Hancurnya Karakter Bangsa Sebagai Ekses Matinya Dunia Pendidikan

0
179
Sejumlah kendaraan saling serobot di kawasan Jalan MT Haryono menuju Tugu Pancoran, Jakarta, Senin (14/8). Bahkan jalur Bus Way yang mestinya steril diokupasi oleh kendaraan pribadi ANTARA FOTO/Makna Zaezar/pd/17.

Nusantara.news, Jakarta – Karakter suatu bangsa dapat tercermin dari kondisi lalu lintasnya. SIkap ego, mau menang sindiri, pragmatis, intoleran secara kasat mata dapat dilihat di jalan raya, bukan saja Jakarta, melainkan juga hampir di semua kota besar Indonesia. Ada kalanya, pelanggar lalu lintas, seperti terlihat di sejumlah tayangan YouTube, lebih galak dari polisinya.

Sebut saja tayangan video yang diunggah oleh twitter Polda Metrojaya. Sudah terbukti melintas jalur Bus Way, seorang pemotor yang dihentikan oleh petugas kepolisian justru marah-marah. Anehnya dia justru berusaha merekam tindakan polisi yang disebutnya illegal. Ada pula seorang ibu-ibu yang mengantar anak sekolahnya marah-marah kepada polisi yang mencegatnya. Padahal, dia dan ketiga orang anaknya tidak mengenakan helm saat berkendara.

Pernah suatu saat terjadi perkelahian di sebuah perempatan antara pemotor dan pemotor. Rupanya pemotor yang di depan tak terima diklakson berkali-kali oleh pemotor di belakangnya. Alasannya tidak mau jalan sudah tepat, karena lampu masih menyala merah. SIkap ego terlihat benar di wajah pemotor di belakangnya yang tidak terima dikata-katai buta warna. Terjadilah perkelahian itu.

Sifat pragmatis bisa terlihat saat kondisi lalu lintas padat merayap. Trotoar sebagai jalur pejalan kaki pun diembat. Bukan hanya motor. Kadangkala terlihat mobil yang memaksakan diri naik ke trotoar sehingga berjalan miring karena trotoar lebih tinggi dari badan jalan. Pemotor di belakangnya pun ramai-ramai membunyikan klakson saat mobil itu pun terjebak kemacetan saat trotoar menyempit.

Begitu pun saat jalanan lancar. Seorang ibu yang menggandeng anaknya terlihat maju mundur hendak menyeberang jalan. Wajahnya pucat pasi melihat lalu lalang kendaraan yang kebut-kebutan. Ibu itu baru lega dan tersenyum saat ada pengendara mobil yang berhenti. Itu pun dia langsung mendekap dadanya karena nyaris tersambar sepeda motor yang ngebut dari sisi mobil.

Di buku-buku yang bercerita tentang Indonesia bertebaran kata-kata, bangsa Indonesia terkenal ramah, santun, suka bergotong-royong, toleran, dan hal-hal baik lainnya. Tapi karakter yang sering kita banggakan di dunia Internasional seperti itu sesungguhnya sudah punah dari jalan raya.

Matinya Pendidikan

Apakah itu terkait dengan angka buta huruf dan tingkat pendidikan formal? Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, tercatat 97,47 persen rata-rata penduduk Indonesia dari semua kelompok umur sudah bisa membaca dan menulis. Angka buta huruf hanya 2,53 persen. Diantara penduduk Indonesia tercatat 17,1 % pernah kuliah dan 59,85 persen pernah sekolah setingkat SMA (BPS 2016).

Mestinya tingkat pendidikan yang lebih baik berbanding lurus dengan pengembangan karakter suatu bangsa. Bukan justru berbanding terbalik seperti yang tercermin di jalan raya. Tentu saja ini berkait dengan kegagalan dunia pendidikan kita dalam menjalankan visi maupun implementasinya. Apakah karena fungsi pengajaran lebih mengedepan ketimbang fungsi pendidikan yang memiliki cakupan begitu luas? Atau ada penyebab lainnya?

Definisi pendidikan itu sendiri, mengutip Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah jelas sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif menyumbangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Rumusan itu sudah jelas, pendidikan bukan semata mengubah orang dari “bodoh”menjadi pintar, melainkan juga berkepribadian dan akhlak mulia. Kecerdasan dan keterampilan yang dimilikinya pun bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga bagi masyarakat, bangsa dan negara. Apakah rumusan itu sudah tercermin di jalan raya? Bahkan dalam kesehari-harian kehidupan penduduk Indonesia.

Sedangkan Ki Hajar Dewantoro yang hari kelahirannya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, lebih tegas lagi menjelaskan difinisi pendidikan sebagai “daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Ketiga-tiganya tidak boleh dipisah-pisahkan, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup,kehidupan dan penghidupan anak-anak didik selaras dengan dunianya.”

Karakter pendidikan yang dicita-citakan adalah tumbuh kembangnya kader kepemimpinan, termasuk guru tentu saja, yang di depan dia bisa menjadi teladan (Ing Ngarso Sung Tulodho), di tengah dia bisa membangun kehendak (Ing Madyo Mangun Karso), dan di belakang bisa mengikuti dan memberikan penguatan atau empowering (Tut Wuri Handayani).

Hilangnya Keteladanan

Keteladanan itu tampaknya yang sudah menghilang dari tokoh-tokoh panutan, termasuk para guru di sekolah. Guru pada umumnya hanya menjalankan tugas, pokok dan fungsi sebagai pengajar, bukan pendidik. Dia sudah merasa menjalankan tugas setelah memberi pelajaran di muka kelas. Selebihnya adalah urusan orang tua masing-masing.

Padahal pendidikan itu cakupannya lebih luas dari sekedar mengajar. Paling tidak dengan pendidikan, seorang guru atau kepala sekolah dan bahkan birokrasi yang terkait dengan dunia pendidikan dituntut menularkan perilaku yang baik dari keteladanan hidupnya sehari-hari. Begitu juga dengan tokoh-tokoh formal maupun informal di masyarakat.

Tapi bagaimana tokoh pendidik membangun keteladanan, kalau di sejumlah sekolah setiap tahun penerimaan siswa baru mobilnya ikut-ikutan baru? Murid bukannya dibiasakan mencatat materi pelajaran, melainkan cukup membeli buku atau foto kopian bahan mata pelajaran yang sudah disediakan oleh guru. Kadang pula murid yang tidak les private kepada gurunya nilainya diperkecil.

Kisah-kisah seperti itulah yang sesungguhnya merusak dunia pendidikan kita.  Kalau dalam hal keteladanan saja sudah gagal, bagaimana pula menularkan kehendak atau lebih jauhnya menguatkan peserta didik dengan motivasi yang mencerahkan.

Belum lagi masalah Ujian Nasional yang biasanya hanya dijadikan lomba bagi beberapa sekolah untuk meningkatkan presitise sekolahnya. Acap kali ketidak-jujuran sudah muncul di sini. Modus operandinya sangat beragam. Namaun umumnya sekolah-sekolah membentuk Tim Sukses terdiri dari panitia ujian nasional yang tugasnya hanya mendongkrak kelulusan dengan nilai yang sebesar-besarnya.

Disadari atau tidak disadari, perilaku curang yang sudah dibiasakan ke peserta didik lambat laun membentuk perilaku massif seperti yang terlihat di jalan raya. Lulusan sekolah yang cerdas, berkepribadian dan berakhlak mulia sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Pendidikan kita akan semakin langka.

Kenapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di semua tingkatan sekarang terkesan hanya peduli dengan anggaran, legislasi dan pengawasan yang terkait dengan kepentingan diri dan kelompoknya? Begitu juga dengan rusaknya birokrasi yang masih mencari-cari uang tambahan di luar gajinya. Atau semakin banyak hakim yang terkena operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)? Semua itu tidak terlepas dari matinya dunia pendidikan kita, baik visi maupun implementasinya.

Namun, di tengah kesemrawutan itu, pasti ada sekelompok kecil masyarakat berkarakter yang dengan prakarsanya sendiri melaporkan rumah sakit yang berbuat sewenang-wenang, mengusir pengendara motor yang masuk trotoar dan lainnya. Ada juga yang secara suka rela membersihkan paku dari jalan dengan resiko dimusuhi kelompok preman

Munculnya kelompok kecil yang mungkin tidak dilahirkan oleh dunia pendidikan yang mati secara visi dan implementasi, melainkan dari keinginan berbuat dengan landasan akal sehat, itulah yang membuat kita optimis. Suatu saat nanti karakter bangsa yang sedang sakit sekarang ini niscaya dapat disembuhkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here