Hari Ini DK PBB Bertemu Kofi Annan Bahas Krisis Rohingya

0
99
Kofi Anan saat tiba di Sittwe, ibukota Rakhine, pada akhir Agustus lalu untuk melihat perkembangan krisis kemanusiaan di Myanmar

Nusantara.news, Yangon – Akhir Agustus 2017 lalu, mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Anan memaparkan laporan akhir komisi penasehat yang dia pimpin atas permintaan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.

Hasilnya mengejutkan, Kofi Anan dan timnya mendesak otoritas Myanmar segera bertindak mengatasi masalah Rohingya, yang tidak memiliki kewarganegaraan dan sudah lama menghadapi diskriminasi di negara itu.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guteres lewat keterangan resminya di depan Sidang Umum PBB Rabu (13/9) bulan lalu juga sudah menyebut adanya indikasi pembersihan etnis. “Penelantaran massal muslim Rohingya setara dengan pembersihan etnis,” tudingnya.

“Ketika sepertiga populasi Rohingya harus melarikan diri dari negara itu, bisakah Anda menemukan kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya?” tandas Guteres saat didesak wartawan setujukah dia dengan pernyataan bahwa populasi Rohingya sedang mengalami pembersihan etnis

Untuk itu Guterres mendesak pemerintah Myanmar menghentikan operasi militer. “Saya meminta otoritas Myanmar menangguhkan aksi militer, mengakhiri kekerasan, menegakkan aturan hukum dan mengakui hak pulang kembali bagi mereka yang telah meninggalkan negara itu,” desak Guterres dalam sebuah konferensi pers.

Sebelum terjadinya gelombang pengungsian, tercatat sekitar 1,1 juta warga Rohingya yang tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, meskipun nenek moyangnya sudah tinggal di Rakhine sejak Abad XVII bahkan ada yang menyebut Abad XV, seudah sejak Myanmar merdeka mengalami perlakuan diskriminatif.

Nah, untuk mendengar penjelasan lebih rinci keterangan Mantan Sekjen PBB Kofi Anan, Jumat (13/10) ini Dewan Keamanan PBB menjadwalkan agenda pertemuan informal dalam pembahasan tentang kondisi muslim Rohingya dalam pandangan sejumlah diplomat.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media, lebih dari 500.000 orang, kebanyakan warga Rohingya, sejak akhir Agustus lalu melarikan diri ke Bangladesh dari operasi tentara di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang disebut PBB sebagai pembersihan etnis.

Pada akhir Agustus pula, Annan memaparkan laporan akhir komisi penasihat mengenai negara bagian Rakhine yang dia pimpin atas permintaan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu.  Sejak itu Kofi Annan berdialog dengan sejumlah diplomat yang dimintai pandangan tentang ada tidaknya krisis kemanusiaan di Myanmar.

Dalam laporannya, Kofi Anan meminta pemerintah Myanmar mengakhiri operasi militer terhadap militant Rohingya. Sejauh ini klaim pemerintah Myanmar bahwa militant Rohingya yang bergabung dalam wadah Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) adalah teroris tidak terbukti, sebab ARSA tidak memiliki jaringan dengan teroris manapun di dunia.

Prancis dan Inggris mengajukan permohonan pertemuan dengan Annan saat Dewan Keamanan menimbang langkah selanjutnya untuk mengatasi krisis itu terkait eksodus massal Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.

Laporan Kofi Anan juga didukung oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang juga menyerukan penghentian operasi militer tersebut dan meminta akses untuk memungkinkan kelompok bantuan mencapai desa-desa yang dibakar di negara bagian Rakhine.

Terlebih, satu laporan Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa pada Rabu menyebutkan bahwa operasi-operasi militer itu ditujukan untuk secara permanen mengusir minoritas muslim dari Rakhine.

Inggris sedang mengerjakan resolusi Dewan Keamanan yang akan menyeru pemulangan Rohingya, namun langkah Inggris yang pernah menjajah Myanmar terbentur oleh perundingan dengan China yang tampaknya masih mendukung operasi militer sebagai urusan dalam negeri Myanmar.

Maka dalam pertemuan tertutup Jumat (13/10) ini, semua anggota Dewan Keamanan diundang untuk hadir bersama dengan beberapa negara di kawasan serta organisasi kawasan menurut para diplomat yang dikutip kantor berita AFP. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here