Harga Cabai Lebih Pedas dari Rasanya

0
182

Nusantara.news, Surabaya – Dua pekan terakhir harga cabai rawit di berbagai daerah  di Jawa Timur terus melejit. Di sejumlah pasar di Surabaya, Sidoarjo dan daerah lainnya di Jawa Timur, harganya tembus hingga Rp90 ribu per kilogram. Masyarakat pun menjerit. Meski begitu kelengkapan bumbu masak pembangkit selera ini sulit ditinggalkan, Cabai terlanjur menjadi kebutuhan sehari-hari..

“Meskipun harganya sampai seratus ribu semua orang pasti membeli, karena memang kebutuhan dapur yang tidak bisa ditinggalkan,” kata Anik warga Sidoarjo, Sabtu 7 Januari 2017.

Meski mengaku tidak memahami kenapa di setiap ‎akhir tahun atau menjelang hari-hari besar kebutuhan dapur harganya terus melambung, ibu dari dua anak itu berharap pemerintah bisa mengatasinya. Ia berharap hal serupa tidak terus terulang setiap tahun.

“Semua pasti tahu, hampir setiap menjelang hari besar dan akhir tahun kita dipusingkan dengan ‎kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan dapur. Kenapa ini terus terjadi? Bagaimana peran pemerintah?” keluhnya dengan ketus.

‎Pedagang juga mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai pedagang kecil mereka mengaku tak punya peran apalagi kekuatan mengendalikan harga. Untung Rp400 – Rp500 kg, menurut mereka sudah lumayan untuk menutupi pengeluaran ongkos kirim dari pengepul hingga sampai di lapak atau kios tempatnya berjualan.

“Ala Mas, permainan harga seperti ini kan terus terjadi hampir setiap tahun. Sebagai pedagang kecil, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Memang pusing, karena harganya naik turun, hari ini Rp80 ribu per kilogram,” kata Andi pedagang sayuran di Sidoarjo.

Mandiri, Tanaman Hidroponik Meski Pemerintah tak Melihat

Masih soal kenaikan harga cabe‎, Kuswanto warga Lamongan yang bekerja di Surabaya menuturkan, keluarganya mulai diajari dan diajak menuju hidup mandiri. Di antaranya adalah dengan menanam cabe, tomat serta sejumlah jenis sayuran lainnya dengan metode hidroponik di pekarangan. Dia menyebut hasilnya lumayan bisa membantu mencukupi pemenuhan kebutuhan dapur, serta bisa untuk menghemat keuangan.

“Kalau saya sudah tidak ambil pusing, menanam sendiri cabe, tomat dan sayuran lainnya. Saya beli benih cabe dan lainnya, saya tanam dengan metode Hidroponik, hasilnya untuk kebutuhan dapur, kan tidak memerlukan lahan yang luas,” katanya.

Lelaki itu kemudian menyebut, kepekaan pemerintah kurang dan dinilai belum serius mewujudkan kepedulian terhadap rakyatnya. Seharusnya, lanjutnya, pemerintah memberikan contoh melalui dinas terkait untuk memberikan bantuan benih cabe, tomat atau lainnya untuk di tanam di pekarangan rumah.

“Dengan cara memberikan benih gratis itu kan baik. Tetapi selama ini hal seperti itu tidak pernah dilakukan oleh pemerintah, terus apa kerjanya pemerintah. Padahal setiap tahun mereka tahu terjadi lonjakan harga, dan rakyat yang selalu menjadi korban. Rakyat sampai sekarang ini banyak yang masih sengsara, lho. Pemerintah jangan enak-enakan. Sebetulnya untuk pemenuhan itu, pemerintah pasti punya anggaran, dikemanakan anggaran itu? Katanya pro rakyat,” urai lelaki bertubuh gempal tersebut, dengan mimik serius.

Menanggapi soal terus terulangnya problem kenaikan harga dan kelangkaan bahan kebutuhan pangan, termasuk cabai dan sayur-mayur, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur Yusuf Husni angkat bicara.

Ia menyatakan, jika pemerintah tidak serius menangkap fenomena ini dan tidak cermat melakukan langkah-langkah penanggulangannya, hal serupa akan terus berulang. “Setiap tahun ini terus saja terjadi dan pemerintah belum terlihat melakukan sesuatu yang membawa perubahan. Rakyat yang selalu menjadi korban. Ini artinya goblok,” tegas Yusuf Husni.

Lelaki asal Surabaya yang akrap disapa Cak Usup itu mengatakan agar pekerjaan rumah soal kenaikan harga kebutuhan bahan pangan yang selalu terjadi itu perlu dilakukan langkah yang tuntas dari pemerintah. “Pemerintah itu harusnya punya data riil. Selain mengetahui luas lahan, berapa jumlah petani yang menanam komoditas tertentu, itu harus dimiliki dan diterapkan dengan benar. Karena pemerintah itu bertanggung jawab terhadap terwujudnya kesejahteraan rakyatnya,” kata Yusuf Husni.

Ia menegaskan, pemerintah juga harus melakukan upaya peningkatan kualitas pembinaan untuk kesejahteraan rakyatnya atau petani.

“Terus ingat, jangan sampai ada penyesatan lho. Maksudnya begini, pemerintah sudah tahu ada kelangkaan atau komoditas yang kurang, cabe misalnya. Kemudian mengarahkan petani untuk menanam komoditas sejenis, padahal sejumlah daerah lain kekurangan. Dan, itu menjadi bagian dari skenario, melakukan penggelontoran komoditas tertentu yang itu belinya dari kelompok-kelompok ‎yang memiliki otak-otak kriminal. Dan cara itu menguntungkan mereka dan kelompoknya, pelaku-pelaku kriminal ekonomi,” tegasnya.

Masih menurut Cak Ucup banyak hal yang perlu dilakukan perbaikan oleh pemerintah. Yakni merombak semua aturan yang tidak pro rakyat.  “Misalnya saja untuk distribusi ‎pupuk harus dirombak, langsung saja ke petani. Karena selama ini program distribusi pupuk itu tidak sampai ke petani. Saat mereka (petani) butuh pupuk, tiba-tiba terjadi kelangkaan atau pupuk bahkan tidak ada. Ini kan merugikan, tidak pro rakyat,” tegasnya.

Sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan. Tidak hanya untuk ketahanan pangan tetapi mewujudkan kedaulatan pangan.

Cak Ucup mengibaratkan, dalam pertandingan tinju jika terus bertahan sementara gempuran pukulan terus terjadi bertubi-tubi, lama kelamaan pertahanan petinju tersebut pasti jebol.

“Jadi jelas ya, ketahanan pangan saja tidak cukup. Tetapi harus berkerja keras untuk menuju ketahanan pangan. Tentu semua itu harus diiringi dengan pembenahan dan penyediaan sarana dan prasarana penunjang termasuk infrastruktur dan lainnya,” tegasnya.

Sementara, siang tadi Sabtu 7 Januari 2017, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Surabaya melakukan peninjauan ke Pasar Wonokromo dipimpin Kepala KPPU Aru Armando. Didepan Aru, Hermin salah seorang pedagang mengatakan kenaikan harga cabai rawit mencapai Rp90 ribu per kilogram. Mutu cabai juga tidak sebaik tahun lalu, banyak bercampur cabe muda dan juga banyak yang telah membusuk.

“Tahun baru kemarin tanggal 1 Januari sampai Rp100 ribu per kilohgram. Sebelumnya , diwaktu normal harganya Rp30 ribu per kilo. Meski harga yang mahal seperti sekarang ini, banyak bercampur cabai hijau dan juga ada yang busuk,” kata wanita tersebut.

Ke harga cabai rawit ini juga diikuti naiknya harga sayur mayur. Kubis misalnya, harga normal biasanya Rp5 ribu per kilogram menjadi Rp18 ribu, Kentang jika harga normal Rp10 ribu saat ini menjadi Rp14 ribu.

Pedagang lainnya berharap pemerintah segera turun tangan, agar harga cabai cepat stabil. Karena jika harga cabai tetap tinggi pedagang mengaku kesulitan mencari untung termasuk ketersedian tidak bisa banyak.

Kepala KPPU Surabaya, Aru setelah berbincang dengan sejumlah pedagang di Pasar Wonokromo, mengatakan tidak ada indikasi kartel terkait tingginya harga cabe rawit saat ini. Dia mengaku tidak yakin mahalnya harga cabe akibat permainan tengkulak.

Malahan, dari hasil sidak yang dilakukan pihaknya mendapati banyak pedagang melakukan pengoplosan cabe untuk menghindari rugi. Itu dilakukan dengan mencampur cabai segar dan cabai busuk dengan prosentase lebih kecil.

Praktek oplosan tersebut dilakukan oleh pedagang hampir sejak tiga minggu lalu. Alasannya, tidak mau merugi akibat tingginya harga cabe akibat pengaruh rantai distribusi.

Aru menambahkan, kenaikan harga cabai merata untuk semua jenis. Kenaikan harga tertinggi terjadi pada cabai rawit yang mencapai Rp90 ribu per kilogram, cabai besar Rp24 ribu dan cabe keriting Rp50 ribu per kilogram. Sementara, untuk pasokan diperkirakan akan bertambah, karena dalam waktu dekat di Kediri akan ada panen raya cabai dan itu diharapkan dapat segera menstabilkan harga.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here