Gus Ipul Mau-mau dan Khofifah Malu-malu

0
119
Masyarakat Jatim pendukung Khofifah berharap agar dirinya secepatnya mendeklarasikan sebagai Cagub dalam Pilkada Jatim 2018.

Nusantara.news, Surabaya – Akhirnya, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul resmi mendaftar sebagai Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Jawa Timur ke Partai Demokrat dan mengembalikan formulir pendaftaran ke DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Senin (31/7/2017).

Sebaliknya, Khofifah Indar Parawansa yang sebelumnya santer terdengar akan mendaftar di hari terakhir pendaftaran, justru membatalkan tanpa kejelasan yang dapat dikonfirmasi. Kejadian ini seakan menjadi puncak dari dua kutub berlawanan di antara Gus Ipul dan Khofifah saat melakukan komunikasi politik dengan berbagai partai politik.

Menurut Mochtar W Oetomo, Direktur Surabaya Survey Center (SSC), dalam komunikasi politik dengan berbagai parpol selama ini, Gus Ipul cenderung bersifat terbuka dan verbal. Dia bersikap proaktif, menjemput bola untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya dukungan parpol. Istilah, gaulnya Gus Ipul cenderung bersikap “mau mau mau” berkerjasama dengan parpol apapun. Sebaliknya Khofifah bersikap kebalikannya, cenderung “malu malu mau”.

Mochtar W Oetomo, Direktur Surabaya Survey Center (SSC).

“Dengan berbagai pernyataannya yang menyatakan masih check sound atau menyamakan frekuensi dengan berbagai parpol serta menunggu waktu untuk deklarasi sesungguhnya itu sikap Khofifah yang mau tak mau sangat mengharapkan dukungan lintas parpol,” ungkap Mochtar yang juga staf pengajar di Universitas Trunojoyo Madura ini.

Tapi dengan menunda-nunda deklarasi terbuka, lanjut Mochtar, Khofifah juga seakan bersikap hati-hati dan selektif dalam memilih partai pengusungnya. Dengan keterbatasannya sebagai Mensos, Khofifah cenderung bersikap malu-malu tapi mau.

Analisa Mochtar,  kedua model sikap yang berlawanan tersebut sesungguhnya sama-sama mengandung resiko. Gus Ipul yang terlalu verbal bisa dipersepsikan publik sebagai ingin mendominasi semua parpol. Ini mengandung resiko bagi Gus Ipul dan akan menjadi pihak tertuduh dalam mengupayakan wacana calon tunggal.

Di sisi lain, dengan ikut mendaftar ke demokrat, sementara di sisi lain sudah pasti diusung PKB, kalau tidak hati-hati Gus Ipul bisa menciptakan suasana yang tidak nyaman antara Demokrat dan PKB, manakala masing-masing partai ingin  menjadi leader dalam mengusung Gus Ipul.

Sebaliknya sikap Khofifah yang malu malu mau itu kalau terlalu lama dipelihara bisa membuat parpol menjadi jengah karena merasa digantung dan tidak dihargai.

Pembatalan pendaftaran kemarin mau tidak mau jelas akan membuat Partai Demokrat dan konstituennya akan cenderung mengambil posisi berseberangan dengan Khofifah. Belum lagi problem yang sama, yakni munculnya persaingan antar parpol untuk menjadi leader dalam mengusung Khofifah.

“Semakin lama kepastian diberikan Khofifah maka potensi konfliknya akan semakin tinggi. Situasi ini bisa saja dimanfaatkan oleh kandidat lain secara cerdas untuk menangkap bola muntah dari perseteruan dua kutub ekstrim antara Gus Ipul dan Khofifah,” tambah Mochtar saat di konfirmasi Rabu (2/8/2017).

Sementara, sebelumnya juga mendaftar sebagai Bacagub Jawa Timur dari partai yang sama, yakni Partai Demokrat ada seorang pengusaha yang juga Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti.

Selain itu, Nur Hayati Assegaf Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, yang juga anggota DPR RI. Nurwiyatno dari Inspektorat Provinsi Jawa Timur. Serta Kombes Polisi Syafiin, putra asal Jombang yang masih keluarga dalem Ponpes Siddiqiyah, Ploso, Jombang.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here