Hari Bumi, KBS Melabelkan Tujuh Pohon Tua dan Langka

0
77
Petugas KBS memberi label pada salah satu pohon langka.

Nusantara.news,  Surabaya – Menyambut peringatan Hari Bumi Sedunia alias Earth Day, Kebun Binatang Surabaya (KBS) melabelkan tujuh pohon tua dan langka yang ada di area KBS, sebagai kampanye peduli pelestarian alam serta lingkungan sekitarnya.

Humas Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS, Laily Widya Arishandi mengatakan pelabelan tujuh pohon tua dan langka itu merupakan cara pemuliaan pohon. Tujuh pohon tua dan langka dipilih karena memiliki sifat-sifat tertentu atau khas untuk dikembangkan.

“Tujuh pohon itu adalah Asam Jawa (Tamarindus indica), Gandul atau Kunto Bimo (Kigelia africana), Mahoni (Swietenia mahagoni), Kenari (Canarium vulgare), Nyamplung (Calophyllum inophyllum),  Sono Keling (Dalbergia latifolia) dan Palem Raja (Roystonea regia),” tutur Laily Widya, Sabtu (22/4/2017).

Selain itu, lanjutnya pelabelan tujuh pohon untuk mengenalkan jika KBS juga memiliki koleksi tumbuhan yang hingga saat ini jumlahnya mencapai 206 jenis, baik dari jenis Tanaman Penutup Tanah, Tanaman Perdu, Tanaman Pelindung, Semak dan Palem, serta Tanaman Langka.

Sementara itu, Staf Litbang dan Konservasi PDTS KBS, Toha Putra Z.A mengatakan tujuh pohon yang dilabelkan memiliki umur yang beragam. Pohon Kenari, Gandul dan Asam mempunyai usia lebih dari 100 tahun. Pohon Mahoni berusia lebih dari 60 tahun.

“Pohon Nyamplung dan Sono Keling memiliki usia lebih dari 50 tahun, sedangkan Pohon Palem mempunyai umur sekitar 50 tahun. Ketujuh pohon yang dilabelkan tersebut memiliki beberapa sifat yang khas,” terangnya.

Ia mengatakan,  Asam Jawa tergolong kedalam jenis pohon dan berumur panjang (menahun). Berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat.

Pohon Asam Jaya semakin langka.

Pohon Gandul, ia menambahkan memiliki warna hijau saat curah hujan terjadi sepanjang tahun, namun gugur kala musim kemarau panjang. Daun berlawanan atau memiliki alur berputar tiga, menyirip, dengan enam sampai sepuluh lembar. Panjang 20 cm dan lebar kurang lebih 6 cm.

“Pohon Mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata 5-25 m, berakar tunggang dengan batang bulat, percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Pohon mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47 persen sampai  69 persen sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air,” paparnya.

Pohon Kenari, tuturnya memiliki batang yang tegak dengan warna pegagan kelabu, kayu putih, serta teras coklat tua. Jika kulitnya diiris akan mengeluarkan getah kenari, seperti damar, mula-mula berwarna putih dan melekat, kemudian seperti lilin berwarna kuning pucat.

“Pohon Nyamplung merupakan jenis pohon bertajuk rimbun, dengan akar tunjang. Tinggi mencapai 25 meter, diameter dapat mencapai 150 cm. Batang berkayu dan bercabang mendatar, kulit batang berwarna putih kelabu, beralur mengelupas. Pada kulit kayu terdapat saluran getah berwarna kuning,” terangnya.

Sedangkan pohon Sono Keling, ia mengatakan memiliki status terancam karena pemanfaatan yang berlebihan. Sono keling terutama dimanfaatkan kayunya, yang memiliki pola-pola yang indah, ungu bercoret-coret hitam, atau hitam keunguan berbelang dengan coklat kemerahan.

Kayu tersebut biasa digunakan untuk membuat mebel, almari, serta aneka perabotan rumah berkelas tinggi. Akibat dari pemanfaatan  yang berlebihan, sehingga populasi alami jenis pohon tersebut menghadapi kepunahan.

Kemudian, paparnya Pohon Palem Raja merupakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) yaitu biji buahnya terbungkus daging. Batang tidak bercabang dan tumbuh tegak ke atas.Tumbuhan ini bisa tumbuh hingga mencapai tinggi 20 m. Palem Raja dilindungi PP No.7 Tahun 1990.

“Palem raja (Roystonea regia) banyak di temukan di pulau Jawa. ditemukan di berbagai tempat sampai dan bahkan mampu tumbuh pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut,” tandasnya.

Di sisi lain,  Sekretaris Badan Pengawas, Sila Tumiyanto berharap peringatan Hari Bumi rutin digelar di KBS sebagai apresiasi untuk menghargai bumi dan menjaga potensi atau aset berharga di bumi, khususnya Surabaya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here