Gus Sholah Cemas, Modus “Orgil” Teror Ponpes Karangasem

0
82
INTEROGASI: Setelah diamankan, pelaku penyerangan terhadap KH Hakam Mubarok sempat diperiksa di dekat lokasi. Namun tidak ada sepatah kata pun yang terlontar.

Nusantara.news, LAMONGAN – – Kekerasan menyasar ulama terus terjadi. Kejadian terakhir menimpa KH Hakam Mubarok pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem, Paciran, Lamongan. Kendati tidak sampai berakibat fatal, ulah pelaku yang ciri-ciri fisiknya mirip orang gila bisa dibilang nekat karena melakukan di lingkungan pondok sesaat sebelum masuk waktu adzan Dzuhur, Minggu (18/2/2018).

Dari berbagai informasi yang dikumpulkan di lapangan, kejadian ini bermula ketika Kiai Hakam menegur seseorang yang tidur-tiduran di pendopo. Karena dirasa tidak pantas dan akan memasuki waktu shalat, tindakan itu dilanjutkan dengan perintah untuk segera meninggalkan lokasi. Pelaku yang belakangan mengaku bernama Paijo setelah diperiksa di Polres setempat, tidak terima dan justru menantang putra KH Ahmad Syamsuri tersebut.

Menyadari postur tubuh dan usia sudah tidak muda lagi, Kiai Hakam lantas berusaha menghindar menjauh. Namun tindakan itu justru memancing emosi pelaku yang kemudian mengejar dan mendorong korban. Sadar keselamatan jiwanya terancam, Kiai Hakam berteriak minta tolong yang didengar puluhan santrinya. Pelaku sempat jadi sasaran amuk massa sebelum diamankan dan diserahkan ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Lamongan AKP Yadwivana Jumbo Qantasson dalam keterangannya, mengatakan pelaku akan diperiksakan ke RS Bhayangkara di Surabaya untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya. “Sementara, data diri dan identitas yang kami dapatkan sangat minim,” terangnya kepada media.

Hanya saja, keterangan beberapa warga, pelaku diketahui kerap mondar-mandir di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Namun entah mengapa, sejak Minggu pagi masuk ke wilayah Ponpes Karangasem. Kejadian ini tentu saja menyulut keresahan seiring isu kekerasan terhadap ulama atau tokoh agama akhir-akhir ini yang punya kesamaan, dilakukan oleh atau setidaknya orang yang diakui gila.

Catatan redaksi, kekerasan dengan motif serupa merupakan kejadian kedua di Jawa Timur dalam kurun sebulan terakhir. Sebelumnya, terjadi di Tuban ketika Zaenudin berniat menemui Gus Mad salah satu pengasuh di Ponpes Al Islahiyah. Diduga karena niatnya tidak terkabul, pelaku yang datang bersama keluarga lantas meluapkan emosi dengan kaca merusak Masjid Baitur Rohim yang letaknya di depan pondok.

Terlepas dari faktor kejiwaan pelaku, namun fenomena ini tak urung memicu kekhawatiran ada agenda lain entah dengan motif apa. Apalagi kekerasan kepada ulama sudah memakan korban jiwa di Bandung. Khusus untuk Jatim, fenomena ini juga menguak luka lama ketika isu dukun santet yang terjadi pada 1998 justru banyak memakan korban ustaz  atau guru ngaji. Kasus itu bahkan hingga kini belum terungkap siapa dalangnya.

Terkait hal ini, pengasuh Ponpes Tebuireng, Kabupaten Jombang, KH Sholahudin Wahid sehari sebelum kejadian di Lamongan, menduga ada pihak yang ingin memperkeruh Indonesia dengan cara mengadu domba. “Saya melihat ada pihak ketiga mengadu domba, benar tidaknya saya tidak tahu, mudah-mudahan tidak berlanjut,” katanya di Jombang, Sabtu (18/2/2018).

Kekerasan terhadap pemuka agama maupun penyerangan tempat ibadah akhir-akhir ini, mengingatkan ulama yang karib dipanggil Gus Sholah tersebut pada masa-masa 1948 ataupun di 1965. Kala itu, sejumlah ulama dan tempat ibadah juga menjadi korban.

Karenanya, dia mengimbau aparat kepolisian sigap menangani dan beberkan hasil penyelidikan kepada masyarakat. Selain itu, publik juga diimbau untuk siaga dan segera melapor ke aparat terkait jika mengetahui hal yang mencurigakan terjadi di sekitarnya. “Saya yakin polisi akan tangani ini dengan baik. Sebagai masyarakat jika melihat tanda mencurigakan lapor ke polisi,” katanya ketika menerima kunjungan Kapolda Jatim Irjen Pol Machmud Arifin.

Terkait hal ini, Kapolda menegaskan tidak akan memandang remeh semua potensi gangguan keamanan dan ketertiban. Apalagi tahun ini di Jatim akan digelar 18 pemilihan kepala daerah (Pilkada) kota/kabupaten dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) serentak 27 Juni mendatang. “Kami akan lebih mengoptimalkan peran babinkamtibmas (bayangkara pembina kamtibmas). Termasuk monitoring segala lini untuk memastikan Jatim aman,” ucapnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here