Hadapi Konflik Korea, Inggris Susun Rencana Perang

0
130
HMS Queen Elizabeth, kapal induk terbaru milik Inggris tiba di Portsmouth, Foto:PA

Nusantara.news, London – Meski tengah mengalami pukulan ekonomi akibat negosiasi Brexit (British Exit) yang berkepanjangan, bukan berarti Inggris tidak terlibat dalam isu keamanan global. Menghadapi kemungkinan terjadinya perang Semenanjung Korea, negara yang sedang mengalami hubungan “kurang baik” dengan sekutu utamanya (Amerika Serikat), juga ikut bersiap-siap.

Apakah ini disebabkan kemungkinan perang yang bakal terjadi melibatkan AS, sekutu utama Inggris, yang hubungannya sedang merenggang?

Ternyata tidak juga. Menteri Pertahanan Inggris Sir Michael Fallon, sebagaimanan dikutip BBC, mengatakan pekan lalu, bahwa Inggris harus meningkatkan pengeluaran militernya dalam menghadapi ancaman yang terus meningkat dari negara-negara seperti Korea Utara.

Bulan lalu, Sir Michael juga mengutarakan kepada media yang sama bahwa Inggris menghadapi risiko dari program rudal jarak jauh Pyongyang.

“Amerika Serikat memang berhak untuk mempertahankan wilayahnya sendiri, untuk mempertahankan basisnya dan untuk menjaga rakyatnya. Tapi ini juga melibatkan kami (Inggris), (faktanya) London lebih dekat ke Korea Utara dan rudalnya ketimbang Los Angeles,” kata sang menteri.

Dilaporkan Daily Mail (9/10), Ingris bersiap-siap menghadapi kemungkinan pecahnya perang semenanjung Korea antara AS dan Korea Utara. Kekhawatiran Inggris meningkat setelah serangkaian tes rudal oleh negeri Kim Jong Un yang provokatif itu mendapat respon militer yang sangat keras oleh AS, khususnya Presiden AS Donald Trump.

Saat ini, Korea Utara tengah diawasi secara ketat oleh berbagai pihak, karena dikhawatirkan kembali meluncurkan uji coba rudal jarak jauh lainnya pada hari Selasa 10 Oktober 2017 ini, untuk menandai perayaan ulang tahun berdirinya Partai Buruh yang saat ini berkuasa.

Pada hari Selasa (10/10) rezim Korea Utara merayakan ulang tahun ke 72 berdirinya Partai Buruh, di mana keluarga Kim mengendalikan negara tersebut.

Analis Korea di lembaga agen intelijen AS, CIA minggu lalu mengatakan, pemerintah AS harus siap-siap dengan provokasi Korea Utara pada minggu ini, paling tidak karena diselenggarakan ulang tahun partai penguasa Korea Utara.

Bagi Inggris, ‘retorika perang’ Presiden AS Donald Trump atau yang diistilahkan dengan ‘Bellicose Rhetoric’ begitu mengkhawatirkan, mengingat situasi terakhir yang semakin panas di semenanjung Korea.

Dilaporkan Daily Mail, retorika Donald Trump telah meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir, inilah yang mendorong pejabat Inggris menyusun rencana militer untuk menanggapi kemungkinan pecahnya perang.

Di antara rencana yang diungkapkan Daily Mail adalah penggelaran kapal induk terbaru Angkatan Laut Inggris, HMS Queen Elizabeth, yang sebelumnya telah menjalani uji coba di laut lepas.

“Kami memiliki banyak kapal untuk dikirimkan, kapal perusak (destroyers) tipe-45, pesawat tempur tipe-23. Kapal induk baru yang dapat ditekan untuk beroperasi lebih awal, jika semuanya mengarah ke Selatan,” kata seorang sumber pejabat senior di Whitehall, kepada surat kabar tersebut.

Sumber: The Telegraph

Pasalnya, HMS Queen Elizabeth yang baru tiba di markasnya, Kota Pelabuhan Portsmouth, pada bulan Agustus lalu setelah uji coba, sebetulnya belum memasuki masa operasi hingga tahun 2020.

Inggris kemungkinan akan melakukan langkah mengoperasikan kapal induk baru itu sebelum jadwalnya, merujuk kebijakan yang pernah dilakukan juga pada peristiwa Perang Falklands.

“Di Falklands kami harus bereaksi cepat terhadap sebuah perang, dan waktu itu HMS Illustrious dipercepat untuk menanggapi (beroperasi),” kata seorang sumber dari Angkatan Laut Inggris kepada Daily Mail.

Perang Falklands adalah perang sepuluh minggu antara Argentina dan Inggris di dua wilayah luar negeri Inggris di Atlantik Selatan: Kepulauan Falkland, Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan April tahun 1982. Ketika itu, Argentina menyerang dan menduduki Kepulauan Falkland dan keesokan harinya Georgia Selatan serta Kepulauan Sandwich Selatan dalam upaya untuk menetapkan klaim kedaulatan  atas mereka. Pemerintah Inggris lalu mengirim angkatan lautnya sebelum Argentina melakukan serangan amfibi ke pulau-pulau tersebut. Konflik berlangsung 74 hari dan berakhir dengan menyerahnya Argentina pada 14 Juni 1982 dengan mengembalikan pulau-pulau tersebut ke kontrol Inggris.

“Ini (perang Falklands) adalah reaksi untuk melindungi wilayah Inggris, tapi dalam kasus sekarang (Korea Utara), Inggris akan menjadi bagian dari koalisi global. Kami akan melihat dukungan apa yang bisa kami berikan,” kata sumber tersebut.

Sabtu lalu, sebagaimana dilansir Reuters, Presiden AS Donald Trump memberi isyarat untuk mengambil tindakan militer melawan rezim Kim Jong-un, dengan mengatakan, “hanya satu hal yang akan berhasil” dalam berurusan dengan Korea Utara.

“Presiden dan pemerintahannya telah berbicara dengan Korea Utara selama 25 tahun, kesepakatan dibuat dan sejumlah besar uang dibayar …,” kata Trump dalam kicauannya di Twitter @realDonaldTrump, 7 Oktober lalu.

Presiden AS sebelum Trum, Barrack Obama pernah mengatakan bahwa AS akan “benar-benar menghancurkan” Korea Utara jika diperlukan untuk melindungi dirinya sendiri dan sekutu-sekutunya dari ancaman nuklir Pyongyang. Apakah ini sinyal Perang Korea tinggal menunggu waktu saja? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here