Akankah Terganjal UU ITE? (Bagian 1)

Hary Tanoe Sudah Siap Tempur Jadi Calon Presiden 2019

0
295

Nusantara.news, JakartaNaas. Mungkin ini kata yang tepat menggambarkan perjalanan politik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) saat ini. Betapa tidak, ambisinya maju jadi calon presiden pada 2019 terancam gagal hanya karena persoalan sepele, yakni sebuah pesan singkat sms yang ditafsirkan bernada mengancam jaksa Yulianto yang membuatnya didakwa melanggar UU ITE  dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. Jika mitra bisnis Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini dihukum 2 tahun (24 bulan) saja, maka praktis dia harus menunggu Pilpres 2024, mengingat Pilpres 2019 digelar April 2019, yakni sekitar 22 bulan lagi. Seperti apa perlawanan yang akan dilakukan? (Pengantar Redaksi)

Siap Tempur Jadi Calon Presiden 2019

Seperti mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Hary Tanoesoedibjo juga berambisi menjadi Presiden Reepublik Indonesia. Bedanya, Ahok menempuh ambisinya melalui jalur politik seratus persen, sedang Hary Tanoe mengawalinya dari jalur bisnis.

Seperti Ahok, Hary Tanoe juga belum tenar sebelum reformasi. Namun, antara Ahok dan Hary tanoe beda kelas. Ahok kelasnya adalah kelas Bangka Belitung, sedang Hary Tanoe yang lahir di Surabaya 26 September 1965, sudah menjadi Presiden Eksekutif Grup Bhakti Investama yang bergerak di bidang jual beli perusahaan sejak 1989, ketika usianya masih sangat belia, 24 tahun.

Hary Tanoe yang memeluk agama kristen protestan, tetapi ayahnya Ahmad Tanoesoedibjo pernah menjadi Ketua Persatuan China Muslim se-Jawa Timur ini, memang jauh kalah tenar dibanding nama pengusaha etnis China lainnya seperti Antony Salim, James Riyadi, dan lain sebagainya.

Tetapi setelah reformasi, popularitas suami Liliana Tanaja Tanoesoedibjo yang mengenyam sekolah bisnis di Ottawa University, Ottawa-Kanada tahun 1989 ini, bak meteor yang jatuh dari langit dan menjadi perhatian banyak kalangan.

Tidak berlama-lama, hanya selang dua atau tiga tahun sejak reformasi, ayah lima anak (Angela Herliani Tanoesoedibjo, Valencia Herliani Tanoesoedibjo, Jessica Herliani Tanoesoedibjo, Clarissa Herliani Tanoesoedibjo, dan Warren Haryputra Tanoesoedibjo) ini melakukan merger dan akuisisi tehadap sejumlah perusahaan yang limbung menyusul krisis pasca reformasi.

Tahun  2000, Bhakti Investama mengambil alih sebagian saham Bimantara Citra milik salah satu Keluarga Cendana, Bambang Triharmodjo, dan mengubah namanya menjadi Global Mediacom setelah mayoritas saham berada dalam genggamannya.

Pengambialihan Bimantara Citra tersebut sekaligus mengawali debutnya di bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Selain menguasai RCTI, ia juga menguasai Mobile-8, Indovision, MNCTV, Global TV, Radio Trijaya FM, Harian Seputar Indonesia, Majalah Ekonomi Bisnis Trust, Tabloid Remaja Genie. Belakangan muncul lagi ,media online Okezone.

Namanya kian berkibar setelah Majalah Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, di mana Hary Tanoe menduduki peringkat ke-22 dengan total nilai kekayaan mencapai US$ 1,19 miliar.

Sukses Hary Tanoe bukan tanpa gosip. Ia bahkan pernah berperkara dengan dengan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) terkait Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).

Lepas dari gosip yang menyertai suksesnya, tahun 2011, Hary Tanoe mulai menapaki dunia politik. Hary Tanoe  bergabung dengan Partai NasDem besutan Surya Paloh dengan posisi Ketua Dewan Pakar dan juga Wakil Ketua Majelis Nasional.  Salah satu isu yang didengungkannya adalah gerakan perubahan.

Mundur dari Partai Nasdem tahun 2013, Hary Tanoe bergabung ke Partai Hanura besutan Wiranto. Posisinya kian strategis yakni sebagai Ketua Bapilu sekaligus Calon Wakil Presiden dari Hanura berpasangan dengan pendiri Partai Hanura Wiranto.

Hanya dalam tempo empat tahun sejak masuk politik, tepatnya Februari 2015, Hary Tanoe mengibarkan bendera politik sendiri yang sekarang dikenal dengan Partai Perindo.

Hary Tanoe tidak hanya bertangan dingin dalam dunia bisnis, tetapi juga politik. Perkembangan Partai Perindo sangat pesat. Hanya dalam tempo dua tahun, Perindo sudah siap mengikuti pemilu yang direncanakan digelar 2019.  “Perindo siap menghadapi Pemilu 2019. Perindo telah menyelesaikan seluruh persiapan untuk verifikasi kepengurusan Perindo hingga ke tingkat kecamatan,” kata Sekretaris Jenderal Partai Perindo Ahmad Rofiq, Jumat (23/6/2017).

Hary Tanoe sepertinya sudah merancang rencana maju menjadi presiden tahun 2019. Selain  cepat membangun jaringan Partai Perindo, dia juga banyak bergaul dengan para elite politik. Di Indonesia, dia bergaul rapat dengan Susilo Bambang Yuhdhoyono (SBY). Konon Hary Tanoe bahkan pernah diutus SBY menemui Antasari Azhar (ketika itu Ketua KPK) terkait Aulia Pohan. Pada masa Pilkada DKI Jakarta, Hary Tanoe beberapa kali tampak berada di kubu Anies – Sandi.

Hary Tanoe juga menjalin hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Popularitasnya terus meroket, terutama setelah Majalah Forbes menempatkan Hary Tanoe di halaman cover yang diberi judul “In Trump They Trust.”  Dalam tulisannya, Forbes menggambarkan Hary Tanoe dalam daftar pengusaha yang dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Forbes memasukkan dua kerjasama bisnis antara Trump dan Hary Tanoe di Lido Jawa Barat dan Bali.

Juga ada wawancara khusus Forbes proyek Lido yang besar. Saat melakukan wawancara khusus, Hary Tanoe tidak lupa membawa wartawan Forbes meninjau Kantor DPP Partai Perindo di Menteng, Jakarta Pusat. Di hadapan wartawan Forbes, Hary Tanoe menunjukkan kemampuannya berpidato di hadapan kader. Dia juga memperlihatkan kedermawanannya dengan menyerahkan 37 unit mobil ambulans bantuan DPP Perindo untuk rakyat Indonesia.

“Saya mau tunjukkan kalau Perindo bukan asal bicara, tetapi berbuat. Perjuangan masih panjang, kita harus lebih militan. Sebab keberhasilan pastilah diraih berkat kerja keras,” tandasnya. Jumat (23/6/2017). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here