Hari ini, 9 Ramadhan: 75 Tahun Lalu Indonesia Merdeka

0
389

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini, Jumat 9 Ramadhan 1439 H (25 Mei 2018), Indonesia diproklamasikan 72 tahun lalu. Itu artinya, jika dihitung berdasarkan tahun Hijriah, peristiwa tersebut berlangsung 75 tahun lalu (9 Ramadhan 1364 H – 9 Ramadhan 1439 H). Namun, jika dihitung berdasarkan hitungan tahun Masehi, Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehingga, tahun ini genap berusia 72 tahun.

Perbedaan perhitungan tersebut karena tahun masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, sedangkan tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Perbedaan ini disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah. Ringkasnya, satu tahun kalender hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender masehi.

Kembali ke momentum 9 Ramadhan lalu, bulan suci sebagai saksi dinyatakannya kemerdekaan bangsa Indonesia itu bukan sepenuhnya kebetulan. Dua hari sebelumnya (hari ketujuh bulan puasa), saat terlibat dalam perdebatan dengan golongan muda mengenai kapan waktu kemerdekaan Indonesia layak dinyatakan, Presiden Soekarno mengungkapkan bahwa dirinya telah jauh-jauh hari memilih Ramadhan sebagai hari ditabuhnya gong kemerdekaan.

“Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Soekarno seperti dikutip Ahmad Soebardjo dalam Lahirnya Republik Indonesia.

“Mengapa justru diambil tanggal 17?, mengapa tidak sekarang saja?, atau tanggal 16?,” tanya Soekarni, mewakili golongan muda.

“Bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” jelas Soekarno.

Kisah itu bermula ketika kabar bahwa Jepang menyerah tanpa syarat tersiar di Indonesia lewat Radio BBC London pada 14 Agustus 1945, tepat pada hari keenam orang-orang Islam Indonesia menjalani puasa Ramadhan. Kala itu, hari pertama Ramadan jatuh pada 9 Agustus.

Esoknya, sejumlah pemuda berkumpul di belakang areal laboratorium Bacteriologi & Higiene Genees Kundige Hooge School (kini menjadi gedung laboratorium mikrobiologi Universitas Indonesia). Hadir antara lain Chaerul Saleh, Soebadio Sastrotomo, Soekarni, dan Adam Malik. Chaerul Saleh memimpin rapat itu. Kesepakatan mereka: Suroto Kunto, Soebadio, dan Wikana akan menghampiri Soekarno dan mendesak agar  kemerdekaan Indonesia segera diumumkan.

Menurut Ahmad Soebardjo dalam autobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi (1978), sekitar pukul 11 malam, Wikana menyampaikan hasil rapat para pemuda. Terjadi perdebatan sengit di rumah Soekarno. Golongan tua menganggap para pemuda terburu nafsu dan rencana mereka rentan jadi langkah yang keliru. Soekarno yang terjepit mulanya cenderung menyetujui golongan tua.

Sementara Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (1988) menyebut, keengganan Soekarno itu justru membuat Wikana dan kawan-kawannya terus mendesak. “Apabila Bung Karno tidak mau mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah,” kata Wikana mengancam.

Soekarno membalas tak kalah sengit, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu dan sudahi saja nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu besok.”

Sebelum pagi hari kedelapan puasa Ramadan 1945, barangkali setelah makan sahur, Sukarno dan Hatta—beserta anak-istri Soekarno—dibawa para pemuda ke Rengasdengklok.

Kembali dari Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta hanya sebentar di rumah masing-masing dan harus pergi lagi ke rumah Laksamana Maeda bersama tokoh-tokoh lain seperti Sayuti Melik, Ahmad Soebardjo, Iwa Kusumasumatri, dan lain-lain. Di sanalah mereka menyusun naskah Proklamasi dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Di rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol no. 1 itulah naskah proklamasi terpendek di dunia dirancang, ditulis, diedit, dicoret, dibetulkan lagi, ditulis lagi, lalu diketik. Rancangan proklamasi hasil tulisan tangan Soekarno itu terlihat sangat tergesa-gesa dan memang penuh corat-coret untuk menampung banyak keinginan isi kepala orang yang hadir, yang sarat dengan kepentingan dan ide.

Setelah selesai dirancang dan ditulis tangan oleh Soekarno, naskah itu diketik oleh Sajuti Melik agar terlihat lebih rapi dan mudah dibacakan saat proklamasi kemerdekaan diumumkan keesokan harinya. Setelah diketik, naskah asli proklamasi kemerdekaan diremes-remes dan dibuang ke keranjang sampah. Toh, buat apa disimpan? Sudah ada yang lebih bagus hasil ketikan Sajuti Melik?

Ternyata tidak seperti itu bagi B.M. Diah yang hadir saat naskah asli itu diketik ulang. Dia kemudian memungut kembali naskah asli itu dari keranjang sampah dan mengantonginya. Karena takut akan dibuang kembali, naskah tersebut disimpan selama 49 tahun dan baru diserahkan kepada Pemerintah pada tanggal 29 Mei 1992. Dari pendiri koran Merdeka (1 Oktober 1945) inilah, keautentikan teks proklamsi itu tetap terjaga hingga kini.

Dinihari 17 Agustus 1945, jelang waktu sahur untuk hari puasa kesembilan, naskah itu kelar. “Sebelum pulang dari rumah Laksamana Maeda, Sukarno dan Hatta makan sahur dengan roti, telor, dan sardines,” tulis Suhartono Pranoto dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007). Setelah pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Laksamana Maeda, mereka pulang.

Mungkin karena kelelahan, Soekarno demam. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. “Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dr Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pilbrom chinine. Lalu ia tidur lagi.

Ia bangkit dari tempat tidurnya pada pukul 09.30. Namun, dengan ketegaran yang lebih besar daripada sakitnya, setengah jam kemudian ia menjalankan tugasnya: mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia secara bermartabat tepat pukul 10.00 pagi:

Naskah proklamasi. Atas: naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno yang ditemukan B.M. Diah di tong sampah. Bawah: Naskah Proklamasi yang telah diedit dan diketik oleh Sajuti Melik.

“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya; masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai.

Upacara Proklamasi Kemerdekaan dibuat sangat sederhana: tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, tak ada pancaragam, dan bendera Merah Putih yang dikibarkan setelah kumandang proklamasi adalah hasil jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Bahkan konon, katrol tiang bendera dibuat dari gelas bekas sahur Moh. Hatta. Tetapi itulah, kenyataan yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti setelah sekian lama Indonesia dijajah Belanda, Inggris, dan Jepang.

Tak semua tokoh dan para pemuda yang hadir saat perumusan teks proklamasi bisa mengikuti upacara proklamasi kemerdekaan. Achmad Soebardjo termasuk yang terlibat dalam Penyusunan Naskah Proklamasi yang baru rampung sekitar pukul 06.00 tepat 17 Agustus 1945. Sementara pembacaan Proklamasi pukul 10.00. Karena (mungkin) kelelahan setelah membawa Soekarno dari Rengasdengklok dan malamnya hingga pagi membahas Naskah Proklamasi, Soebardjo rupanya tidak tahan menahan kantuk. Ia memilih pulang dan tidur.

Kepada dua utusan Bung Karno yang datang tergesa-gesa untuk meminta kehadirannya, Soebardjo menyampaikan maaf tak bisa hadir dan meminta agar Upacara Proklamasi Kemerdekaan segera dimulai saja. Ia kemudian melanjutkan tidurnya yang terganggu. Pun begitu, sejumlah sejarawan mengungkapkan, ketidakhadiran Soebardjo itu sebagai bentuk keikhlasan seorang negarawan sejati.

Sebelumnya, deklarasi kemerdekaan rencananya dibacakan di lapangan Ikada (Lapangan Banteng sekarang), namun saat itu tentara Jepang masih banyak yang berjaga-jaga. Untuk menghindari kerusuhan maka dipilih di halaman belakang rumah Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here