Harapan dan Kekhawatiran di Tengah Pelantikan Trump

0
123

Nusantara.news, Jakarta – Rakyat Amerika merayakan inagurasi presiden baru mereka, Jumat 20 Januari 2017 di tengah harapan dan kekhawatiran. Harapan akan janji presiden baru Donald Trump yang ingin membawa Amerika lebih berjaya ketimbang era sebelumnya, dan kekhawatiran dari sebagian masyarakat lainnya bahwa Trump akan menerapkan kebijakan-kebijakan anti-demokrasi sebagaimana sudah ditunjukkan sejak awal kampanyenya.

Bukan saja rakyat AS yang harap-harap cemas dengan apa yang bakal terjadi setelah Trump menjadi presiden. Masyarakat dunia juga agaknya menunggu gebrakan Trump, apakah akan menjalankan program-programnya secara ketat atau pada akhirnya bisa berkompromi.

Saat ini konsentrasi publik AS dan dunia bukan hanya pada prosesi pelantikan presiden negara adidaya itu, tapi fokus utama mereka lebih kepada ambisi Trump untuk menghapus banyak regulasi warisan presiden sebelumnya, Barrack Obama. Trump berjanji akan lebih mengutamakan kepentingan dalam negeri dalam hal ini rakyat AS dalam kebijakan-kebijakannya.

Membangun tembok perbatasan dengan Meksiko, merombak regulasi industri yang tidak berpihak kepada kepentingan AS, menghapus layanan kesehatan Obamacare, mendeportasi imigran ilegal, serta membatalkan sejumlah kesepakatan perdagangan bebas mungkin saja akan segera dilakukan pengusaha miliarder ini.

Pelantikan Trump meski berjalan sebagaimana pelantikan-pelantikan presiden AS sebelumnya, tapi ada yang berbeda, terutama dari segi pengamanan. Operasi keamanan dan persiapan dilakukan satu bulan menjelang pelantikan. Pihak keamanan memperkirakan bakal terjadi gelombang demonstrasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak 28 ribu personel keamanan dikerahkan dalam pelantikan presiden AS ke-45 yang dihadiri oleh 2 jutaan orang itu.

Hal tidak biasa terjadi dalam pelantikan presiden yang menelan biaya sekitar 2 juta dolar AS, yang belum perna terjadi sebelumnya. Ribuan orang turun ke jalan-jalan ibukota dan New York City untuk mengekspresikan ketidaksenangan terhadap pemerintah baru. Malam sebelum pelantikan, ribuan orang memenuhi New York untuk menggelar aksi protes di Trump International Hotel and Tower, dan berbaris beberapa blok dari tempat tinggal Trump.

Sejumlah tokoh, mulai dari politisi, aktivis dan selebriti ambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Sebut saja Walikota New York Bill de Blasio, Aktor Hollywood, Robert de Niro Dan Alec Baldwin, sutradara Pemenang Oscar untuk film dokumenter Michael Moore Dan Penyanyi Cher turut bergabung.

Moore, sutradara film dokumenter peraih Oscar, mendesak para pengunjuk rasa untuk mengambil bagian dalam “perlawanan 100 hari”, sebuah gerakan untuk menolak kebijakan Trump.

“Hal buruk yang kita pikirkan akan terjadi, bahkan lebih buruk,” kata Moore.

“Kita semua Muslim, kita semua orang Meksiko, kita semua perempuan. Kita semua warga Amerika, ya, dan kita semua aneh, terlalu,” serunya.

Koalisi the ANSWER (Act Now to Stop War and End Racism) – atau Bertindak Sekarang untuk Hentikan Perang dan Mengakhiri Rasisme – merupakan salah satu dari banyak kelompok yang berupaya mendapatkan izin berunjuk rasa pada hari pelantikan Trump.

Sementara itu, dalam pelantikannya sebagai orang nomor satu di AS Trump menggunakan kendaraan jenis Cadilac kerangka truk yang didesain khusus dengan tingkat keamanan tinggi. Sangat aman karena tebal pintunya 20 sentimeter.

Sebaliknya beberapa negara menatap pelantikan Donald Trump sebagai hal mengerikan. Dan berikut tujuh di antara beberapa negara yang was-wasa melihat pelantikan Trump, dikutip dari laman Time.

Sejumlah negara harap-harap cemas

Selain rakyat AS, pelantikan Donald Trump juga mengundang kecemasan dan kekhawatiran bagi sejumlah negara. Di antaranya Meksiko, negara tetanga AS yang sejak awal kampanye Trump selalu berkata buruk tentang negara ini. Mulai dari akan membangun tembok di sepanjang perbatasan, mendeportasikan jutaan orang dan akan menerapkan kebijakan perdagangan yang keras.

Retorika bermusuhan Trump kepada Meksiko bakal menaikkan popularitas calon presiden kelompok kiri Andres Manuel Lopez Obrador pada Pemilu mendatang. Jika dia terpilih menjadi presiden maka akan semakin hebatlah percekcokan AS dan Meksiko.

Jepang, Trump dan PM Shinzo Abe punya kepentingan sama, keduanya menginginkan Jepang memperkuat postur militernya agar bertanggung jawab atas keamanan nasional. Seperti Trump, Abe menginginkan hubungan yang lebih baik dengan Rusia sebagai sumber energi yang luar biasa bagi Jepang. Abe ingin bersepakat dengan Moskow demi mendapat lagi kepulauan yang diduduki Uni Soviet pasca Perang Dunia II. Tapi jika Trump terus memusuhi Cina, Jepang akan terjepit di antara kedua mitra perdagangan terbesarnya itu. Hubungan yang juga tidak mulus dengan Korea Selatan dan akan membuat Jepang terisolasi.

Berikutnya Latvia, Estonia dan Lithuania. ketiga negara Baltik ini menyaksikan pelantikan Trump dengan gelisah. Karena salah satu alasan Vladimir Putin mengintervensi Ukraina adalah adanya perasaan hak untuk melindungi etnis Rusia di Ukraina. Latvia dan Estonia memiliki persentase penduduk etnis Rusia yang lebih besar ketimbang Ukraina. Tapi tidak seperti Ukraina, negara-negara Baltik adalah anggota NATO. Hanya saja upaya Trump berbaik-baikan dengan Rusia dan menyebut NATO sudah usang, membuat Latvia dan Estonia khawatir. Sebagai antisipasi Latvia dan Estonia berencana membentengi perbatasan dengan Rusia, Lithuania akan memagari perbatasannya dengan Provinsi Kaliningrad, Rusia. Kawat berduri memang tidak akan mencegah invasi, namun setidaknya sedikit menyulitkan manuver masuk tentara Rusia.

Lalu Jerman, Kanselir Angela Merkel menyambut Trump dengan tawaran kerja sama berdasar nilai bersama mengenai demokrasi, kebebasan, menghormati aturan main dan martabat semua orang dengan tidak memandang latar belakang, warna kulit, keyakinan, gender, orientasi seksual atau pandangan politik. Merkel akan bekerja sama dengan AS jika Trump membuang jauh-jauh janji kampanye dalam memperlakukan kamu muslim dan Meksiko. Merkel adalah orang yang memimpin Eropa mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan menjatuhkan penerapan sanksi kepada Rusia. Kedekatan Trump dengan Putin bakal membuat Merkel mati langkah terhadap Rusia.

Di Prancis, keresahan bahkan sudah jauh masuk ke kehidupan sehari-hari. Kemenangan Trump telah menginspirasi kaum ultra kanan Front Nasional pada Pemilu yang akan berlangsung tahun ini. Pemimpinnya, Marine Le Pen, dia sudah berjanji jika terpilih menjadi presiden akan mengeluarkan Prancis dari Uni Eropa. Lawan-lawan Le Pen khawatir Trump mendukung tokoh ultra kanan ini. Mereka juga khawatir Trump bakal tutup mata jika Rusia mengintervensi Pemilu lewat siber demi menaikkan popularitas kaum ultra kanan.

Bagaimana dengan Indonesia? Sama halnya dengan negara-negara lain Indonesia juga patut khawatir. Jika salah menilai arah kebijakan Trump ke depan, Indonesia bisa masuk dalam situasi tidak menguntungkan. AS sebagai negara kuat, dan diperkirakan akan lebih memperkuat dirinya di bawah kepemimpinan Trump, tentu saja akan sangat berperan di Kawasan, termasuk di Asia dimana Indonesia ada di dalamnya. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here