Gus Ipul: PKB Pasti, Partai Lainnya Masih Komunikasi

0
43
Saifullah Yusuf usai menyerahkan hadiah Turnamen Futsal HUT Prov Jatim di Surabaya

Nusantara.news, Surabaya – Sejumlah nama terus menguat, disebut sebagai sosok potensial yang layak maju di Pilgub Jatim 2018, mendatang. Ada Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, La Nyalla Mattaliti yang siap maju sebagai bakal calon gubernur.

Nama lainnya yang juga disebut telah membulatkan tekad maju sebagai bacagub Jatim, di antaranya ada Nurwiyatno pejabat di Inspektorat Provinsi Jatim, Ketua DPD PDIP Kusnadi, Suhandoyo Anggota DPRD Jatim dari PDIP, Abdullah Azwar Anas dan nama lainnya.

Ketua PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang juga menjabat Menteri Sosial Khofifah misalnya, di sejumlah pemberitaan menyebut hasil komunikasi politik yang dilakukan dan pendekatannya dengan pimpinan parpol, disebut sebagai modal yang cukup untuk melangkah di Pilgub Jatim.

Pun demikian dengan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, dirinya menegaskan PKB positif telah memberikan dukungan kepada dirinya untuk maju di Pilgub Jatim. Sementara, sejumlah partai lainnya diakui masih sebatas komunikasi.

“Saya belum berani bicara karena masih dalam proses. Hari ini yang sudah pasti PKB, lainnya kita tunggu saja belum bisa saya sebutkan sekarang, kalau sudah pasti akan saya sebutkan,” ujar Gus Ipul usai menyerahkan hadiah Turnamen Futsal antar Pokja Wartawan di Lapangan Gool Mangga Dua, Surabaya, Selasa (10/10/2017).

Ditambahkan, selain masih terus menunggu kapastian sejumlah partai mendukung dirinya atau tidak, pihaknya juga menghargai keputusan tokoh-tokoh partai politik yang terus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak. Termasuk kehadiran Sekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto dengan Tri Rismaharini, kemarin.

“Saya memahami itu sebagai proses politik, siapa menemui siapa itu hal wajar. Karena partai itu ingin mendapatkan masukan dari semua pihak yang dianggap punya kapasitas dan kemampuan memberikan masukan, baik kepala daerah, tokoh-tokoh termasuk para kiai, adalah hal biasa yakni proses yang harus dihargai,” terangnya.

Jadi ini proses yang harus kita hargai, jadi saat ini masih proses. Nanti kalau selesai baru akan menentukan wakilnya.

Sementara, ditanya dua nama yang muncul yang banyak disebut bakal disandingkan dengan dirinya yakni, Anas atau Tri Rismaharini dirinya tidak berani memastikan.

“Itu bukan soal sreg, karena itu bukan kewenangan saya, tetapi partai koalisi. Tetapi nama-nama itu adalah nama-nama yang hebat, mereka orang-orang yang mumpuni,” ucapnya.

Pihaknya juga mengaku akan terus mengikuti proses, dan menghargai partai yang tidak mengubah-rubah mekanisme.

Manuver dan Perilaku Parpol di Pilkada

Sementara, jelang Pilgub Jatim ini semua partai politik telah memanasi mesin partainya. Mulai tingkat kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi semua elemen digenjot, bergerak berebut simpati dan dukungan. Termasuk menimbang dan memperhitungkan siapa bakal calon yang bisa dijagokan untuk maju di Pilgub Jatim.

Melihat peran partai politik yang sangat dominan di pemilihan kepala daerah, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo menyebut, pertimbangan partai politik dalam dukung mendukung atau mengusung kandidat didasarkan kepentingan jangka pendek. Partai politik berharap keuntungan timbal balik saat mengusung kandidat di pilkada. Jika calonnya menang dipastikan ada keuntungan yang didapat.

Tidak adanya pertimbangan ideologi dalam mengusung kandidat, menyebabkan partai beraliran apa pun berpotensi untuk bersatu atau koalisi. Misalnya, partai nasionalis dan agama juga berpeluang koalisi.

“Pilihan politik tidak lagi didasarkan pada nilai, ideologi, visi tetapi didasarkan kepentingan praktis jangka pendek. Apa yang menguntungkan buat subjek,” kata Mochtar.

Semua itu terjadi secara umum di setiap putaran pilkada. Karena tidak ada pertimbangan nilai dan ideologi koalisi yang terbentuk kemudian bisa zig zag atau pelangi.

Saat partai politik sudah dapat keyakinan bahwa kandidat yang diusungnya menang, maka parpol akan ramai-ramai memberikan dukungan meski ada pandangan politik berbeda dengan kandidat yang diusung. Pilihan baru akan ditentukan setelah didapat keyakinan. Tentu, dengan alat bukti terukur bahwa keputusan itu menguntungkan.

Artinya, politik transaksional telah mengakar dan ikut mewarnai perjalanan seorang calon menuju jabatan tertentu. Tidak salah jika muncul sebutan untuk menuju jabatan selain harus ada modal finansial juga kesepakatan yang saling menguntungkan antar partai politik. Baik untuk jabatan di lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here