%. Padahal rasio air idealnya kurang dari 0,25% dari suplai air yang ada. Minimnya rasio air ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak untuk turut menjaga kelestarian lingkungan agar sumber-sumber mata air terus terjaga.

Yang perlu dilakukan, kata Gus Ipul, adalah bagaimana mengurangi pengolahan air serta penggunaan kembali air limbah industri dan rumah tangga yang telah diolah.

“Kalau bisa kita juga harus menemukan sumber air baru. Saat ini sumber mata air terus berkurang. Mata air Sungai Brantas misalnya, saat ini di bawah 200, padahal dulu lebih dari 300 mata air,” kata Gus Ipul.

Karenanya, Gus Ipul berharap kegiatan seperti yang dilakukan ITS ini bisa dilakukan setiap tahun.

“Saya melihat ITS selalu berkontribusi pada pembangunan di Jawa Timur. Saya berharap ITS bisa melakukan riset tentang pengelolaan air. Saya juga titip kepada Pak Rektor untuk membuat penelitian mengenai moda transportasi yang cocok bagi Jawa Timur,” pungkas Gus Ipul.

Krisis Air Global

Kepedulian civitas akademika ITS, Surabaya terhadap kelestarian sumber daya air patut dihargai. Kegiatan semacam itu relevan dengan tantangan dan problematik ketersediaan sumber daya air yang semakin berkurang.

Dalam catatan laman yang dilansir water.org disebutkan bahwa akses penduduk dunia terhadap air telah mengalami penurunan sejak lima tahun terakhir. Lembaga yang peduli terhadap kelestarian sumber daya air ini mengkhawatirkan terjadinya krisis air di masa mendatang. Dari data yang dipublikasi tahun 2015 oleh water.org tercatat 4 hal penting yang perlu menjadi perhatian seluruh negara di dunia terkait dengan persoalan penduduk yang sulit mengakses sumber daya air, yaitu:

  • 1 dari 10 orang penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap air yang layak minum (663 juta orang).
  • 131 juta penduduk Asia Tenggara tidak memiliki akses terhadap air
  • 1 dari 3 orang penduduk dunia atau setara 2,4 milyar orang dengan tidak memiliki akses toilet (MCK).
  • Lebih banyak orang yang memiliki telepon seluler daripada toilet (MCK). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here