Gus Solah Puji Khofifah – Emil Dardak

0
145
Gus Solah akan all out mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak di Pilkada Jatim 2018.

Nusantara.news, Surabaya – KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah akan all out mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak di Pilkada Jatim 2018.

Gus Sholah menilai, Khofifah merupakan sosok yang baik dan penuh prestasi. Baik sejak duduk sebagai anggota DPR hingga menjabat menteri dua kali.

“Saya mendukung Bu Khofifah karena saya pikir beliau adalah calon yang baik. Jadi Bu Khofifah ini sebagai anggota DPR yang baik. Sebagai menteri dua kali zaman Gus Dur dan sekarang itu menunjukkan prestasi yang baik,” ujarnya di sela-sela Deklarasi dan Dialog Publik bersama Barisan Mahasantri Loyalis Khofifah (BASMALAH) di Surabaya, Minggu, (17/12/2017).

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, sebelum Kemensos dipimpin Khofifah, Kementerian tidak memiliki gengsi sama sekali, tidak prestisius dan tidak strategis. Namun, di bawah kepemimpinan Khofifah penilaian semacam itu berubah dengan prestasi yang diraihnya.

“Di tangan Ibu Khofifah tiba-tiba keadaan berubah. Ada pegawai Kemensos mengatakan suaranya Kementerian Sosial itu didengar Kementerian lain karena anggarannya naik dua kali lipat,” ucap Gus Solah.

Karena itu setiap program pengentasan kemiskinan selalu diserahkan ke Khofifah, karena dia dianggap mampu menyelesaikannya. Hal itu seperti terungkap dalam penggunaan anggaran yang sudah sesuai dengan jadwal penggunaannya. Sejak setahun terakhir Kemensos dipercaya untuk mengelola APBN, khususnya dalam pemberian bantuan sosial.

Dari sisi jangkauan ke warga miskin, terjadi peningkatan signifikan penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari 4 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjadi 10 juta KPM. Selain itu terjadi peningkatan pula penerima program Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dari 1,28 KPM menjadi 10 KPM.

Atas kinerja APBN yang postif itu, pada alokasi 2018, Kemensos mendapatkan peningkatan anggaran fantastis, yakni sebesar Rp 41,2 triliun atau naik sekitar 58,06 persen dari alokasi tahun 2017.

Dengan track record positif Khofifah di Kemensos, wajar saja banyak kalangan mempertanyakan alasannya yang utama mau kembali turun di Pilkada Jatim. “Kalau di Mensos berprestasi, ngapain ke Pilkada Jawa Timur yang belum tentu menang?” setidaknya itulah pikir banyak orang. Apalagi Khofifah pernah kalah dua kali di Pilkada Jatim. Mampukah Khofifah untuk ketiga kalinya menang?

Memang melihat perjalanan politik Khofifah penuh dengan liku-liku. Namun Khofifah sendiri dianggap sebagai politisi perempuan dengan stamina politik luar biasa. Bagaimana tidak, jarang sekali politisi mampu terus eksis dan merajut karier politiknya setelah dua kali kekalahan menyakitkan.

Pasca-kalah pada dua Pilkada Jatim, dia tetap berdiri tegak sembari menyangga karier politiknya sendiri. Bukan kalah secara ‘menyakitkan’ seperti yang ditulis media-media. Kekalahan justru membuat Khofifah terus istiqomah meniti karier politiknya. Jatuh, bangun, bangkit kembali, hingga mencapai kursi Mensos seperti saat ini. Tak ada kesan baper atau putus asa dalam hidupnya.

Bahkan saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengesahkan pasangan Soekarwo – Gus Ipul, tak ada perlawanan berlebihan dari Khofifah maupun pendukungnya. Padahal di banyak Pilkada di Indonesia, kerap terjadi benturan di lapangan yang dimulai dari kandidat yang tidak puas dengan mekanisme demokrasi yang ada.

Khofifah yang “mati” berkali-kali (kalah di Pilkada 2008 dan 2013) kemudian bangkit lagi sambil menyusun strategi untuk arena pertarungan selanjutnya. Begitulah seharusnya seorang politisi di era demokrasi. Dia menyikapi kemenangan dan kekalahan sebagai hal yang biasa saja. Dengan sikap yang demikian ini, bukan hanya publik yang segan melainkan rival juga segan.

Selain prestasinya di Kemensos, Gus Solah menyebut Khofifah juga sukses memimpin Muslimat NU. Bahkan, sejak dipimpin Khofifah, Badan Otonom (Banom) ormas terbesar di Indonesia itu bisa lebih baik dari NU sendiri.

“Sebagai Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah menunjukkan prestasi yang luar biasa. Muslimat NU adalah Ormas atau Banom NU yang paling baik. Lebih baik daripada NU-nya sendiri,” tuturnya.

Pendampingnya Juga NU Tulen

Tidak hanya Khofifah, pendampingnya Emil Dardak juga dianggal sebagai sosok yang berprestasi. Selain muda, Gus Solah menganggap Emil merupakan sosok yang pintar dan cerdas.

“Wakilnya ini menjadi sarjana S1 pada usia 17 tahun, menjadi S3 pada usia 24 tahun di Jepang. Ternyata, dia juga berprestasi baik di sejumlah lembaga dalam negeri maupun luar negeri,” imbuhnya.

Emil yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Trenggalek, sudah menunjukkan programnya untuk memajukan Trenggalek.

“Dalam kedudukannya sebagai Bupati Trenggalek sudah melakukan langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk memajukan Trenggalek,” ujar Gus Solah.

Menariknya, Emil disebut Gus Solah sebagai warga Nahdliyin tulen. Karena itulah dia memilih Emil Dardak. Dikatakan Gus Solah, Emil selama ini mempunyai latar belakang keluarga NU.

“Iya mestinya, iya dia juga aktivis NU walaupun bukan pimpinan NU ya. Tapi dia juga latar belakang keluarga NU,” tukasnya.

Ya, Emil diketahui merupakan  cucu H. Mochamad Dardak, salah satu Kiai NU. Ayah Emil adalah Hermanto Dardak, Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode tahun 2010-2014. Sedangkan, ibunya bernama Sri Widayati. Dari sang ibu mengalir darah Letjen Anumerta Wiloejo Poespojudo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional pertama di era Bung Karno.

Bagi Emil, NU sebagai organisasi keagamaan yang ramah dan lebih toleran dalam menjalankan syiar Islam. Karena alasan itulah dia tertarik bergabung di organisasi yang didirikan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu dan menjadikannya sebagai wadah kajian keagamaan saat sekolah di Jepang.

Di Jepang pada usia 20  tahun, Emil sudah menjadi Ketua NU, Cabang Istimewa Jepang. Ketertarikan Emil pada NU bukan tanpa sebab.

Di tahun 2004, dia tercatat sebagai penggerak eksistensi NU cabang istimewa di Negara Jepang. Saat itu, dia masih berstatus mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang hingga 2006. Posisi Emil di NU Cabang Jepang sebagai Ketua Bidang Hubungan Eksternal.

Menurut Emil, Jepang adalah negara kepulauan, sama seperti di Indonesia. Tapi saat itu belum ada wadah diskusi tentang ke-Islaman yang ramah. Nah, sebagian besar pengurus dan anggota NU di Jepang, adalah para mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Negeri Samurai. “Para mahasiswa Indonesia di Jepang, juga membutuhkan forum kajian dan diskusi agama yang ramah seperti yang mereka ketahui dan pelajari di Indonesia,” katanya.

Beberapa program yang diingat Emil saat menjadi pengurus NU Jepang adalah memproduksi konsep pengenalan teknologi informasi kepada santri untuk nelayan di Pati, Jawa Tengah, dan konsep Alquran digital yang saat ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat.

Bagi Emil, NU telah meletakkan dasar Islam sebagai wajah agama yang ramah dan Rahmatan Lil’alamin. “Para ulama NU telah merumuskan kajian dan ajaran Islam dari yang bersifat tekstual dan kontekstual, menjadi formula yang ideal untuk menjadi pegangan hidup umat manusia,” tandasnya.

Saat ini Khofifah dan Emil dipasangkan untuk menjadi peserta Pilgub Jatim 2018. Keduanya kini terus mematangkan persiapan syarat sebelum mendaftar ke KPUD Jatim. Salah satunya mematangkan visi dan misi.

Saat ini tim dari pasangan Khofifah-Emil sedang berkeliling ke sejumlah daerah di Jatim. Tim tersebut turun baik secara terbuka maupun tertutup. Hal itu dilakukan untuk mendapat pengayaan, penajaman dan masukan dari berbagai daerah.

Khofifah menjelaskan, hari ini timnya sedang finalisasi visi dan misi yang akan disampaikan pada KPUD saat mendaftar. Serta satu draf yang dibreakdown untuk menjadi RPJMD. Sebab dua-duanya sangat subtantif, maka dalam waktu dekat akan ada tim yang akan keliling ke berbagai region dan eks keresidenan di Jatim.

Hal tersebut dilakukan untuk mematangkan draf semacam RPJMD. Pihaknya ingin mendapatkan pengayaan, penajaman dan masukan dari berbagai daerah. Karena ada daerah-daerah yang kontribusi PDRB-nya signifikant, ada daerah-daerah penyangga dan ada yang masih harus didorong.

“Nah, format itu yang sekarang kita finalisasi. Dalam waktu dekat sebelum mendaftar ke KPUD, tim ini akan melakukan uji tashih di semua wilayah. Tidak semuanya tim terbuka, ada yang tertutup seperti yang dilakukan sekarang,” ujar Khofifah saat menghadiri acara rangkaian Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) di Pendopo Pamekasan, Minggu (17/12/2017).

Ketua Umum PP Muslimat NU ini menambahkan, draf RPJMD akan menjadi satu kesatuan jadi syarat-prasyarat dalam pendaftaran di KPUD Jatim. Nah, akankah pasangan Khofifah-Emil berhasil membuktikan pada publik bahwa mereka layak memimpin Jatim. Kita tunggu saja.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here