Krisis Nasionalisme

Gus Ipul Pilih Pengusaha Cina Daripada Lokal

0
533

Nusantara.news, Surabaya – Rasa nasionalisme Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur patut dipertanyakan. Di saat Indonesia, terutama Jawa Timur, tengah diobok-obok tenaga kerja asing ilegal asal Cina dan meresahkan para tenaga kerja lokal, Wagub Jatim yang akrab disapa Gus Ipul malah memberikan peluang pengusaha negeri Tirai Bambu untuk berinvestasi di Jatim.

Ada apa dengan Gus Ipul yang lebih mengutamakan pengusaha Cina daripada lokal untuk membangun Jawa Timur? Apakah pengusaha Jatim dinilai sudah tak mampu lagi?

Maklum, dari realisasi investasi Cina di Jatim sebanyak 82 proyek dengan total nilai mencapai Rp2,04 triliun atau USD152,7 juta dan diharapkan akan dapat menyerap 2.253 tenaga kerja. Di sisi lain, perdagangan Jatim-Cina pada 2016 mengalami defisit sebesar USD2,65 miliar dari nilai ekspor mencapai USD1,57 miliar dan impor sebesar USD4,22 miliar.

Pakar Ekonom dari Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) yang dikenal IKIP Banyuwangi, Drs. Teguh Sumarno. MM saat dikonfirmasi Nusantara.news, Selasa (28/3/2017) mengungkapkan Indonesia saat ini mengalami krisis nasionalisme dan kebhinekaan seiring isu politik akhir-akhir ini.  Kebijakan Gus Ipul untuk menarik investor Cina ke Jatim harus dievaluasi kembali. Kebijakan investasi untuk membangun Jatim, menurut Teguh, harus bisa memprioritaskan pengusaha lokal daripada Cina dalam.

Dalam pandangannya, banyak pengusaha di Jatim yang ingin memajukan daerahnya, lalu mengapa harus pengusaha Cina? Dengan masuknya pengusaha Cina ke Jatim, persoalan akan semakin kompleks. Dampaknya tidak hanya membuat pengusaha lokal sulit berkembang, namun keberadaan investor Cina belum tentu dapat mengakomodir tenaga kerja lokal, seiring dengan jumlah pengangguran di Jatim yang—meski trennya menurun—masih mencapai 839.280 orang.

“Di Era globalisasi ini Jatim tak bisa menolak hadirnya tenaga kerja asing, terutama Cina. Namun keberadaannya sudah sangat meresahkan tenaga kerja lokal. Dari segi pengupahanpun sudah menimbulkan kesenjangan sosial,” ujar Teguh.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, karena pekerja lokal dapat tersingkir. “Kalau pemerintah provinsi Jatim tak bisa melindungi tenaga kerja lokal, maka tidak menutup kemungkinan para tenaga lokal akan tersisih dan tentu akan menambah jumlah pengangguran. Harus ada regulasi yang jelas dalam penggunaan tenaga kerja asing asal Cina. Pemerintah harus bisa menindak pekerja Cina yang mokong dan marak di Jatim,” imbuhnya.

Pria yang menjabat sebagai Rektor UNIBA ini juga berpendapat bahwa keberadaan investor asing, terutama investor Cina, juga bisa mengancam para pengusaha lokal Jatim yang ingin sama-sama membangun Jawa Timur lebih baik lagi. Teguh menambahkan, “Jika mereka (pengusaha lokal) tidak diberi akses atau peluang, lalu bagaimana nasib mereka? Pemerintah harusnya lebih mengutamakan lokal daripada Cina.”

“Bukannya anti Cina, namun pemerintah harusnya bisa melindungi pengusaha lokal terlebih dulu daripada pengusaha Cina. Toh, ngurusi anak dewe sek angel, lapo ngurusi anak e wong liyo (mengurus pengusaha lokal saja masih sulit, mengapa mengurus kepentingan investor asing) yang jelas-jelas belum tentu memberi kemaslahatan bagi masyarakat Jatim. Banyak pengusaha kaya asal Jatim yang ingin membangun Jatim lebih baik lagi. Kenapa harus Cina sih?” tanyanya.

Teguh juga mempertanyakan nasionalisme Gus Ipul yang nyata-nyata sudah berpihak kepada investor Cina daripada pengusaha lokal. Soal tenaga kerja Cina mokong saja belum tuntas, Pemrov Jatim malah mengundang investor Cina masuk, dan tak tanggung-tanggung realisasi investasi Cina di Jatim sebanyak 82 proyek dengan total nilai mencapai Rp2,04 triliun atau USD152,7 juta.

“Namun, kenyataannya sampai saat ini banyak investasi dari pengusaha negeri Tirai Bambu itu yang belum direalisasikan, meski izin usahanya sudah dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mereka (investor Cina) belum tentu lebih baik dari pengusaha lokal. Yang saya khawatirkan keberadaan investor Cina di Jatim bisa menimbulkan krisis nasionalisme, sosial dan budaya bangsa. Keberadaan Cina di Jatim, terutama para investor, lebih baik ditinjau ulang kembali,” saran Teguh.

Gus Ipul Janjikan Kemudahan Investor Cina

Seperti diketahui bahwa melalui Seminar Investasi dan Business Matching ini, Gus Ipul berharap bisa membuka kesempatan untuk investor China melihat langsung potensi Jawa Timur dan memacu realisasi investasi yang izinnya sudah dikeluarkan. Gus Ipul menjanjikan kepada 25 delegasi BUMN dari Cina, yaitu kemudahan berinvestasi dengan memberikan empat jaminan kepada mereka. Selain kemudahan izin investasi, jaminan juga diberikan terhadap penyelesaian masalah tenaga kerja, ketersediaan energi dan infrastruktur wilayah, serta fasilitas penyediaan lahan.

Dari data di Pemprov Jawa Timur, kata Gus Ipul, di Tahun 2016 pertumbuhan ekonomi di provinsi ini mencapai 5,55%. Nilai ini lebih besar dari rata-rata nasional, yaitu 5,02%. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Timur di Tahun 2016 sendiri mencapai Rp1.855,04 triliun atau USD139,21 miliar. Gus Ipul juga menjelaskan, perekonomian di Jawa Timur pada 2016 ditopang tiga sektor utama, yaitu industri pengolahan (28,92%), perdagangan (18%), serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (13,31%).

“Diharapkan, kunjungan delegasi Cina ke Jatim ini dapat mendorong peningkatan kerja sama Jatim-Cina, termasuk kerja sama ekonomi dan bidang lainnya yang akan memberikan keuntungan bagi masyarakat dan pemerintahan di kedua belah pihak. Berdasarkan profil ekonomi Jatim, maka sektor pertanian, industri dan perdagangan saling bersinergi,” kata Gus Ipul. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here