Habib Rizieq, Ibarat Gadis dan si Buruk Rupa

0
1460

Nusantara.news, Jakarta – Bagi sebagian orang Indonesia, Habib Rizieq Shihab adalah sosok yang menyeramkan, dan lebih tampak sebagai “preman” berlabel Islam dibanding sosok ulama, sehingga dia menjadi sosok yang harus segera “dihabisi” termasuk oleh Polri. Bagi umat Islam yang terlibat gerakan 411 dan 212, dia adalah sosok “hero” yang tampil paling depan melawan “establishment” (kemapanan) yang berada di belakang Ahok. Kita tentu memungkiri jika 411 dan 212 disebut jutaan orang tapi ketika menjadi fakta semua orang terpaksa diam. Polri menyatakan estimasi gerakan 411 hanya 50.000 orang, nyatanya? Begitu juga dengan gerakan 212 yang faktanya mencapai 6-7 juta orang, dan menjadi salat Jumat terbesar sejagat raya yang berjalan sejuk, aman, damai dari awal kedatangan sampai selesainya. Bahkan ada yang rela berjalan kaki dari Ciamis karena perusahaan bus “dihimbau” Polda masing-masing untuk tidak berangkat ke Jakarta dalam aksi bela Islam 212.

Siapa sosok Habib Rizieq? Apa perannya dalam gerakan Islam GNPF (Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI), sehingga dunia menggelar gerakan itu sebagai ‘populisme Islam’. Sayangnya, disejajarkan dengan aksi Budha terhadap Islam Rohingnya, dan populisme Hindu terhadap Islam di India.

Sentimen GNPF “dipelesetkan” sebagai gerakan pribumi menghantam non-pribumi, Islam anti Cina atau non Muslim. Bergeser dari Anti Ahok ke masalah toleransi dan kemajemukan. Seolah GNPF menjadi anti-toleransi, bahkan FPI, dan khususnya Habib Rizieq harus dikriminalisasi dengan berbagai aduan ke polisi oleh berbagai kelompok masyarakat. Lebih serius PDIP, Megawati dan Sukmawati yang melaporkan Habib Rizieq mengenai penistaan Pancasila berhadap-hadapan dengan FPI dan Habib Rizieq.

Tawaran Habib Rizieq untuk dialog ditolak pihak PDIP, dan pernyataan Sekjen PDIP tegas akan menghadapi FPI dan Habib Rizieq dalam posisi apapun. PDIP sebagai partai politik terbesar, jika secara terbuka menantang Habib Rizieq dan FPI adalah kekeliruan besar, menunjukkan reaksi emosional berlebihan. Sebagai parpol terbesar tentu tidak sepatutnya dalam kondisi berhadap-hadapan dengan FPI dan Habib Rizieq.

Di satu sisi meningkatkan derajat FPI begitu tinggi, di sisi lain PDIP menyamakan dirinya dengan GMBI yang juga ingin “head to head” dengan FPI. Sayangnya, Polri sudah “terlalu jauh” terlibat dalam kasus ekses pengaduan Habib Rizieq ketika diperiksa di Polda Jawa Barat. Terbuka bahwa Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Charliyan adalah Ketua Dewan Pembina GMBI Jawa Barat, dan berbuntut demonstrasi FPI meminta pencopotan yang bersangkutan sebagai Polda Jawa Barat, kendati ditolak oleh Kapolri. Bahkan sang Kapolda berani pasang badan dan tidak merasa menyalahi etika karena ada pemukulan dari oknum FPI dan GNPF, walau dibantah Polda Jawa Barat itu sebagai anggota GMBI.

Nyaris terjadi konflik horizontal pasca-pemukulan tersebut, karena simpatisan FPI Bogor merusak markas GMBI sehingga nyaris berbuntut kerusuhan. Sangat disayangkan keterlibatan Polda Jawa Barat dalam “mengurus” FPI/Habib Rizieq, terkesan oleh publik terlalu memihak.

Terakhir, pemanggilan Polda Metro Jaya tentang tuduhan logo palu arit pada uang kertas pecahan Rp100.000 di ruang Habib Rizieq, yang dibantah oleh Bank Indonesia sebagai penanggungjawab.

Sosok spiritual berwujud preman

Rizieq Shihab adalah keturunan Arab, dari keturunan Ali bin Abu Thalib dari pernikahan dengan Fatimah putri Rasullullah Nabi Muhammad SAW, kita menyebutnya Habib. Namun publik opini tentang kiprah FPI dan Habib Rizieq Shihab mengenalinya dengan aksi sweeping tempat-tempat yang dianggap kemungkaran: diskotik, bar, warung remang-remang, dengan penutupan paksa, dan aksi fisik sejenis “street justice” dan perbuatan melawan hukum. Anehnya, Polri tidak dapat bertindak tegas terhadap gerakan FPI yang dipimpin Habib Rizieq saat itu melakukan perbuatan melawan hukum.

Sekarang, sepertinya Polri begitu semangat ketika Habib Rizieq menjadi ujung tombak perlawanan terhadap Ahok, justru setiap gerak Habib Rizieq menjadi berujung pidana.

Kenapa agenda 212 seolah berbelok, dan seolah 212 identik dengan Habib Rizieq dan FPI? Sejujurnya 212 itu adalah protes umat Islam terhadap sikap dan perilaku Ahok dengan pencetus kasus penistaan agama di Kepulauan Seribu. Substansinya adalah kejenuhan masyarakat di level “rasa” terhadap sikap dan perilaku Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jika dalam gerakan massa ada yang oportunis memanfaatkannya sebagai agenda politik, adalah hal yang wajar. Sangat bergantung dari sudut pandang Pemerintah dan Polri dalam melihat masalah ini. Faktanya, ucapan Presiden mengenai adanya aktor politik di belakang gerakan 411 dan pada akhirnya kita tahu yang dimaksud itu ternyata SBY.

Politik phobia rezim ini berbuntut tuduhan makar, mencari aktor “bohir” yang justru tidak diketemukan, tidak sebesar bahaya yang dibayangkan sebelumnya. FPI dan Habib Rizieq sudah menjadi komoditi politik semenjak 212. Bagi penguasa, Habib Rizieq seperti sosok “gadis si buruk rupa” yang harus disingkirkan karena mengganggu wibawa pemerintah.

Spekulasi sosok Habib Rizieq sebagai bagian dari radikalisme dan teroris, karena massa cair GNPF dari semua elemen strategis Islam yang di antaranya kelompok radikal.

Konflik Horizontal

PDIP sebagai partai terbesar menabuh genderang perang head to head dengan FPI dan Habib Rizieq. Sayangnya PDIP lupa bahwa Islam yang menganggap kaum nasionalis dan Bung Karno terlibat dengan skema Nasakom berbuntut peristiwa G30S PKI. FPI dan Habib Rizieq mampu menyeret kembali GNPF untuk melakukan gerakan perlawanan, dan saat ini terus berproses, apalagi dikaitkan dengan isu PKI. Islam kembali bersatu mendukung Habib Rizieq.

Kita jangan lupa ketika pihak-pihak yang melakukan testimoni bertatap muka dengan Habib Rizieq di sosial media menyatakan sosok Habib Rizieq yang di media massa sangat berbeda sikap, perilaku dan tutur katanya, testimoni itu menjadi viral di berbagai media.

Di balik fenomena Habib Rizieq dan FPI, jika terjadi konflik horizontal, siapa yang bertanggungjawab? Secara geostrategis ini murni konflik dan perilaku politik kita atau bagian dari Proxy War asing yang ingin menguasai aset-aset strategis Indonesia. Kita belum lupa dengan perpecahan Partai Golkar, dan pecahnya NU sebagai organisasi Islam dunia.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here