Gus Solah: Tekankan Spirit Islam dan Kemanusiaan

1
34
K.H. Salahuddin Wahid memberikan kuliah umum tentang humanisme di Universitas Muhammadiyah Malang

Nusantara.news, Malang – Fenomena kyai NU diundang ke Muhammadiyah, atau sebaliknya,  menunjukkan bahwa NU dan Muhammadiyah bukanlah pembeda, seperti kerap dipolitisasi untuk memecah keutuhan umat Islam. Kedua kelompok tersebut saling bertukar pikiran, gagasan untuk membangun umat dan bangsa, yang merupakan satu kesatuan dalam Islam.

Hal ini terlihat ketika K.H. Salahudin Wahid atau yang akrab disapa Gus Solah, memberikan kuliah umum bertema “Humanisme Islam dalam Kehidupan Materialistik-Hedonistik” di Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dalam kuliah umumnya, Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini menjelaskan humanisme atau kemanusiaan ini sudah dikenal dari awal kehidupan Islam. “Banyak ayat dalam Al-Quran yang juga menerangkan hal ini. Salah satunya yang sering diungkapkan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yakni surat Al-Maun. Surat ini menyinggung bahwa manusia yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi humanisme. Manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Dikirimkan ke bumi untuk menjadi khalifah, menjadi wakil Tuhan Tuhan, jadi lengkapilah dengan kemampuan untuk mempergunakan akal. Inilah humanisme Islam,” tutur Gus Solah.

Saat ini humanisme sering dimaknai sebagai bagian yang terpisah dari nilai-nilai spiritual atau transendental. Masyarakat seharusnya mempunyai harkat, martabat, dan kemampuan untuk memutuskan masa depannya. Namun, sejak memasuki era posmodernisme, manusia malah menjadi kelompok mu’tazilah, memisahkan diri dari agama dan menentukan hidup dengan caranya sendiri.

Menurut Gus Solah, masyarakat Indonesia tak pantas menganut prinsip hedonisme dan materialisme. “Hedonisme adalah paham yang menganut bahwa hidup mesti digunakan untuk kepuasan diri. Sedangkan matreliasme beranggapan bahwa hidup adalah materi, tak ada yang selain itu. Selain bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, hal ini tentunya juga akan bertentangan dengan nilai-nilai Islam,” ujar Gus Solah.

Gus Solah juga menyinggung soal bonus demografi akan diperoleh Indonesia pada 2020 sampai 2030 nanti. “Ini adalah potensi yang luar biasa, jadi harus digunakan untuk berkarya lebih. Namun, ada hal-hal yang mengancam bonus demografi yang makin marak di Indonesia. Oleh karenanya, saya berpesan pada para pemuda untuk menjauhi ancaman itu, seperti rokok, narkoba, dan hedonisme ini,” tandasnya.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here