Hadiah Natal RS Siloam untuk Jalan Gubeng Surabaya

0
243
Jalan Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, amblas sedalam 20 meter, sepanjang 100 meter, dan selebar 25 meter, akibat pembangunan areal parkir RS Siloam yang tidak sesuai ketentuan.

Nusantara.news, Jakarta – Perilaku buruk selalu membawa pelajaran berharga, sebagaimana yang dialami Grup Lippo. Setelah jajaran manajemennya terjerat suap mega proyek Meikarta, bisnis First Media dan Bolt terancam dihentikan, kini giliran proyek RS Siloam Surabaya membuat Jalan Gubeng Surabaya ambrol.

Kejadian tidak mengenakkan ini bisa menjadi evaluasi besar-besaran perilaku bisnis Grup Lippo. Walaupun membangun rumah sakit adalah pekerjaan mulia, namun pelanggaran terhadap standard operating procedure (SOP) dan salah konstruksi, akhirnya berubah jadi petaka. Untung saja tidak memakan korban, tapi yang jelas ini bagian dari pelaksanaan good corporate governance (GCG) yang tidak baik.

Jalan Raya Gubeng, Surabaya, yang merupakan jalan nasional pada Rabu (19/12), pukul 21:40 waktu setempat, mengalami ambles sedalam 20 meter, sepanjang 100 meter, selebar 25 meter. Seolah lubang besar menganga di Jalan Gubeng memberi pesan hadiah Natal dari RS Siloam.

Penyidik Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya memeriksa 30 pekerja proyek perluasan RS Siloam Surabaya, terkait insiden amblesnya Jalan Gubeng. Pengerjaan proyek parkir bawah tanah Siloam diduga memicu amblesnya Jalan Raya Gubeng.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Sudamiran membenarkan kejadian tersebut. Namun ia belum bisa memberi penjelasan dan minta waktu untuk melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.

Sementara Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera mengatakan bahwa penanganan kasus tersebut dilakukan Polda dan Polrestabes. Ia menjelaskan Polrestabes telah mengubah arus lalu lintas agar tak menumpuk di sekitar lokasi Jalan Raya Gubeng yang putus.

Berdasarkan pertemuan Pemerintah Kota Surabaya dengan lima pihak pasca kejadian amblasnya Jalan Raya Gubeng akan menjadi bukti awal penyelidikan yang akan diserahkan kepada pihak kepolisian.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi mengatakan data-data yang masuk dalam rapat tertutup antara Pemkot Surabaya, Pemprov Jatim, Polda Jatim, Tim ahli dan RS Siloam akan dijadikan bahan awal penyelidikan.

“Namun yang terpenting sekarang kami harus segera mengembalikan dulu fungsi jalan ini agar tidak berlarut-larut dan mengganggu kelancaran lalu lintas,” demikian penjelasan Eri seusai melakukan pertemuan di gedung RS Siloam hari ini.

Dia mengatakan sambil mengembalikan dan memperbaiki kerusakan-kerusakan, pihak kepolisian akan mengusut faktor penyebab amblasnya jalan tersebut.

Pemkot juga belum bisa memastikan siapa yang akan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut termasuk menggunakan anggaran dari mana untuk memperbaiki jalan ambles itu.

“Belum (ada anggaran), masih dipikirkan,” demikian papar Eri.

Petugas sendiri menutup jalan sejak dari pertigaan RS Siloam, Jl. Sulawesi, Jl. Bali dan Jl. Sumbawa. Sejumlah warga yang melintas juga tampak penasaran ingin meyaksikan kondisi jalan ambles tersebut dengan memarkir kendaraan dan memotret suasana lokasi kejadian.

Meski begitu, petugas di setiap sudut telah berjaga dan mengusir warga yang tidak berkepentingan demi kemanaan dan kelancaran.

Berdasarkan hasil laporan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII, Kementerian PUPR, Jalan Raya Gubeng sesuai dengan SK Menteri PU PR Nomor: 290/KPTS/M/2015 tentang  Penetapan Ruas Jalan Menurut Statusnya Sebagai Jalan Nasional Dan SK Menteri Nomor  248/KPTS/M/2015 Tentang penetapan Ruas Jalan  Dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Fungsinya Sebagai  Jalan  Arteri  (JAP) dan Jalan Kolektor-1 (JKP1) sepanjang 0,52 Km

Jalan Raya Gubeng yang masuk Ruas Jalan Nasional mulai STA 0+000 – 0+520  (Bts

Ruas Jalan Stasiun Gubeng (Hotel Sahid) sampai Bts Ruas Jalan Biliton). Lokasi kejadian jalan Raya Gubeng amblas (Depan Bank BNI) tidak termasuk Ruas Jalan Nasional

Pada  Pukul 21.40 WIB Jalan Raya Gubeng Surabaya (Depan Bank BNI) telah amblas sehingga jalan tersebut terputus dan sudah dilakukan penutupan jalan oleh petugas. RS Siloam Surabaya telah melakukan pembangunan proyek Basement yang tidak di pondasi sehingga mengakibatkan jalan tertarik dan amblas hingga kedalaman sekitar 20 meter dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar  25 meter.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Lokasi kejadian telah diamankan oleh pihak-pihak terkait,” demikian isi laporan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII, Kementerian PUPR.

Wakil Wali Kota Surabaya, Wisnu Sakti Buana mengatakan, dua hari sebelumnya Pemkot Surabaya sudah mengingatkan kepada pengembang, yakni RS Siloam agar mereka membuat pondasi. Tapi nyatanya RS Siloam tidak membuat pondasi, sehingga pengerjaan areal parkir tersebut tidak sesuai izin yang dikeluaran Pemkot Surabaya.

“Bahkan sebelumnya kami sudah memasang barrier melingkar, tapi karena beberapa hari ini Surabaya diguyur hujan, jalan ketarik ke dalam (ambles)” papar Wisnu Sakti Buana.

Menanggapi amblasnya Jalan Gubeng terkait pembangunan lahan parkir, Sally Danayani, Marketing and Communications RS Siloam, mengatakan pihaknya belum bisa memberi komentar karena penyebab amblesnya jalan belum diketahui secara pasti.

“Dan proyek tersebut dikerjakan oleh kontraktor yang sifatnya terpisah secara dari operator rumah sakit yang existing,” kata Sally hari ini.

Dia mengungkapkan layanan rumah sakit hingga saat ini berjalan normal. Begitu juga hari-hari ke depannya diharapkan pelayanan tetap berjalan lancar.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho  menyarankan pembentukan tim independen untuk menyelidiki amblesnya Jalan Raya Gubeng di Surabaya.

Selain itu, menurutnya, aparat kepolisian juga perlu menyelidiki kesalahan konstruksi yang disebutkan BNPB sebagai penyebab amblesnya tanah tersebut. Kemudian aparat penegak hukum di sana menginvestigasi musibah terkait kesalahan konstruksi.

Menurut Sutopo, konstruksi ruang bawah tanah (basement) milik sebuah rumah sakit swasta di sekitar lokasi tidak menggunakan penahan tanah. Itu yang diduga amblesnya tanah.  Lokasi amblesnya bagian jalan di Jalan Raya Gubeng tersebut bersebelahan dengan lokasi proyek basement di belakang Rumah Sakit Siloam, Surabaya.

Sutopo mengatakan, Pemerintah Kota Surabaya juga perlu melakukan evaluasi terhadap proses perizinan dan mekanisme pengawasan pelaksanaan konstruksi. Terakhir, diperlukan audit terhadap daerah sekitar untuk mendeteksi indikasi bencana.

“Perlu dilakukan audit forensik terkait dengan berbagai proyek di sekitar lokasi kejadian bencana yang berpeluang memicu terjadinya musibah,” ungkap Sutopo.

Selain kesalahan konstruksi, faktor lain yang mendorong terjadinya peristiwa tersebut, urai Sutopo, yaitu jalan tak bisa menahan beban kendaraan yang lalu lalang dan curah hujan yang belakangan tinggi. Sutopo juga menegaskan bahwa amblesan tersebut tidak terkait dengan sesar Surabaya atau Waru, seperti isu yang beredar.

Oleh karena PT Siloam International Hospitals Tbk adalah emiten yang melantai di Bursa Efek Jakarta (BEI) dengan kode saham SILO, kejadian semalam sempat membuat saham itu melemah.

Berdasarkan data RTI, Rabu (19/12), pada pembukaan pagi saham SILO sempat bergerak di zona merah. SILO dibuka melemah ke level Rp3.340, lebih rendah dari penutupan perdagangan kemarin Rp3.450.

Namun sekitar pukul 10.00 waktu JATS saham SILO berbalik arah dan menguat. Saham SILO sempat menyentuh level tertingginya Rp3.530. Hingga akhirnya ditutup pada level Rp3.500 per lembar saham.

Hingga pukul 13.20 waktu JATS, saham SILO balik arah menuju level yang sama dengan penutupan perdagangan kemarin yakni Rp 3.450.

Hingga posisi itu saham SILO sudah ditransaksikan sebanyak 61 kali dari 39,3 ribu lembar saham yang berpindah dengan nilai Rp135,35 juta.

Pelajaran berharga dari kasus amblasnya Jalan Gubeng karena proses pembangunan areal parkir RS Siloam tidak memenuhi SOP, oleh karenanya menyebabkan jalan ambrol setelah tertimpa hujan deras.

Pelajaran lain, pembangunan lahan parkir tersebut tidak menggunakan pondasi yang layak sebagaimana yang disarankan Pemkot Surabaya. Bahkan dua hari sebelum kejadian Pemkot juga sudah mengingatkan pengembang RS Siloam.

Semua ini tak lepas dari perilaku bisnis Grup Loppo yang selalu abai terhadap GCG, semoga ke depan Grup Lippo mampu mempraktikkan tata kelola perusahaan yang baik dan benar.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here