Hancurnya Partai Islam

0
115

BENAR penggambaran Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin tentang partai-partai Islam di Indonesia saat ini. Din Syamsuddin mengatakan, partai Islam porak poranda. Din menyebut partai Islam yang ada di Tanah Air sekarang ini tidak bisa bersatu. Penyebabnya adalah karena memiliki kepentingan politik yang berbeda.

Membesarnya gerakan umat Islam melalui 212, misalnya, dapat dibaca sebagai indikasi kegagalan partai politik Islam. Sebab, seandainya partai Islam mampu mengaregasi dan menyalurkan aspirasi umat Islam, gerakan tersebut tentu tidak akan muncul.

Menurut Din Syamsuddin, partai Islam sekarang seharusnya membentuk koalisi sendiri. Partai Islam harus berbicara mengenai bagaimana wawasan Islam tentang pembangunan ekonomi, tentang pembangunan kebudayaan Indonesia dan hal-hal penting lainnya. Din mengharapkan partai-partai Islam tidak terlalu mengejar kepentingan duniawi.

Tidak mengejar kepentingan duniawi? Wow, rasanya istilah itu terlalu muluk bagi partai politik –bahkan bisa jadi terdengar asing di telinga mereka.

Kritik Din Syamsuddin ini sebenarnya kritik klasik bagi umat Islam Indonesia –tidak saja partai Islam di Indonesia. Umat Islam Indonesia dalam hitungan angka memang mayoritas, tetapi dalam hitungan politik kekuasaan justru sebaliknya.

Secara sosiologis, mengikuti pembagian oleh sejumlah sejarawan, umat Islam Indonesia yang terbagi dalam dua kelompok besar, kelompok tradisional dan kelompok modernis. Pengelompokan itu sudah ada sejak dahulu kala.

Dua kelompok besar itu dalam beberapa hal furu’iyah keagamaan berbeda. Secara organisasi mereka terwakili oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Perbedaan dalam praktek keagamaan, dibawa pula ke politik. Dua kelompok ini tak pernah akur. NU, meski pernah bergabung dengan Masyumi, menjelang Pemilu 1955 keluar. Ketika fusi partai dilakukan 1971, dua kelompok ini dikawinpaksakan di dalam PPP.

Ketika reformasi politik terjadi, faksi-faksi itu berloncatan sendiri-sendiri. Tetapi, parahnya, dalam satu kubu terdapat berbagai partai. Di basis massa Islam tradisional, ada PKB, ada PNU, PKU dan sebagainya. Dari basis massa modernis, ada PAN, ada PBB, PKS, dan sebagainya. Juga ada PPP, yang sebetulnya penggabungan dari kedua basis massa itu, karena di dalamnya ada unsur NU, Muslimin Indonesia, Perti dan Syarikat Islam.

Jika partai Islam yang ada sekarang berkoalisi, seperti diharapkan Din Syamsuddin, akan diperoleh satu kekuatan suara yang besar. Tetapi itu semua hanya cita-cita. Bukankah antara cita-cita dan realita selalu ada jurang yang memisahkannya.

Kita menilai, ini bukan lagi perbedaan historis tadi, tetapi sudah dipengaruhi oleh ambisi kekuasaan. Para pemimpin partai Islam sejatinya adalah politisi dalam pengertian yang umum juga. Mereka adalah penghamba kekuasaan. Karena itu, sangat jauh dari pikiran mereka untuk saling membahu merebut kekuasaan itu.  Sebab, kalau nanti kekuasaan sudah di tangan, tidak ada yang mau menjadi nomor dua. Semua berebut menjadi nomor satu.

Kalau berpikiran negatif, kita bisa saja mencari dalih bahwa perpecahan itu karena umat Islam termakan rekayasa pihak luar yang tak ingin umat Islam bersatu. Tetapi, kendati hal itu bukan mustahil, perilaku pemimpin partai politik Islam sendiri juga memberi lahan subur bagi perpecahan. Apalagi banyak di antara mereka yang terlibat korupsi.

Hitungan jumlah umat Islam yang besar baru merupakan data statistik, tapi belum signifikan secara politik. Dan keadaan ini akan selamanya begitu, karena upaya perubahan selama berpuluh tahun hanya menjadi wacana belaka di kalangan para pemimpin. Tetapi, tidak pernah bisa menjadi kenyataan, karena apa yang ada di hati para pemimpin partai Islam berbeda dengan di mulutnya.

Munafik, mungkin kata terlalu kasar menggambarkan perilaku itu. Tetapi, sedikit banyak memang mengarah ke situ. Kepentingan Islam hanya jadi gincu politik. Tapi, intinya tetap saja kekuasaan. Wallahu a’lam.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here