Mencermati Tekanan Terhadap Rupiah (2)

Harap-Harap Cemas Cadangan Devisa Terkuras

1
108
Presiden Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas Kabinet.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi beberapa waktu lalu sempat melakukan rapat terbatas (Ratas) dengan Menteri dan Pejabat Negara lainnya. Ratas kali ini membahas tentang cadangan devisa Indonesia yang harus ditingkatkan.

“Saya lanjutkan ratas tentang cadangan devisa yang lalu. Kali ini akan dibahas strategi kebijakan untuk memperkuat cadangan devisa kita,” kata Kepala Negara di Istana Bogor belum lama ini.

Pembahasan ratas soal cadev ini menurut Jokowi, diperlukan agar Indonesia semakin kuat menghadapi gejolak ekonomi global. “Saya minta dua hal penting, yang perlu diperhatikan. Pertama, pengendalian impor. Kedua, peningkatan ekspor,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan jajaran pemerintah harus menjalankan mandatori biodiesel. Dengan kewajiban tersebut, dapat menghemat devisa hingga US$ 21 juta per hari.

“Saya juga minta evaluasi detail impor barang yang tak strategis, kita setop dulu atau kurangi atau hentikan,” tutur Presiden.

“Kita juga harus memiliki strategi detail produk apa saja yang harus diperkuat dan fokus melihat kendala eksportir di negara yang jadi tujuan. Ada beberapa hal yang secara detil saya sampaikan. Kalau ada hambatan perdagangan saya minta segera selesaikan,”

“Situasi negara saat ini butuh dolar. Karena itu saya minta seluruh Kementerian dan Lembaga betul-betul serius tidak ada main-main menghadapi ini. Saya nggak mau lagi bolak balik rapat tapi implementasi nggak berjalan baik,” terang Jokowi.

Gubernur BI menjelaskan, penurunan cadangan devisa pada Juni 2018 terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Bank sentral memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.

Ke depan, jika tekanan terhadap rupiah tak kunjung usai sehingga cadangan devisa Indonesia terus terkuras, persepsi investor mengenai Indonesia bisa memburuk lantaran dianggap rentan terhadap risiko-risiko yang ada.

Penyebab rupiah melemah

Meski demikian Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam berbagai pernyataannya kerap menyatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap on the track. Ekonomi Indonesia masih dalam batas aman dan terkendali, stabil dan kokoh.

Celakanya belakangan Presiden Jokowi di hadapan para Bupati se-Indonesia justru  memperingatkan bahwa kondisi Indonesia sedang krisis. Bahkan Presiden Jokowi juga mengundang 40 konglomerat Indonesia untuk meminta bantuan membawa devisa hasil ekspornya ke dalam negeri agar likuiditas dolar bertambah.

Bahkan Jokowi juga sempat menyatakan akan menghentikan beberapa proyek infrastruktur besar guna mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Lebih dari itu, Presiden Jokowi juga mengundang BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk membahas penurunan cadangan devisa yang sangat drastis. Semua ini tentu karena disebabkan rupiah melemah. Paling tidak ada beberapa alasan mengapa rupiah melemah.

Pertama, penyebab melemahnya rupiah akibat imbas penguatan tajam dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak empat kali dalam tahun ini.

Selain itu menguatnya dolar AS juga karena dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga AS (treasury bill-T Bill).

Kedua, dampak perang dagang AS dengan China yang berimbas pada kekhawatiran pasar, sehingga pasar lebih merasa tenang dalam situasi seperti itu dengan menggenggam dolar AS. Itu sebabnya dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang dunia, tanpa kecuali terhadap dolar AS.

Ketiga, komplikasi defisit perdagangan yang terus melebar, sampai Mei 2018 besaran defisit pedagangan sudah mencapai US$2,84 miliar atau ekuivalen Rp40,61 triliun.

Keempat, melebarnya defisit sampai bulan Mei 2018 dipicu oleh derasnya arus impor komoditas pangan seperti beras dan gula sebagai penyumbang terbesar. Disamping juga impor barang modal dan tenaga asing untuk menopang pembangunan infrastruktur yang gegap gempita

Kelima, kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$79 per barel sedikit banyak menjadi pemicu pelemahan rupiah. Karena harga minyak acuan dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, artinya terjadi defisit US$28 per barel antara target dengan realisasi.

Sementara Indonesia dalam posisi net importir minyak mentah sebesar 1,4 juta barel per hari, sementara kebutuhannya 2,2 juta barel per hari, mengingat produksi kita per hari hanya 800.000 barel per hari. Ini yang menjelaskan mengapa pertamax dan pertamina dex belakangan naik karena memang mengikuti pergerakan pasar.

Artinya, dengan rupiah yang melemah, ditambah harga minyak yang melambung, maka terjadi pukulan ganda atas fiskal kita. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimpor minyak makin membengkak.

Keenam, ada kebutuhan dolar AS yang besar untuk kebutuhan untuk melunasi utang pokok dan bunga atas utang valas baik dari pemerintah, BUMN dan swasta.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yg jatuh tempo di 2018 mencapai US$9,1 miliar yang terbagi menjadi US$5,2 miliar utang pokok sementara US$3,8 miliar sisanya adalah bunga. Belum lagi cicilan pokok dan bunga utang BUMN dan swasta yang diperkirakan mencapai US$15 miliar.

Dari gambaran di atas, sepertinya Pemerintah Jokowi, meski sudah dibantu BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepertinya sudah kehabisan akal. Sehingga rupiah melemah lagi dan melemah lagi tanpa ada kejelasan kapan stabil, apalagi kapan menguat.

Sudah seharusnya Pemerintah Jokowi tak menganggap remeh pelemahan nilai tukar rupiah. Presiden Soeharto digulingkan pada 1998 berawal dari pelemahan nilai tukar rupiah. Karena rakyat tidak puas maka terjadilah kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada pergantian kepemimpinan nasional.

Apakah hal ini harus terulang? Semoga saja tidak sampai ke sana, namun kesadaran akan adanya krisis harus ditanamkan Jokowi kepada Tim Ekonomi yang masih percaya diri tak karuan.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here