Gus Sholah: No Comment, Jaga NKRI

0
245

Nusantara.news, Surabaya – Pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri di HUT ke 44 PDIP Selasa, (10/1/2017) di JCC Senayan, Jakarta, dinilai mempertentangkan antara Islam dan Pancasila. Apa tanggapan ulama terkait pernyataan puteri Proklamator RI itu? Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid saat dikonfirmasi Nusantara.news, Selasa (24/1/2017) enggan memberikan pernyataam terkait pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri di HUT PDIP ke 44 di Jakarta. Namun, Kyai yang akrab disapa Gus Sholah ini memberikan pesan singkatnya kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menjaga NKRI dari isu-isu yang ingin memecah belah persatuan. “Sudah cukup. Saya no comment saja, sudah banyak yang berkomentar terkait itu (pernyataan Megawati). Saya berharap kepada masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menjaga keutuhan dan persatuan bangsa,” jelasnya. Seperti diketahui, sikap Megawati itu dinilai ikut larut kepada kepentingan kelompok tertentu yang ingin membuat jarak dan menebar kebencian terhadap Islam. Tak hanya itu, Megawati sepertinya mempertentangkan antara Islam dan Pancasila dengan mengkontestasikan ideologi tertutup dan ideologi terbuka yang boleh jadi dinilai sensitif bagi sebagian kalangan di Tanah Air. Reaksi keras atas sikap Megawati tersebut juga memicu Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab, menyatakan bahwa Megawati mencoba menghadapkan Islam dengan Pancasila. “Saya sesalkan mendengarkan salah satu pimpinan parpol yang menyinggung ideologi tertutup yang mencoba menghadapkan agama Islam dan Pancasila. Ini kami sesalkan,” ujar Rizieq saat audiensi dengan pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pekan lalu (11/1/2017). Rizieq menyesali ucapan Megawati dan menilai tidak ada yang perlu diperdebatkan antara Pancasila dan Islam. Rizieq khawatir pernyataan Megawati itu dapat memicu konflik horizontal. Dia menganggap hal itu bisa membahayakan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. “Kami khawatir pernyataan itu memicu konflik horizontal, itu bisa membahayakan UUD 1945. Karena sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, tidak ada satu pun tokoh yang menjadikan Pancasila untuk menggugurkan rukun iman,” tegasnya. Megawati diduga menggolongkan kelompok-kelompok anti-keberagaman sebagai penganut ideologi tertutup dan mempertentangkannya dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang dinilai lebih relevan dengan perkembangan zaman. Para pemimpin kelompok berideologi tertutup itu mengklaim diri sebagai peramal yang serba tahu masa depan. “Para pemimpin yang menganut ideologi tertutup mempromosikan diri mereka sebagai self-fulfilling prophecy, para peramal masa depan. Mereka meramal dengan fasih tentang apa yang akan datang, termasuk kehidupan setelah dunia fana. Padahal notabene mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya,” tutur Megawati saat HUT ke-44 PDIP di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2017) lalu. Sekjen PDIP Bantah Megawati Hina Umat Islam Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menerangkan bahwa keseluruhan pidato Megawati diucapkan dengan komitmen kuat menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan Indonesia. “Dalam kapasitas Ibu Megawati sebagai ketua umum dan presiden kelima RI, maka sangat wajar beliau memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang muncul saat ini,” jelasnya, Selasa (17/1/2017). Hasto juga meminta kepada seluruh kader dan simpatisan PDIP tetap menjaga suasan yang kondusif, serta tidak melakukan tindakan kekerasan. Serta meminta membangun peradaban lebih baik lagi dengan membumikan Pancasila dan politik yang berkebudayaan, keberpihakan kepada masyarakat, mencintai hidup rukun dan damai. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here