Harga Telur Jatuh, Karena Telur Produksi Perusahaan Pakan

0
390

Nusantara.news, Blitar – Saat ini di pasar Blitar dan sekitarnya beredar telur seharga Rp10.000/kg yang ikut menurunkan harga pasar. Diduga telur-telur itu berasal dari salah satu perusahaan pakan. Lantas apa tujuan perusahaan pakan menyaingi peternak yang notabene konsumennya?

Awal bulan ini dalam Laporannya BPS menyatakan bahwa inflasi tertahan oleh penurunan harga pangan dalam hal ini telur. Sehingga dampak kenaikkan cabai tidak menyebabkan infasi terlalu tinggi.

Blitar sebagai sentra utama produsen telur, amat terpukul dengan penurunan harga ini. Harga untuk bulan Maret di Blitar pada kisaran Rp 13.500/kg. Ini tentunya tidak sebanding dengan harga pakan dan pemeliharaan. “Kalau harga segitu, ya, nggak sebanding dengan biaya pemeliharaan dan biaya pakan” ujar Drh. Nanang Pribadi, salah satu dokter hewan yang sedang melalukan observasi ke Blitar.

Dengan harga pakan saat ini di sekitaran Rp.6000/kg, sangat berat bagi petani.” Memang ada hitungan njlimet untuk membandingkan harga pakan dengan harga jual telur pada peternak, beberapa dokter hewan memiliki itung gampang. Harga jual = harga pakan x 3,24” terangnya

Jadi, “kalau harga pakan Rp.6.000/kg, idelanya harga jual telur di peternak sekitar Rp 19.400/kg. Artinya peternak rugi Rp 5400,” kata alumni Fakultas kedokteran Hewan Unair Surabaya.

Lebih jauh pria kelahiran Lamongan ini menyatakan bahwa para peternak di Blitar mengaku pada harga normalnya Rp 16.000/kg, sebab pakannya banyak dicampur dengan bahan lain, serta biaya mereka sebagai buruh tidak dihitung. “Mereka benar-benar masih tradisional dalam menghitung operasional kerja. Ini sebetulnya fokus Kementrian Koperasi dan UMKM” tambahnya.

Salah seorang peternak ayam Warsito  yang tinggal di Desa Sumberejo, Kecamatan Kademangan, membenarkan jika harga telur tidak sebanding dengan harga pakan. Bahkan harga ayam afkiran di pasaran pun turut hancur. “Kami hanya bisa menduga saja, ini akibat adanya monopoli yang dilakukan oleh perusahaan besar” ujarnya.

Beberapa perusahaan besar  yang selama ini dikenal sebagai perusahaan yang menyediakan pakan serta bibit ayam petelur, beberapa bulan ini mereka melepas telur dan ayam afkiran ke pasar dengan harga murah. “Telur mereka jual  Rp 10.000/kg. Kami tidak mengerti apa motivasinya” jelasnya.

Untuk menyiasati anjloknya harga dan meminimalkan kerugian para peternak terpaksa membuat pakan sendiri, dengan tujuan agar usaha mereka tetap bertahan. Mereka tidak mampu lagi untuk menutupi biaya produksi, dengan anjloknya harga telur di bawah standar ini. “Setiap hari, kami merugi hingga Rp 1,5 juta” terangnya

Sementara itu peternak ayam lain mengaku, hasil dari menjual telur dalam sehari hanya Rp 450.000 untuk seribu ekor ayam. Padahal, untuk biaya pakan dalam sehari mencapai Rp 600.000. Jadi setiap seribu ekor, peternak menderita kerugian Rp 150.000.

Harga telur ayam anjlok menjadi Rp 13.500 dari harga normal yaitu antara Rp 16.000-Rp 17.000/kg. Kondisi ini telah berjalan lebih dari 3 bulan terakhir, akibat masuknya telur dari perusahaan besar yang seharusnya untuk ditetaskan, namun  dilempar ke pasaran, dengan harga hanya Rp 10 ribu per kilogramnya.

Keresahan peternak ini juga membuat bingung Bupati Blitar Riyanto. Menghadapi masalah ini beberapa waktu lalu bertempat di pendopo Sasana Adhi Praja, Blitar, mengadakan doa bersama peternak ayam se-Blitar Raya digelar Selasa ( 7/3/17 ).

Menurutnya harga telur yang turun akibat faktor cuaca yang tak menentu. Juga berakibat menurunnya produktivitas produk ternak. “Dengan diadakan doa bersama ini, kita semua berharap agar para peternak khususnya peternak ayam petelur dapat kembali menjalankan aktivitasnya, tanpa harus mengalami kerugian yang berlarut,” kata Bupati Riyanto

Di Blitar sendiri ada 5000 peternak, dengan 1000  peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN). jika hal itu dialami secara terus menerus, maka banyak peternak gulung tikar.

Acara yang juga dihadiri muspida se wilayah Blitar ini berlangsung ramai, peternak diberi kebebasan mengeluarkan unek-uneknya. Seakan menjadi ajang curhat peternak segala permasalahn diungkapkan. Walaupun begitu mereka berharap segala kebutuhan peternak mulai dari pakan, obat – obatan hingga harga telur bisa kembali ke harga semula. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here