Harga Beras Naik Karena Ulah Permainan Kartel  

0
155
Pekerja melakukan bongkar muat beras bulog untuk di distribusikan ke wilayah Kediri di Gudang Bulog Banyakan Sub Divre V Kediri, Jawa Timur, Senin (13/1). Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur menargetkan pengadaan beras di wilayah Jawa Timur pada tahun ini mencapai 1,1 juta ton, naik dibanding realisasi pengadaan pada tahun lalu sebesar 1,012 juta ton. ANTARA

Nusantara.news, Jakarta – Persoalan lama kembali terulang, seperti penyakit menahun. Harga beras meroket menjelang masa panen. Adakah ini gejala murni, alamiah, atau ada tangan-tangan besar yang memainkannya?

Kalau bicara harga beras tentu bicara nasib petani. Kalau pada masa panen harga beras naik tinggi, tentu yang diuntungkan petani karena harga jualnya bagus. Tapi cilakanya siklus kenaikan harga beras selalu merugikan petani.

Pada saat satu dua bulan jelang musim panen, biasanya harga beras naik. Kemudian ada treatment pemerintah, hingga masuk masa panen harga tersungkur serendah-rendahnya. Petani pun gigit jari.

Merangkak naik

Jika diperhatikan, sejak November 2017 harga beras mulai merangkak naik. Padahal stok beras Bulog sangat cukup untuk mengganjal perut Indonesia hingga masa puncak panen Maret-April 2018, yakni sebanyak 930.000 ton. Adapun hasil panen sepanjang Januari 2018 diperkirakan mencapai 300.000 ton.

Sedangkan periode panen raya Maret-April 2018 diperkirakan hasilnya mencapai 4,9 ton. Lantas mengapa harga beras tetap naik?

Harga beras awal 2017 tercatat stabil di level Rp9.500 dan berfluktuasi namun stabil hingga November 2017. Namun sejak November 2017 secara perlahan namun pasti terus naik Rp300 hingga Rp500 per pekan. Hari ini, terutama beras jenis medium, sudah bertengger di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.500. Bahkan harga beras premium sudah di kisaran Rp13.000.

Tentu saja kenaikan harga itu telah jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) di level Rp9.450. HET tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 57/2017, untuk harga beras medium untuk wilayah Jawa, Lampung dan Sumatera Selatan.

Guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, berpendapat kenaikan harga beras mengikuti peningkatan harga gabah di sejumlah daerah. “Kami ikut memantau dari jaringan di 84 kabupaten/kota, kisaran harga gabah kering panen mencapai Rp5.200-Rp6.000.”

Kalau harga gabah itu dikonversi ke kering giling harganya mencapai Rp7.000. Itu naik sekitar 25%, yang kemudian menyebabkan harga beras jenis medium ada yang mencapai Rp11.000 di Pasar Induk Cipinang. Di pasaran pasti lebih tinggi lagi, itu rekor nasional baru.

Dwi memperkirakan gejolak harga beras akan terjadi sampai awal Maret 2018, dan meminta agar pemerintah segera mengantisipasinya.

“Ini jadi warning bersama perlu tindakan yang intensif itu untuk meredam, kalau tidak dilakukan dikhawatirkan akan terjadi panic buying sehingga menyebabkan harga lebih tinggu, dan kondisi ini diperkirakan akan terjadi sampai Februari atau Maret,” jelas Dwi.

Dia menyebutkan musim panen dimulai pada akhir Januari atau Februari dan membutuhkan proses sebelum beras mencapai pasar kemudian ke konsumen. Jadi yang perlu dilakukan adalah menambah stok atau menambah paling tidak untuk sekitar Februari, ya sumbernya hanya dua dari dalam negeri atau impor.

Itu sebabnya Wapres Jusuf Kalla saat memimpin rapat kabinet terbatas kemarin mengancam jika dalam satu dua hari ke depan harga beras tetap naik, maka pemerintah terpaksa mengimpor beras untuk menstabilkan harga.

Dia juga memperkirakan kurangnya pasokan beras ke pasar akibat menurunnya produksi di tahun lalu. Adapun penurunan produksi disebabkan berbagai gangguan hama antara lain wereng batang coklat.

Namun, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto, memastikan produksi beras tidak berkurang dan stok di Bulog hampir 1 juta ton, cukup sampai panen raya yang dimulai pada Februari mendatang, sehingga pemerintah seharusnya tidak akan melakukan impor.

“Beras yang ada di beras bulog itu cukup untuk lebih dari tiga bulan. Artinya sebentar lagi kan panen raya sehingga tak ada argumen sedikitpun harga beras naik,” tegasnya.

Gatot menyebutkan kenaikan harga beras bervariasi di sejumlah daerah dan tidak terlalu melonjak. Dia menyatakan kenaikan harga beras juga diakibatkan publikasi yang salah sehingga menyebabkan dapat kepanikan konsumen.

“Sesungguhnya publikasilah yang menyebabkan adanya over hitting terhadap harga pangan khususnya beras, itu yang menyebabkan orang berburu berbondong-bondong,” jelas Gatot.

Meski begitu Kementan akan meminta bantuan Satgas Pangan Polri untuk menyelidiki kemungkinan adanya spekulan yang menimbun beras. Sebelumnya, kementerian perdagangan telah melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga sejak Oktober 2017 lalu, namun harga beras tetap naik.

Permainan kartel

Jika melihat pola kenaikan harga beras, mirip-mirip dengan kenaikan harga beras pada Februari 2015. Saat itu para penguasa beras swasta, alias kartel, menyembunyikan beras menjelang panen. Sehingga barang di pasar menghilang, lalu harga merangkak naik.

Ketika harga sudah naik, lalu barang itu dilepas ke pasar, sehingga para kartel mendapat untung. Setelah pasar diguyur beras, harga kembali turun, bahkan melampaui harga awal hingga panen.

Pada masa panen petani dengan sangat terpaksa menjual produksi berasnya dengan harga yang rendah. Kembali para kartel dapat menumpuk gudang berasnya dengan hasil pembelian yang murah. Begitu seterusnya para kartel memainkan harga beras, hingga ketika harga naik mereka untung, dan ketika harga turun, untung lagi. Para kartel selalu mendapatkan keuntungan ganda.

Pemain kartel tersebut, biasa bergeriliya di seputaran pasar induk Cipinang, di lokasi-lokasi kantung panen padi di seluruh Indonesia.

Itu sebabnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan saat ini Satgas Pangan tengah mengecek kembali stok beras nasional, suplai sampai harga. Langkah ini untuk memastikan apa penyebab kenaikan harga beras belakangan ini.

“Satgas Pangan mengecek suplai, apakah cukup betul karena ada informasi suplai cukup karena musim panen, stok juga cukup. Tapi ada pendapat juga suplai terganggu karena cuaca sekarang banyak hujan ini. Nah sekarang ini tahapnya koordinasi untuk melihat data apakah benar-benar cukup atau tidak,” kata Tito.

Pengecekan stok beras medium ini melibatkan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Bulog. Tito menjelaskan pengecekan stok beras dilakukan hingga ke daerah-daerah. Satgas Pangan mengecek sampai ke daerah, apakah suplai bermasalah atau tidak atau distribusinya.

Kapolri menerangkan ada dua hal yang menyebabkan harga beras naik yaitu stok untuk disuplai ke masyarakatnya kurang dan proses distribusinya terganggu. Kedua hal itulah yang akan diselidiki Satgas Pangan.

“Harga naik itu kan bisa karena suplainya memang kurang, barang enggak ada, otomatis pasti harga naik. Atau suplai cukup tapi distribusi ada yang mainkan. Sampai saat ini kita sama-sama mengecek dengan Mentan Bulog dan Perdagangan, apakah ini faktor suplai atau distribusi,” jelas Tito.

Untuk mengatasi kenaikan harga beras ini, Tito menuturkan langkah utama yang dilakukan Satgas Pangan adalah dengan mengadakan Operasi Pasar.

“Tapi langkah utama untuk menekan harga adalah Operasi Pasar. Operasi pasar sedang dikerjakan,” tutur Tito.

Bahkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa pemerintah tidak segan menindak tegas pengusaha beras yang menimbun pasokan. Sebab, hal itu menjadi salah satu pemicu lonjakan harga beras.

“Sekarang apapun ceritanya, kita lebih baik penetrasi pasar dulu daripada kita mengusut kemudian meneliti (penyebab kenaikan harga), sudah kepanjangan. Kita penetrasi saja, kita masukin (gelontorkan beras) sama kita bilang anda mesti jualan. Kalau sampai enggak jualan awas,” katanya kemarin.

Enggar memastikan hal ini tidak sekadar menakut-nakuti. Jika kedapatan pedagang sengaja menyimpan beras untuk keuntungan pribadi, maka tidak akan ditoleransi.

Tinggal sekarang bagaimana pemerintah lewat Satgas Pangannya, Bulog, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan serta Polri, dapat bersinergi guna menyudahi permainan para spekulan yang menciptakan kartel harga beras. Tindakan tegas diperlukan, untuk kemudian memberi efek jeras, hingga kurungan buat pelaku yang menciptakan instabilitas pangan.

Ayo, selamatkan beras kita.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here